<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082</id><updated>2012-02-16T17:22:35.364+08:00</updated><category term='Jurnalisme-'/><title type='text'>OQ_zone</title><subtitle type='html'>"Menggenggam Dunia dengan Kata'</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-8160882494850248010</id><published>2010-04-09T08:23:00.000+08:00</published><updated>2010-04-09T08:25:09.305+08:00</updated><title type='text'>Polisi dan Demokrasi kita.</title><content type='html'>Oleh: Oki Sukirman Dzil-Akhwaini*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi..polisi…polisi…&lt;br /&gt;Kenapa kau kejam sekali,&lt;br /&gt;Mahasiswa kau pukuli, &lt;br /&gt;Koruptor kau lindungi,&lt;br /&gt;Polisi…Polisi..polisi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan lirik lagu diatas memang sudah tidak asing lagi, setidaknya bagi para mahasiswa atau demontrans yang setiap kali aksi turun ke jalan mendengungkan lagu tersebut. Tulisan ini hanya sedikit catatan seorang demonstran yang prihatin melihat realitas penegakan hukum di Indonesia yang mana polisi sebagai aktor utamanya.  &lt;br /&gt;Tentu saja, tidak serta saya merta menyertakan ”lagu wajib” aksi tersebut. Refleksi saya, lagu tersebut sangatlah relevan dengan fenomena yang terjadi saat ini, khususnya dengan kasus perusakan Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Makasar yang dilakukan oleh oknum kepolisian atau dengan kasus yang sedang hangat saat ini yang menimpa Gayus  Tambunan, seorang pejabat eselon golongan III A Dirjen Pajak yang terseret kasus penggelapan pajak senilai 25 Miliar yang melibatkan pada petinggi Polri. Jadi mungkin memang benar penggalan lagu tersebut, mahasiswa kau pukuli, koruptor kau lindingi.&lt;br /&gt;Adalah Susno Duadji, Mantan Kabareskrim Polri yang mengungkapkan tentang adanya mafia kasus dalam tubuh kepolisian dalam kasus penggelapan pajak oleh Gayus Tambunan tersebut. Sungguh hal yang sangat ironis sekali, begitu menyakiti hati masyarakat Indonesia, satu sisi masyakarat percaya terhadap kepolisian sebagai penegak hukum, namun bersamaan dengan itu masyarakat pun dikecewakan dengan tindakan aparat kepolisian yang ”bermain mata” dengan pegawai pajak hanya untuk kepentingan pribadi semata. &lt;br /&gt;Dalam kaca mata masyarakat polisi merupakan sosok yang tegas dan  disegani sebagai garda terdepan dalam penegakan hukum, namun dengan Kasus Gayus tersebut justru semakin memperburuk citra masyarakat kepada kepolisian. Adalah bukan rahasia umum memang, jika setiap penanganan kasus atau proses perlindungan masyarakat, harus ada upeti atau suap, terlebih penegakan hukum oleh polisi seperti sebilah pisau yang tajam ”ke bawah” dan tumpul ”ke atas” (baca: tebang pilih).&lt;br /&gt;Polisi dalam demokrasi kita.&lt;br /&gt;Dalam kerangka demokrasi, posisi polisi merupakan satu keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Boleh saja ada sebagian filsuf berkata bahwa dalam demokrasi polisi tidak dibutuhkan, sebab demokrasi tidaklah perlu dikawal polisi, karena demokrasi adalah domain politik dan sebaliknya polisi berada dalam ranah profesi, yang sama sekali tidak boleh menjadi subjek permainan politik (demokrasi), di samping tidak boleh membiarkan diri/dibiarkan menjadi objek intervensi politik/demokrasi.&lt;br /&gt;Namun beberapa kasus-kasus yang terjadi yang melibatkan pihak kepolisian memang menjadi pertanyaan besar, justru disaat masyarakat bertumpu dan berharap kepada polisi dalam penegakan hukum. Kasus kriminalisasi Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit-Chandra yang melibatkan petinggi Polisi Republik Indonesia (Polri) menjadi keanomaliaan ditengah dukungan kepada Polisi untuk bergandengan dengan KPK dalam pemberantasan tindak pidana Korupsi. Maka tidak salah jika polisi menjadi sasaran sinisme dan sarkasme masyarakat, sebab kadang polisi terlambat dan berlarut-larut dalam proses penegakan hukum yang melibatkan pelanggaran pada internal kepolisian, seolah menutup diri. &lt;br /&gt;Tentu mendasar pada hal tersebut, harus adanya reformasi total pada lembaga kepolisian sebab bagaimanapun institusi kepolisian tidaklah kebal dari hukum atau bahkan menjadi hukum itu sendiri, justru polisi harus menjadi contoh suri tauladan dalam penegakan hukum. &lt;br /&gt;Jangan sampai pencapaian-pencapaian yang dilakukan oleh polisi dalam menjalankan tugasnya yang membuat decak kagum masyarakat seperti penangkapan para teroris atau razia-razia narkoba, menjadi kontradiktif dengan tindakan yang lelet pada penegakan hukum di internal kepolisian. Maka bagaimana bisa berbicara penegakan hukum yang tidak tebang pilih, serta reformasi birokrasi, manakala para penegak hukum sendiri belum bersih dan bebas dari tindakan-tindakan yang menyalahi hukum.&lt;br /&gt;Jika merujuk pada grand strategy (visi) Polri jangka panjang  2005-2025 dengan penjabaran pada 2005-2010  penekanan pada pembangunan kepercayaan masyarakat kepada Polisi, serta pada 2010-2015 menjalin kemitraan, dan  pada tahun 2015-2025 memberikan pelayanan prima, maka peristiwa-peristiwa kriminal yang melibatkan kepolisian hari ini menjadi ujian sesungguhnya bagaimana polisi bisa membuktikan kepada masyarakat akan kesungguhan hati dalam mewujudkan good governance dan good goverment yang dimulai dari lembaga kepolisian. &lt;br /&gt;Dalam hemat saya, dari grand strategy (visi) tersebut harus dibuatlah cetak biru (Blue print) sebagai pedoman dan pengayaan di masyarakat. Sebab pengayaan  dari grand strategy ini tidak saja untuk internal dari institusi polisi juga untuk lembaga penegak hukum lainnya. Tentunya dalam perumusan pengayaan grand strategy tersebut harus melibatkan seluruh komponen masyarakat/personal. Dari hasil pengayaan tersebut lembaga Polri perlu benar-benar mampu mengaktualisasikan reformasi instrumen, reformasi struktur, dan reformasi kultur Polril, yang pada akhirnya menjadi contoh untuk bisa diterapkan pada lembaga-lembaga penegak hukum lainnya. &lt;br /&gt;Memang hal ini memerlukan keberanian ditambah konsistensi. Harapannya agar sinisme dan kritik pedas masyarakat terhadap Polri bisa terjawab dengan kinerja ke depan yang meyakinkan dalam rangka menjaga dan menjamin ketertiban umum. Sedikit contoh saja yang membutuhkan pengayaan yang jelas adalah ketika penanganan dan pengamanan para demonstrasi yang dilakukan baik oleh mahasiswa ataupun masyarakat sipil lainnya, maka harus dicegah agar tidak anarki. Saat polisi bertindak keras terhadap massa unjuk rasa, sesuai prosedur tetap (protap), tidak jarang Bhayangkara Negara itu menjadi sasaran pelemparan batu, bahkan bom molotov peserta unjuk rasa yang cenderung anarki. Sayangnya, di banyak kasus serupa, polisipun terpancing melakukan tindakan serupa, melakukan pemukulan sehingga bukan menyelesaikan masalah justru memperburuk keadaan. Seharusnya setiap personel polisi mampu bersikap dan bertindak sebagaimana arahan dan ciri polisi sipil (civilian police) yang hanya mengedepankan kekerasan ketika nyawa petugas dan aparat kamtibmas dimaksud terancam.&lt;br /&gt;Selain itu dalam dalam konteks aktualisasi hak demokrasi, perlu ada pula aktulisasi posisi kepolisian Indonesia. Memang hal ini sulit dilakukan, menjadi buah simalakama. Bila polisi terlalu ”lemah”, bisa berakibat pada proses intensifikasi dan ekstensifikasi kecemasan publik, gangguan keamanan, serta ketertiban umum. Namun, jika polisi terlalu ”kuat”, yang muncul ke permukaan adalah umpatan hegemoni kekuasaan kepolisian, yang tidak sesuai dengan desain serta nalar masyarakat sipil terhadap lembaga dan personel Polri. &lt;br /&gt;Semoga saja, catatan seorang demostrans ini tidak hanya menjadi igauan belaka, mudah-mudahan ke depannya dapat terwujud Polisi sebagai kekuatan untuk dan atas nama kepentingan profesi kepolisian di satu sisi, serta kepentingan (politik) demokrasi di sisi lain.&lt;br /&gt;Wallahua’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* : Penulis adalah Pengurus Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Barat serta pengelola www.oki-sukirman.blogspot.com.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-8160882494850248010?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/8160882494850248010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=8160882494850248010' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8160882494850248010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8160882494850248010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2010/04/polisi-dan-demokrasi-kita.html' title='Polisi dan Demokrasi kita.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-2788131200241930534</id><published>2009-11-13T02:03:00.001+08:00</published><updated>2009-11-13T02:03:48.443+08:00</updated><title type='text'>Rekonstruksi Budaya Organisasi  Di Sekolah yang Dinamis</title><content type='html'>Oleh. Oki Sukirman Dzil-Akhwaini*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan dan tawuran antar siswa, ulah gank-gank motor yang sangat meresahkan masyarakat, serta kehidupan bebas para remaja yang terjerumus pada kehidupan bebas; seks bebas, penyalahgunaan obat-obatan terlarang adalah sebagain kecil dari output pendidikan yang yang sudah sangat keluar dari semangat keteraturan moral dan supremasi nilai kemanusiaan (Tilaar dalam Ma’arif, 2005:77) Inilah salah satu indikator gagalnya pendidikan di Indonesia. Dalam hemat penulis, hal ini terkait belum terciptanya budaya organisasi di sekolah yang mampu menjawab tantangan zaman saat ini.&lt;br /&gt;Bagaimanapun budaya organisasi di sekolah adalah hal yang urgen dan vital. Budaya organisasi sendiri dimaknai sebagai kerja sama yang terjalin antar elemen anggota organisasi yang memiliki unsur visi dan misi, sumber daya, dasar hukum struktur, dan anatomi yang jelas dalam rangka mencapai tujuan tertentu.&lt;br /&gt;Stephen Stolp (1994) dalam beberapa penelitiannya yang diterbitkan melalui ERIC Digest mengungkapkan bahwa budaya organisasi di sekolah berkorelasi dengan peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa serta kepuasan kerja dan produktivitas elemen-elemen sekolah&lt;br /&gt;Dalam hal ini posisi kepala sekolah sebagai  ”leader” dan ”manajer” di sekolah mempunyai peranan sangat penting. Kepala sekolah hendaknya mampu melihat lingkungan sekolahnya secara holistik. Melalui pendalaman pemahamannya tentang budaya organisasi di sekolah, maka ia akan lebih baik lagi dalam memberikan penajaman tentang nilai, keyakinan dan sikap yang penting guna meningkatkan stabilitas dan pemeliharaan lingkungan sekolahnya&lt;br /&gt;Dalam upaya membangun kembali budaya organisasi sekolah yang lebih dinamis, penulis berpedoman pada tesis Fred Luthan dan Edgar Schein (1995) yang  mengetengahkan enam karakteristik penting dalam membangun budaya organisasi yang dinamis dan efektif disekolah diantaranya; dominant values, philosophy, rules, dan organization climate.&lt;br /&gt;Pertama, Rules; budaya organisasi harus ditandai dengan adanya ketentuan dan aturan main yang mengikat seluruh anggota organisasi. Setiap sekolah memiliki ketentuan dan aturan main tertentu, baik yang bersumber dari kebijakan sekolah setempat, maupun dari pemerintah, yang mengikat seluruh warga sekolah dalam berperilaku dan bertindak dalam organisasi. Aturan umum di sekolah  ini dikemas dalam bentuk tata-tertib sekolah (school discipline), di dalamnya berisikan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh warga sekolah, sekaligus dilengkapi pula dengan ketentuan sanksi, jika melakukan pelanggaran&lt;br /&gt;. Kedua, Dominant values; jika dihubungkan dengan tantangan pendidikan Indonesia  dewasa ini  yaitu tentang pencapaian mutu pendidikan, maka budaya organisasi di sekolah seyogyanya diletakkan dalam kerangka pencapaian mutu pendidikan di sekolah. Dalam konteks Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Depdiknas, 2001), mutu pendidikan meliputi  aspek input, proses dan output. &lt;br /&gt;Pada aspek input, ditunjukkan melalui tingkat kesiapan dan ketersediaan sumber daya, perangkat lunak. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula mutu input tersebut. Kemudian aspek proses adalah ditunjukkan melalui  pengkoordinasian dan penyerasian serta pemanduan input sekolah yang dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning), mampu mendorong motivasi dan minat belajar. Dari aspek output dapat dilihat dari prestasi sekolah, khususnya prestasi siswa, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. &lt;br /&gt;Ketiga, Philosophy; Sebagaimana termaktub dalam Manajemen Peningkatan Mutu  Berbasis Sekolah, Depdiknas  (2001) mengemukakan bahwa: “pelanggan, terutama siswa harus merupakan fokus dari semua kegiatan di sekolah. Artinya, semua input dan proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik.” Oleh karenanya aspek filosofi dalam budaya organisasi sekolah adalah seperti halnya dalam dunia bisnis yang melatakan kepuasan pelanggan diatas segalanya. Maka sekolah pun seyogyanya memiliki keyakinan akan pentingnya upaya untuk memberikan kepuasan kepada para siswa. &lt;br /&gt;Keempat, Organization climate; Dalam hal ini Moh. Surya (1997) mengungkapkan bahwa Lingkungan kerja yang kondusif baik lingkungan fisik, sosial maupun psikologis dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif.” Oleh karenanya harulah diciptakan iklim organisasi berupa suasana lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan bagi setiap anggota sekolah.&lt;br /&gt;Demikian tatanan nilai yang harus dibangun dalam upaya menciptakan (dan membangun kembali) budaya organsisasi yang dinamis dan efektif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang termaktub dalam UU Nomor 2 Tahun 1989 ~yang direvisi pada tahun 2003- pada Bab dua Pasal tiga~, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak kehidupn berbangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepad Tuhan YME, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab“. &lt;br /&gt;Semoga saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* : Penulis adalah Kepala Sekolah Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Darul Amanah Ds. Jatiroke, Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang.&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-2788131200241930534?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/2788131200241930534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=2788131200241930534' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/2788131200241930534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/2788131200241930534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2009/11/rekonstruksi-budaya-organisasi-di.html' title='Rekonstruksi Budaya Organisasi  Di Sekolah yang Dinamis'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-85656338034548735</id><published>2009-11-13T02:01:00.001+08:00</published><updated>2009-11-13T02:03:10.870+08:00</updated><title type='text'>Negara dalam Cengkraman Mafioso.</title><content type='html'>Oleh. Oki Sukirman Dzil-Akhwaini*&lt;br /&gt; Diperdengarkannya percakapan (hasil sadapan Komisi Pemberantasan Korupsi) antara Anggodo, keluarga, pengacara, dan jaringannya oleh Mahkamah Konstitus telah  membuka mata rakyat Indonesia. Ada pelajaran yang sangat berharga dari rekaman tersebut dari mulai modus para mafia dalam “merampok” uang negara sampai upaya mereka membentengi diri agar terhindar dari jerat hukum.&lt;br /&gt; Bisa jadi saat ini masyarakat sudah “mati kutu” dan kehabisan akal dalam usaha sekedar mengingatkan dan menegur para aparat penegak hokum agar jangan tebang pilih. Setidaknya ini ditandai dengan dukungan oleh para Facebookers kepada Wakil Pimpinan KPK, Bibit dan Chandra yang ditahan karena diduga melakukan penyalahgunaan wewenang pada awalnya, lalu berubah menjadi kasus pemerasan dan penyuapan. Aksi protes para Facebookers telah mencapai angka 1 juta orang lebih hanya dalam beberapa minggu saja. Ini bagaikan bom waktu yang siap meledak, setidaknya jika melihat aksi-aksi proses tersebut yang belum memperlihatkan mereda bahkan berkesudahan.&lt;br /&gt;Sikap para penegak hokum yang seolah telah “tertutup” mata batinnya (jika tidak mau dikatakan sudah dibutakan mata fisiknya oleh kekuasaan) mencari-mencari pembenaran dalam rangka mempertahankan “image” dan “gengsi” lembaga bersamaan dengan oknum-oknumnya yang terlibat dalam jejaring Mafioso. &lt;br /&gt;Sikap para wakil rakyatpun setali tiga uang, Bahkan justru lebih parah. Harapan masyarakat agar wakil rakyat menjadi garda terdepan dalam menyampaikan aspirasi rakyat, belum terwujudkan. Ini terlihat dalam sikap wakil rakyat; Komisi III DPR dalam dengar pendapat dengan Polri Kamis (5/11). &lt;br /&gt;Komisi III DPR seolah melawan arus tsunami resistensi masyarakat dalam kasus penahanan Bibit_Chandra, bahkan mempertontonkan sikap yang bertolakbelakang dengan hujatan-hujatan masyarakat. Tepuk tangan yang dilakukan oleh anggota Komisi III DPR dan diikuti dengan foto bersama seusai rapat tersebut bukan saja memunculkan tanda tanya di mata publik, tetapi juga membuat hati rakyat dan nurani reformasi teriris-iris&lt;br /&gt;Lalu Komisi III DPR pun secara gamblang memberikan dukungan moral dan politik kepada kejaksaan agung dan kepolisian untuk “meneruskan” kasus tersebut. Alih-alih mengusut secara mendalam penahanan Bibit-Chandra oleh pihak kepolisian, Komisi III DPR justru merekomendasikan untuk menaikan anggaran kejaksaan. Inilah yang menjadi ironi ditengah harapan besar masyarakat untuk adanya pengusutan tuntas adanya indikasi pelemahan lembaga KPK.&lt;br /&gt;Menuju Negara Gagal.&lt;br /&gt; Jika meperhatikan tesis dikemukan oleh Francis Fukuyama, negara Indonesia sedang berada pada keadaan darurat. Dalam Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity, Fukuyama mengemukakan bahwa ”Kesejahteraan dan daya saing suatu bangsa ditentukan oleh satu karakter kultural: tingkat kepercayaan yang mensifati masyarakatnya”. Disisi lain Fukuyama juga mencoba mengurai bahwa modal sosial yang direpresentasikan dengan kepercayaan adalah sama pentingnya dengan modal fisik (Ancok, 2003).&lt;br /&gt; Disinilah konteks kekhawatiran kita dalam kasus penahanan Bibit-Chandra pandangan Fukuyama sangat relevan sekali. Jika saja korupsi telah menjadi kejahatan yang terstruktur rapi, sistematis dan melibatkan para penegak hukum itu sendiri, maka secara perlahan telah mencerabut ”akar” kepercayaan rakyat kepada penegak hukum. &lt;br /&gt;Bagaimanapun kepercayaan adalah modal utama yang dibutuhkan oleh pemerintah dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya, lebih-lebih  oleh para aparat penegak hukum sebagai penegak hukum, penjaga keamanan, dan ketertiban masyarakat. Oleh karenanya, kewenangan mutlak dalam fungsi preventif dan represif seyogianya tidak merepresentasikan kekuasaan dan arogansi.&lt;br /&gt;Jika saja krisis kepercayaan kepada lembaga penegak hukum terus bersemi didada masyarakat indonesia, maka hal ini merupakan ekses yang buruk dalam pelaksanaan tertib hukum. Bisa jadi masyarakat sudah tidak mau patuh lagi pada hukum dan menganggap semua para penegak hukum berperilaku (sama) buruk(nya). Dan negara Indonesia bukan saja dalam keadaan darurat namun akan terjerumus kepada label ”negara gagal” yang mana hukum hanya menjadi angan belaka, dan rakyat berjalan dengan kemauan sendiri-sendirinya dengan hukum masing-masing.&lt;br /&gt;Memutus mata rantai jejaring mafioso.&lt;br /&gt;Dalam hemat penulis, ada bebarapa peranan penting yang harus diupayakan dalam rangka penegakan hukum, pemberantasan korupsi dan tentunya dalam rangka memberangus mafia hukum (mafioso).&lt;br /&gt;Pertama, justru yang menjadi penopang terkuat lahirnya mafia hukum adalah dari aparat penegak hukum itu senditi. Upaya pemberantasan mafia hukum haruslah dimulai dalam institusi penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan. Kita mendapatkan pelajaran berharga dalam kasus isi rekaman sadapan KPK, bahwa ada pihak-pihak yang terlibat dalam kasus tersebut yang justru merupakan bagian dari penegak hukum itu sendiri. Disinilah kita bisa menelisik eksistensi mafia pada dua institusi tersebut dan mengindikasikan bahwa kedua institusi tersebut adalah pintu masuk dalam membongkar sejumlah petinggi penegak hukum. Setidaknya ada istilah petinggi ”truno” dalam rekaman itu—menunjukkan keterlibatan aparat hukum dalam konspirasi penyuapan dan korupsi—harus bisa diidentifikasi dan diambil tindakan dan sanksi tegas. Bukan sekedar mengundurkan diri dari jabatan, namun juga setelah mengundurkan diri harus disertai dengan pengusutan secara komfrehensif.&lt;br /&gt;Kedua, Pengawasan kasus-kasus yang ditangani di pengadilan. Perlu disadari bahwa pengadilan selama ini menjadi mata rantai tak terpisahkan bekerjanya mafioso dan makelar kasus hukum yang begitu mudah memperdagangkan putusan hakim. Dalam upaya reformasi hukum ini amat tak mungkin dilakukan tanpa membuka ketertutupan pengadilan, karena keterbukaan menjadi sarana efektif untuk mengontrol dan melawan ketidakjujuran. &lt;br /&gt;Pembersihan mafia hukum di Mahkamah Agung adalah hal yang mendasar karena merupakan pucuk institusi peradilan dan dilanjutkan di jajaran lebih rendah. Ini berarti Mahkamah Agung harus bersih, berintegritas, dan jangan dipasok hakim-hakim yang terkontaminasi suap, korupsi, dan aneka putusan tak berkualitas bahkan terninabobokan oleh materi.&lt;br /&gt;Ketiga, selain adanya ”reformasi” dalam aspek perangkat keras (hardware) berupa lembaga penegak hukum yang disebutkan diatas, berikutnya adalah adanya penguatan perangkat lunak (software) berupa payung hukum yang kuat dan tegas. Hal yang sangat urgen adanya pemberlakuajn sampai hukuman mati bagi para mafia hukum dan koruptor untuk menimbulkan ketakutan dan kejeraan, jika saja hukum-hukum yang ada saat ini, belum bisa berbicara banyak dalam memberantas virus korupsi yang semakin membinasa dan menjadi penyakit akut dalam tubuh hukum negeri ini.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dalam pandangan penulis diperlukan mekanisme khusus di luar kebiasaan dengan terus memperkuat peran dan fungsi lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan melawan segala bentuk pelemahan dan perlucutan wewenang KPK melalui revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi karena justru menghilangkan hakikat menempatkan situasi luar biasa untuk memberantas korupsi.&lt;br /&gt;Tanpa harus memancing ikan diair keruh, dengan saling menghujat satu sama lain. lebih dari itu, yang dibutuhkan negeri ini adanya persatuan Semangat untuk melakukan reformasi hukum harus menjadi agenda semua pihak. Bukan saja menjadi program SBY yang mencanangkan pemberantasan mafia hukum (Ganyang Mafia) sebagai bagian agenda 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2. Upaya bersatu padu, saling bahu membahu dalam melawan korupsi adalah hal yang mutlak. Sebab musuh bersama negeri ini sudah cukup jelas; kolinialisme modern yang dengan cara-cara picik dan licik berusaha menghancurkan sendi-sendi kehidupan bernegara kita. Para mafioso, para koruptor sudah selayaknya di hukum mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* : Penulis adalah Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kabupaten Bandung, Mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung 2008-2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-85656338034548735?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/85656338034548735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=85656338034548735' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/85656338034548735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/85656338034548735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2009/11/negara-dalam-cengkraman-mafioso.html' title='Negara dalam Cengkraman Mafioso.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-5167167026810034247</id><published>2009-11-13T01:58:00.002+08:00</published><updated>2009-11-13T02:00:08.892+08:00</updated><title type='text'>Refleksi Hari Pahlawan dan Kisruh DPRD Kabupaten Bandung.</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAbah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Oleh.Oki Sukirman*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Konflik yang terjadi dalam tubuh DPRD Kabupaten Bandung yang berkepanjangan dan tidak kunjung usai sungguh sangat memprihatinkan. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang menjadi jembatan dan medium yang bisa meminimalisasi kesenjangan aspirasi antara rakyat dan pemimpinnya tidak bisa secara ideal diwujudkan. Ini bertolak belakang sekali dengan semangat para pahlawan dahulu yang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tepat hari ini, tanggal 10 November 2009 kita memperingati sebagai hari Pahlawan. Perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari kolonial penjajah hendaknya mampu dimaknai betul oleh kita semua. Tulisan ini sekedar pesan moral terutama kepada para wakil rakyat di Kabupaten Bandung yang sedang berkonflik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Konflik itu sendiri berawal dari rapat pembentukan alat kelengkapan DPRD Kabupaten Bandung yang baru dilantik. Pertarungan kepentingan koalisi-koalisi yang ada dalam tubuh DPRD sudah sangat terasa. Konflik ini disebabkan oleh ketidakhadiran dua pimpinan DPRD yang berasal dari partai Demokrat dan Golkar yang juga tergabung dalam Koalisi Lanjutkan Karya Nurani Bangsa dalam rapat tersebut. Namun rapat pembentukan alat kelengkapan dewan tersebut tetap berjalan yang dihadiri sebagian besar fraksi-fraksi yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih yang terdiri dari Fraksi PDIP, Frasi PKS, Fraksi PAN dan Fraksi Madani (minus F-Hanura memilih bergabung dengan F-D dan F-Golkar yang tidak hadir). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Hasil Rapat Paripurna DPRD yang dilaksanakan pada Jumat (2/10) malam tersebut, menetapkan pimpinan alat kelengkapan DPRD jatuh ke tangan empat fraksi seluruh yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih. Dan fraksi Demokrat dan Golkar tidak memperoleh kursi pimpinan alat kelengkapan sebab tidak memasukkan nama-nama anggotanya dalam komposisi alat kelengkapan tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Disinilah kekisruhan terjadi, satu pihak mengklaim bahwa rapat tersebut tidak sah karena tidak mengindahkan dari tata tertib DPRD, serta telah melakukan pelanggaran kode etik dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengabaikan kewajiban anggota dewan. Namun pihak lain rapat tersebut dianggap sah sebab ketidakhadiran sebagian besar anggota DPRD merupakan pilihan mereka dan rapat tersebut telah memenuhi syarat quorum dalam rapat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena &lt;i&gt;kekeukeuhan&lt;/i&gt; dua pihak yang berseteru inilah yang menyebabkan kebekuan dan kemandegan proses kerja DPRD saat ini. Hal ini terbukti dari beberapa agenda dan permasalahan penting banyak yangterbengkalai. Misalnya masalah guru honorer yang hingga sekarang masih belum jelas solusinya. Banyak di antara mereka yang sudah puluhan tahun mengabdi sebagai pendidik, hingga sekarang belum diangkat pegawai negeri sipil (PNS). Atau permasalah periodisasi kepala sekolah seperti yang sudah disiapkan di Kota Bandung, juga pengangkatan Kepala Dinas Pendidikan, serta BOS Provinsi, dan Porda yang di depan mata, dll.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Penulis disini tidak menyoroti pihak mana yang benar ataupun salah. Sebab hal tersebut bersifat &lt;i&gt;subjektif&lt;/i&gt; dan bersentuhan dengan aroma politis. Penulis berharap adanya kedewasaan para wakil rakyat dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;proses berpolitik. Sebab penulis sebagai seorang aktifis pergerakan pun menyadari, bahwa konflik kepentingan dalam politik adalah hal yang lumrah. Namun hal itu jangan sampai menjadi penghambat dari subtansi politik itu sendiri yaitu mensejahterakan rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hari Pahlawan dan keberanian berkorban&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam konteks hari pahlawan ini, hendaknya dimaknai oleh pihak yang sedang berseteru untuk berislah (damai). Perjuangan para pahlawan kita dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia harus dijiwai oleh pada anggota dewan dalam konteks berani berkorban dan mengenyampingkan kepentingan kelompok, partai dan pribadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kedewasaan berpolitik adalah sebuah keharusan dalam rangka mengemban tugas utama sebagai wakil rakyat dan menyelesaikan konflik ini. Sebab alih-alih menjadi jembatan aspirasi rakyat, konflik di DPRD Kabupaten Bandung tersebut justru mempertontonkan tradisi yang tak mempresentasikan aspirasi rakyat. Bahkan mendzolimi dan menyengsarakan rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bukankah pertarungan perebutan kekuasaan jugalah (jika tidak mau disebut ”haus kekuasaan”) yang mewarnai kekisruhan di DPRD Kabupaten Bandung ini. Tentu ini sangat bertolak belakang dengan semangat para pahlawn dahulu. Oleh karenanya semangat heroik para pahlawan dahulu harus mampu ditularkan; berani berkorban, semangat kebersamaan, saling bahu-membahu demi kepentingan masyarakat Kabupaten Bandung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kita berharap konflik dan kekisruhan ini tidak sampai berkepanjangan bahkan mendalam sampai ke meja hijau. Sebab sudah barang tentu menjadi korban konflik elit politik tersebut adalah rakyat. Kalau hal ini terus terjadi, malulah jika anggota dewan tersebut masih menamakan diri sebagai wakil rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Semoga saja!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;*: Penulis adalah Ketua Bidang partisipasi pembangunan Daerah (PPD) HMI Cabang Kabupaten Bandung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-5167167026810034247?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/5167167026810034247/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=5167167026810034247' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/5167167026810034247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/5167167026810034247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2009/11/refleksi-hari-pahlawan-dan-kisruh-dprd_13.html' title='Refleksi Hari Pahlawan dan Kisruh DPRD Kabupaten Bandung.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-8508823123447443116</id><published>2009-11-13T01:58:00.001+08:00</published><updated>2009-11-13T02:00:07.435+08:00</updated><title type='text'>Refleksi Hari Pahlawan dan Kisruh DPRD Kabupaten Bandung.</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAbah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Oleh.Oki Sukirman*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Konflik yang terjadi dalam tubuh DPRD Kabupaten Bandung yang berkepanjangan dan tidak kunjung usai sungguh sangat memprihatinkan. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang menjadi jembatan dan medium yang bisa meminimalisasi kesenjangan aspirasi antara rakyat dan pemimpinnya tidak bisa secara ideal diwujudkan. Ini bertolak belakang sekali dengan semangat para pahlawan dahulu yang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tepat hari ini, tanggal 10 November 2009 kita memperingati sebagai hari Pahlawan. Perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari kolonial penjajah hendaknya mampu dimaknai betul oleh kita semua. Tulisan ini sekedar pesan moral terutama kepada para wakil rakyat di Kabupaten Bandung yang sedang berkonflik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Konflik itu sendiri berawal dari rapat pembentukan alat kelengkapan DPRD Kabupaten Bandung yang baru dilantik. Pertarungan kepentingan koalisi-koalisi yang ada dalam tubuh DPRD sudah sangat terasa. Konflik ini disebabkan oleh ketidakhadiran dua pimpinan DPRD yang berasal dari partai Demokrat dan Golkar yang juga tergabung dalam Koalisi Lanjutkan Karya Nurani Bangsa dalam rapat tersebut. Namun rapat pembentukan alat kelengkapan dewan tersebut tetap berjalan yang dihadiri sebagian besar fraksi-fraksi yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih yang terdiri dari Fraksi PDIP, Frasi PKS, Fraksi PAN dan Fraksi Madani (minus F-Hanura memilih bergabung dengan F-D dan F-Golkar yang tidak hadir). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Hasil Rapat Paripurna DPRD yang dilaksanakan pada Jumat (2/10) malam tersebut, menetapkan pimpinan alat kelengkapan DPRD jatuh ke tangan empat fraksi seluruh yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih. Dan fraksi Demokrat dan Golkar tidak memperoleh kursi pimpinan alat kelengkapan sebab tidak memasukkan nama-nama anggotanya dalam komposisi alat kelengkapan tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Disinilah kekisruhan terjadi, satu pihak mengklaim bahwa rapat tersebut tidak sah karena tidak mengindahkan dari tata tertib DPRD, serta telah melakukan pelanggaran kode etik dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengabaikan kewajiban anggota dewan. Namun pihak lain rapat tersebut dianggap sah sebab ketidakhadiran sebagian besar anggota DPRD merupakan pilihan mereka dan rapat tersebut telah memenuhi syarat quorum dalam rapat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena &lt;i&gt;kekeukeuhan&lt;/i&gt; dua pihak yang berseteru inilah yang menyebabkan kebekuan dan kemandegan proses kerja DPRD saat ini. Hal ini terbukti dari beberapa agenda dan permasalahan penting banyak yangterbengkalai. Misalnya masalah guru honorer yang hingga sekarang masih belum jelas solusinya. Banyak di antara mereka yang sudah puluhan tahun mengabdi sebagai pendidik, hingga sekarang belum diangkat pegawai negeri sipil (PNS). Atau permasalah periodisasi kepala sekolah seperti yang sudah disiapkan di Kota Bandung, juga pengangkatan Kepala Dinas Pendidikan, serta BOS Provinsi, dan Porda yang di depan mata, dll.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Penulis disini tidak menyoroti pihak mana yang benar ataupun salah. Sebab hal tersebut bersifat &lt;i&gt;subjektif&lt;/i&gt; dan bersentuhan dengan aroma politis. Penulis berharap adanya kedewasaan para wakil rakyat dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;proses berpolitik. Sebab penulis sebagai seorang aktifis pergerakan pun menyadari, bahwa konflik kepentingan dalam politik adalah hal yang lumrah. Namun hal itu jangan sampai menjadi penghambat dari subtansi politik itu sendiri yaitu mensejahterakan rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hari Pahlawan dan keberanian berkorban&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam konteks hari pahlawan ini, hendaknya dimaknai oleh pihak yang sedang berseteru untuk berislah (damai). Perjuangan para pahlawan kita dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia harus dijiwai oleh pada anggota dewan dalam konteks berani berkorban dan mengenyampingkan kepentingan kelompok, partai dan pribadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kedewasaan berpolitik adalah sebuah keharusan dalam rangka mengemban tugas utama sebagai wakil rakyat dan menyelesaikan konflik ini. Sebab alih-alih menjadi jembatan aspirasi rakyat, konflik di DPRD Kabupaten Bandung tersebut justru mempertontonkan tradisi yang tak mempresentasikan aspirasi rakyat. Bahkan mendzolimi dan menyengsarakan rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bukankah pertarungan perebutan kekuasaan jugalah (jika tidak mau disebut ”haus kekuasaan”) yang mewarnai kekisruhan di DPRD Kabupaten Bandung ini. Tentu ini sangat bertolak belakang dengan semangat para pahlawn dahulu. Oleh karenanya semangat heroik para pahlawan dahulu harus mampu ditularkan; berani berkorban, semangat kebersamaan, saling bahu-membahu demi kepentingan masyarakat Kabupaten Bandung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kita berharap konflik dan kekisruhan ini tidak sampai berkepanjangan bahkan mendalam sampai ke meja hijau. Sebab sudah barang tentu menjadi korban konflik elit politik tersebut adalah rakyat. Kalau hal ini terus terjadi, malulah jika anggota dewan tersebut masih menamakan diri sebagai wakil rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Semoga saja!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;*: Penulis adalah Ketua Bidang partisipasi pembangunan Daerah (PPD) HMI Cabang Kabupaten Bandung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-8508823123447443116?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/8508823123447443116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=8508823123447443116' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8508823123447443116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8508823123447443116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2009/11/refleksi-hari-pahlawan-dan-kisruh-dprd.html' title='Refleksi Hari Pahlawan dan Kisruh DPRD Kabupaten Bandung.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-4948020898409107158</id><published>2009-03-15T20:51:00.002+08:00</published><updated>2009-03-15T20:52:40.903+08:00</updated><title type='text'>DARI “TASBEH[1]” SAMPAI REMOTE KONTROL.</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;-SEBUAH CATATAN DETERMINISME TEKNOLOGI KOMUNIKASI-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;A. BAHASAN PENGGIRING.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Cicantayan, suatu desa kecil, arag ke panati Pelabuhan Ratu Jawa Barat, disebut “kota santri” karena suasana keberagamaan keagamaan masyarakatnya begitu tampak dan semarak disetiap dimensi kehidupan. Milai dari dimensi pendidikan, ekonomi, pertanian, dan sosial budaya sangat kenta dengan semangat kebersamaan dan nilai-nilai Islam. Setiap sore anak-anak ramai berada di surau-surau dan masjid-masjid untuk menunggu azan magrib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mereka mengumandangkan puji-pujian mengagungkan asma Allah, dan tek henti-hentinu membaca shalawat nabi sebelum azan magrib tiba. Para remajanya memakai peci sambil membawa Al-Qur’an menuju ke surau atau mesjid tersebut. Bahkan bapak-bapak pun berjalan menuju mesjid memegang tasbih. Demikianlah kehidupan mereka di awal tahun 60-an sampau tahun 70-an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun, ketika televisi hitam putih lahir pada awal tahun 70-an, kemudian disusul dengan lahirnya televisi berwarna, kehidupan masyarakatnya mulai mengalami perubahan. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Bahkan diawal tahun 80-an kehidupan masyarakat sangat kontras dengan tahun-tahun sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pada sore hari anak-anak tidak lagi berada di masjid-mesjid, tetapi mereka nongkrong di depan TV, menonton film kartun atau lagu anak-anak. Begitupula para remajanya, nongkrong dipinggir jalan sambil bermain gitar. Baoak-bapaknya pun yang dulu memegang tasbih, sekarang memegang &lt;i&gt;remote control&lt;/i&gt; didepan televisi mereka masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berdasarkan fenomena tersebut, disadari atau tidak, telah terjadi perubahan budaya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Perubahan social tersebut diakibatkan karena munculnya teknologi komunikasi ditengah-tengah mereka. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Teknologi telah mengubah hidup manusia. Perubahan itu bias bernuanas positif ataupun negative. Hal inilah yang disebut dengan determinisme teknologi. Artinya, teknologi menjadi penentu dalam perubahan social masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;B. DAMPAK NEGATIF PERKEMBANGAN TEKBOLOGI (Baca: Televisi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Disini kami akan memaparkan beberapa dampak negative perkembangan teknologi, yang tentunya disamping itu ada juga dampak positifnya. Namun untuk dampak negative akan menjadi prioritas bahasan kami, sebab dampak negative ini mempunyai ekses yang sangat vital dalam kehidupan manusia, agar manusia senantiasa waspada dan arif menyikapi dan mempergunakan perkembangan teknologi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pada kesempatan ini, saya akan mengkhususkan dampak perkembangan teknologi pada media televisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pembodohan kaum muslimin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Diantara dampak negatif akibat dari kemajuan sains dan teknologi adalah banyaknya kaum muslimin yang bodoh dan dibodohkan terhadap perbedaan dan kesamaan dengan kaum Nashrani dalam satu sisi, dan kurang begitu sadar terhadap gelombang pemikiran sesaat dan gaya hedonisme dalam sisi lain, hingga sekelompok mereka mencoba mengadopsi sistem dan ideologi kuffar dalam semua bidang. Bahkan sebagian mereka dengan tegas menolak atau alergi dengan segala hal yang berbau Islam dan nilai moral karena terpengaruh dan silau oleh kemajuan teknologi dan keunggulan materi para penentang Islam yang hanya menjanjikan ”kesuksesan” sementara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Media penebar maksiat dan      pengusung laknat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Televisi lebih berbahaya daripada para perampok yang mungkin hanya menjarah harta dan melukai jiwa mereka, sementara TV disamping menguras harta benda yang lebih kejam lagi acara TV merampok kehormatan dan merampas kesucian serta menghancurkan moral keluarga. Namun hanya sedikit diantara kita yang sadar akan dampak dan bahaya yang ditimbulkan TV, sehingga tanpa merasa berdosa maupun menyesal mereka menghabiskan waktunya di depan TV.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pergeseran nilai tontonan menjadi      tuntunan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Produk per-televisian yang paling laris dan banyak menyedot pemirsa adalah sinetron religi yang secara umum banyak memunculkan berbagai kontroversi di dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan sinetron religi banyak mengandung pelanggaran terhadap syariat, norma dan moral agama. Bahkan, ia menggeser habis-secara perlahan-peradaban bangsa dan karakter umat. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Sehingga tuntunan agama menjadi tontonan dan tontonan menjadi tuntunan atau pengganti ajaran agama. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bahkan, keyakinan mereka terhadap akhirat rusak karena terpengaruh oleh sinetron.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tontonan Islami, benarkah???&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tonotonan (yang katanya) Islami yang sering mengumbar agedan yang tidak rasional seperti acara-acara misteri yang dibungkus dengan islami pada dasarnya telah merusak pondasi aqidah, dengan pertimbangan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Banyak menonjolkan tema yang berbau khurafat dan takhayul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menumbuhkan rasa takut kepada selain Allah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menggiring manusia untuk tidak bergantung kepada selain Allah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menodai kehormatan dan kesucian  Islam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penghancuran akhlak manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Televisi melumpuhkan kemampuan      berpikir kritis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dharma Singh Khalsa, penulis buku ”Brain Longevity” adalah seorang dokter yang membuka praktik latihan mental untuk memelihara usia otak. Ia pernah menceritakan bahaya menonton TV dalam hubungannya dengan kesehatan otak. TV menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis dan merusak terutama sekali kecerdasan spacial pada otak sebelah kanan. Tetapi bahaya yang paling besar dari TV ialah mengalihkan perhatian orang dari membaca. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Efek TV lainnya yang menakutkan dan juga efek kesibukan kita yang sibuk, ialah sekarang ini terlalu sedikit orang yang punya waktu untuk membaca. Membaca, menurut peneliti neurologis sangat menguntungkan otak. Tentu saja banyak bahan bacaan yang memperkaya secara intelektual, tetapi semata-mata membaca saja, tidak jadi soal apa isinya, sangat bermanfaat. Membaca memerlukan keterlibatan aktif pikiran dan imajinasi. Membaca sangat merangsang kedua belahan otak dan juga sistem limbik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Merebaknya fatamorgana kebebasan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semakin melebarnya jurang pemisahan  antara urusan ibadah dan dunia. Dimana urusan-urusan Allah dan Rasul-Nya di onggokkan dalam masjid dan majelis taklim. Sedang pasar, mall, kantor dan sejenisnya dibiarkan jauh dari wahyu. Banyaknya salah kaprah tentang hakikat kebebasan, lebih memuja kebebasan dari belenggu ”ikatan Rabbani” meski terbelenggu oleh ”ikatan syaithan”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Benih kekerasan ”Smackdown”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perkelahian yang tampil di ”smackdown” adalah pekelahian pura-pura yang direkayasa. Namun yang tampil di layar sangat realistis. Disinilah masalah muncul. Apakah hasil rekayasa atau sungguhan, apa yang muncul di layar, yang dilihat oleh penonton, dianggap sesuatu yang realistis oleh penonton dan ini bisa menimbulkan dampak bagi penonton, yakni merangsang agresivitas penonton. Terutama bagi anak-anak dan remaja yang belum kritis menggunakan media, tayangan semacam ini berpotensi untuk membuatnya meniru aksi-aksi kekerasan yang dilihatnya di layar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Globalisasi      pornoaksi di Televisi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Inilah lagi bukti betapa hukum memang susah betul ditegakkan di negeri ini. TV menampilkan adegan cabul! Adakah sanksi untuk penayangan yang dapat berakibat buruk di masyarakat ini? Tidak. Stasiun TV-nya hanya minta maaf! Persoalan pun selesai. Yang disayangkan pula KPI-Pusat (Komisi Penyiaran Indonesia-Pusat) hanya menegur dan tidak melakukan upaya lebih jauh dalam menindak pelanggaran-pelanggaran yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Hal ini menakutkan, karena kepada siapakah sebenarnya masyarakat harus berharap untuk melindungi dirinya dari dampak pornografi? Beban untuk memikirkan ini tampaknya masih ada pada masyarakat penonton yang harus pintar-pintar memilih isi siaran yang aman untuk keluarga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Melemahkan      perkembangan kognitif anak-anaK.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Televisi sebagai baby-sitter tampaknya tidak masalah. Namun berbagai penelitian dan berbagai fakta menyebutkan ”meletakkan” anak-anak apalagi dalam usia dini sangat berbahaya baik dari fisik maupun psikis. Apalagi dalam waktu yang panjang, bisa mencapai 6-jam sehari. Bagi anak-anak di bawah  3 tahun, menonton TV terlalu dini bisa mengakibatkan proses wiring - penyambungan antara sel-sel syaraf dalam otak - menjadi tidak sempurna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pada anak-anak yang lebih besar, berpengaruh pada kelambanan berbicara. Ini terjadi karena aktivitas menonton TV tidak menggugah anak untuk berpikir. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Apa yang disajikan TV sudah lengkap dengan gambar dan suara. Sudah banyak penelitian menyebutkan, semakin sering anak mengkonsumsi TV, semakin sama nilai yang dianutnya dengan tayangan-tayangan dari TV.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mesin penggerak identifikasi      remaja&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;TV menyodorkan berbagai acara untuk menciptakan ketergantungan pada remaja, sehingga remaja Indonesia –khususnya- cenderung dipaksa bukan menjadi dirinya melainkan menjadi menurut kehendak kepentingan TV. Hal ini menjadikan remaja menjadi pribadi-pribadi yang lentur, tidak mempunyai pengalaman empirik untuk meletakkan empati sosialnya. Kenyataan sosial disekitarnya telah dikompres oleh media TV dengan mereduksi kekayaan kemungkinan dan nilai yang terkandungnya. Demikian pula dalam pola pembentukan tipe idealitas, TV bisa menjadi pelaku atau sekedar agen perantara bagi munculnya konsep-konsep tertentu. Antara lain, perempuan yang cantik adalah perempuan yang berkulit putih, berambut panjang, lurus, dsb.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menghapus jati-diri seorang ibu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam konsep keluarga di Indonesia, kaum ibu adalah kalangan yang paling memiliki ketergantungan pada media TV. Karena posisinya ini pula, kaum ibu mempunyai tingkat ketergantungan yang tinggi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Lihat saja, acara-acara pada jam ibu rumah tangga yang ada di rumah. Di ragam dan jenis iklan-iklan yang ditayangkan sudah biasa diketahui siapa yang menjadi sasarannya. Hampir seharian, seorang ibu bisa menghabiskan waktunya di depan TV. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dengan karakter dan strategi program atas pengenalan audiens-nya, pengaruh yang diharapkan pada kalangan kaum ibu adalah menjadi konsumen, pelanggan dari semua agenda dan kepentingan yang ditawarkan di dalamnya dan bila sudah tercapai maka harus dibuat agar muncul ketergantungan di dalamnya. Kaum ibu bisa menjadi orang yang kehilangan jati-dirinya, kehilangan ke-percayaan-dirinya, dan rela di ombang-ambingkan oleh situasi di sekitarnya. Dalam kata-kata rayuan, alangkah mudahnya menjadi ibu modern, ibu yang bijak atau ibu yang ,mengetahui keluarganya. Ibu baik dalam konstruk masyarakat dikompres dalam pengertian verbal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Fisik      dan mental jadi terganggu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Secara fisik, terlalu banyak menonton TV juga akan mengganggu gerakan otot mata anak. Mata terbiasa melihat lurus dan tidak bisa bergerak-gerak seperti saat membaca buku. Selain mengganggu otot mata, menonton juga mengakibatkan metabolisme tubuh terganggu karena anak cenderung pasif, tidak banyak bergerak. Karena itu, anak-anak yang banyak menghabiskan waktu dengan menonton TV punya kecenderungan  mengalami kegemukan. Dari sisi kejiwaaan, iklan dan tayangan yang ditonton anak bisa mendorong anak menjadi konsumtif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Anak yang senang pada satu tayangan, jadi tertarik memiliki produk tokoh tayangan atau bahkan segala produk yang diiklankan oleh tokoh favorit mereka. Belum lagi kalau bicara soal tindak kekerasan yang banyak diumbar diberbagai tayangan anak. Tak heran bila berbagai penelitian lain lantas menunjukkan bahwa anak-anak yang banyak menonoton TV cenderung lebih agresif dibandingkan dengan anak yang jarang menonton TV. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini belum termasuk banyaknya kalimat-kalimat negatif seperti makian dan ejekan yang dilontarkan tokoh TV. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dampak buruk tayangan TV memang tidak terlihat segera pada diri anak. Efeknya bisa jadi baru terlihat belasan tahun mendatang. Kekerapan menonton adegan kekerasan dalam TV akan menimbulkan dampak kumulatif yaitu anak-anak menjadi tidak peka terhadap kenyataan dan konsekuensi kekerasan. Bahkan, mungkin lebih cenderung menganggap kekerasan merupakan solusi dari persoalan kehidupan sehari-hari. Efek buruk lainnya adalah efek ”candu”. Bila sudah nyandu, anak akan menganggap tidak ada kegiatan lain yang lebih asyik dibandingkan menonton TV. Lebih parah lagi, bila efek nyandu ini mengakibatkan anak jadi malas bersosialisasi dengan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dangkalnya mekanisme kerja TV&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Serba medium adalah fakta lain dari serba dangkal karena sistem dan mekanisme kerja media TV tidak mampu (dan tidak mau) berjalan seiring dengan tingkat akselerasi sosial masyarakatnya. Mekanisme kerja TV tidak memberikan kemungkinan munculnya kedalaman. Para praktisi media TV tidak memiliki kesadaran profesional bahwa efek mediasai yang dilakukan bisa berpengaruh luas pada masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tayangan yang semula dalam konsep dan prasangkanya dipercaya untuk mereduksi (menekan, mengurangi) justru menjadi reproduksi (melipatgandakan). Pada sisi lain, masyarakat, dibimbing oleh teror media, merasa memiliki dalil pembenar karena apa yang dilakukan bukanlah sesuatu yang sendirian. Banyak orang melakukannya. Sementara bagi pihak TV, adanya aturan etis, dengan sanksi moral, bukanlah hal yang menakutkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kenapa? Karena aspek moralitas bukan faktor penting bagi praktisi media di Indonesia, atau jika tidak, memang tidak ada moral disitu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pembentukan      masyarakat konsumsi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kecenderungan ”menggantung” masyarakat dikarenakan oleh karakter TV yang serba cepat dan serba baru. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kehidupan masyarakat akhirnya di daulat oleh pasar yang hendak diciptakan, dengan media sebagai perantaranya. Dalam korelasi ini, masyarakat digantung menjadi masyarakat konsumsi. Masyarakat konsumsi adalah jenis masyarakat yang hanya berposisi sebagai ”pembeli” bukan ”pembuat”. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pembeli hanyalah objek, target sasaran. Dia ditentukan dan bukan menentukan. Apa buruknya masyarakat konsumsi? Bahaya terbesar dari hal itu adalah munculnya masyarakat yang tidak memiliki karakter kemandirian. Ketika tidak ada lagi yang bisa diolahnya untuk menopang daya konsumsinya, maka yang terjadi adalah ketergantungan dan anomali. Masyarakat seperti ini adalah masyarakat yang tidak memiliki ketahanan budaya, tanpa identitas, masyarakat komunal dan beragam. Ia tidak mengenali lingkungannya karena hidup dianggap berpusat pada dirinya, memburu kesenangan pribadi dan mempersetankan kitaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pendangkalan karakter kepribadian      masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bujuk rayu media seolah menawarkan kebebasan dan kesetaraan. Namun semua itu hanyalah rayuan virtual agar masyarakat tidak sadar masuk melangkahkan kakinya ke dalam kesadaran baru, ke gebyar kehidupan baru. Perilaku ini sebenarnya sama sekali bukan atas kehendaknya, melainkan karena proses internalisasi atas teror media yang terus menerus. Sehingga lama-kelamaan, masyarakat akan mengalami penumpulan, pendangkalan dan penyederhanaan. Tidak ada tabiat berargumentasi disana karena memang tidak dibangun. Percakapan tentang kejadian-kejadian di masyarakat dirujukkan begitu saja pada apa yang dilihat dari TV. Sementara itu TV cenderung menggantung masyarakatnya untuk tidak kemana-mana. Hal itu sengaja diciptakan karena terkait dengan keberlangsungan TV itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Persaingan      kepentingan modal dan moral&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ketika media massa, seperti TV, tunduk pada kepentingan modal, maka kepentingan moral untuk masyarakat bisa menjadi ambivalen. Yang ia lihat, masyarakat adalah sederet rating. Dari situasi masyarakat yang semacam ini, tidak ada yang bisa diharapkan apa-apa untuk melakukan perubahan, kecuali ketertenggelaman menanti. Ia bisa lebih dahsyat dari tsunami karena perlahan menenggelamkan dunia ini dengan manusianya sekaligus. Masyarakat perlu membentengi dirinya sendiri, untuk berani mematikan TV, begitu acara itu tidak bermanfaat secara langsung pada dirinya : bahwa semuanya itu adalah realitas media TV, realitas simbolistik, dan itu beda dengan keseharian kita. Atau kalau berani : bunuh saja TV-mu !!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PUSTAKA ACUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Al-Qur’an Nur Karim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Saefullah, Ujang.Drs.M.Si. 2007. Kapita Selekta Komunikasi. Bandung: Siomiosa Rekatama Media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Majalah QIBLATI edisi 06 Tahun II – Maret 2007 M / Shafar 1428 H&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Majalah SABILI. No.24 Th. X 19 Juni 2003 / 18 Rabiul Akhir 142&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;4&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Majalah UMMI. No.12/XVI April 2005 / 1426 H&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;_____________ edisi 01/XVIII/2006&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;_____________ edisi 12/XVIII/2007&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Belajar Cerdas. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bandung : Mizan Learning Centre&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wirodono, Sunardian. 2006. Matikan TV-mu!. Yogyakarta : Resist Book. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;" lang="IN"&gt; Tasbeh merupakan alat hitung ketika berdzikir, istilah ini digunakan oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Orang sunda yang sering menggunakan manik-manik hiasan yang berjumlah 33 sebagai alat untuk hitungan dzikir dalam dzikir setelah shalat (wiridan)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-4948020898409107158?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/4948020898409107158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=4948020898409107158' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/4948020898409107158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/4948020898409107158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2009/03/dari-tasbeh1-sampai-remote-kontrol.html' title='DARI “TASBEH[1]” SAMPAI REMOTE KONTROL.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-3243731639872153566</id><published>2009-03-15T20:51:00.001+08:00</published><updated>2009-03-15T20:51:47.786+08:00</updated><title type='text'>KOMUNIKASI POLITIK</title><content type='html'>1. JELASKAN KONSEP-KONSEP DASAR KOMUNIKASI YANG MENCAKUP:&lt;br /&gt;a. Komponen komunikasi.&lt;br /&gt;Pada awalnya Harold lasswell memberikan formulasi yang terkait dari komponen komunikasi sangat sederhana dengan mencoba memaparakannya dari unsur-unsur pertanyaan:&lt;br /&gt;- Who (siapa yang berbicara)&lt;br /&gt;- Says What (apa yang dibicarakan)&lt;br /&gt;- In which channel (menggunakan saluran apa)&lt;br /&gt;- To Whom (kepada siapa)&lt;br /&gt;- With what effect (bagaimana pengaruhnya),&lt;br /&gt;Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa Lasswell memaparkan komponen komunikasi terdiri dari:&lt;br /&gt;• Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.&lt;br /&gt;• Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.&lt;br /&gt;• Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.&lt;br /&gt;• Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain&lt;br /&gt;• Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.&lt;br /&gt;Pendapat Lasswell diatas oleh pakar komunikasi kontemporer di Amerika yang tergabung dalam The United Anistotelian Description of Communication yang membagi komponen komunikasi menjadi sepuluh komponen, yaitu:&lt;br /&gt;- Source (sumber)&lt;br /&gt;- Encoding (proses penyandian)&lt;br /&gt;- Message (pesan)&lt;br /&gt;- Channel (saluran)&lt;br /&gt;- Noise (hambatan)&lt;br /&gt;- Receiver (penerima)&lt;br /&gt;- Decoding (Proses penerimaan)&lt;br /&gt;- Receiver response (perangkat reaksi)&lt;br /&gt;- Feedback (umpan balik)&lt;br /&gt;- Context (situasi komunikasi).&lt;br /&gt;(Devito, dalam Fres E Jandt, 1998: 26)&lt;br /&gt;b. Jenis komunikasi,&lt;br /&gt;Seiring kemajuan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah semakin berubah pesat, segala hal telah diungkap. Dulu misteri sekarang terjadi dan terbuka. Dulu stagnan sekarang sudah semakin lari jauh. Begitu pun dengan ilmu komunikasi, pada awalnya komunikasi hanya sebatas proses interaksi personal yang meliputi intra dan antarpersonal. Namun saat ini  jauh lebih dari itu, ada jenis-jenis komunikasi yang diantaranya:&lt;br /&gt;• Komunikasi personal (communication personality), terdiri dari komunikasi interpersonal dan komunikasi antarpersonal.:&lt;br /&gt;- Komunikasi intrapersonal (intrapersona communication) adalah komunikasi yang melibatkan diri sendiri yang mana untuk menentukan sebuah pilihan dan keputusan.&lt;br /&gt;- Komunikasi antarpersonal (interpersonal communication) yaitu komunikasi yang dilakukan antara 2 orang individu baik langsung maupun tidak langsung.&lt;br /&gt;• Komunikasi kelompok (group communication), terdiri dari komunikasi kelompok kecil (small group communication) dan komunikasi kelompok besar (large group communication) yang mana meliputi komunikasi antara kelompok dengan individu (communication group with personality), individu dengan kelompok, communication personality with group) dan kelompok dengan kelompok (communication group with group).&lt;br /&gt;Komunikasi kelompok memfokuskan pembahasaannya kepada interaksi diantara orang-orang dalam kelompok-kelompok kecil dan juga melibatkan komunikasi antar pribadi.&lt;br /&gt;• Komunikasi massa (Mass communication), yaitu komunikasi dengan menggunakan media massa.&lt;br /&gt;• Komunikasi medio (medio communication)&lt;br /&gt;• Komunikasi organisasi yaitu komunikasi yang dilakukan oleh organisasi baik secara internal maupun ekseternal antara organisasi yang satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;• Komunikasi sosial adalah salah satu bentuk komunikasi yang lebih intensif, dimana komunikasi terjadi secara langsung antara komunikator dan komunikan sehingga situasi komunikasi berlangsung dua arah (face to face) dan lebih diarahkan kepada pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Melalui kegiatan ini terjadilah aktualisasi dari berbagai persoalan, masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;c. Sifat komunikasi&lt;br /&gt;Komunikasi mempunyai sifat langsung dan tidak langsung. Yang bersifat langsung bisa berupa tatap muka (face to face) biasanya komunikasi langsung menggunakan bahasa verbal dan nonverbal yang terdiri lisan (oral), ikal / isyarat badaniah (gestural) sedangkan yang bersifat tidak langsung menggunakan bahasa verbal dan nonverbal juga yang terdiri berupa bermedia (mediated), tulisan/cetak (written/printed), bergambar (picturial) dan tanda&lt;br /&gt;d. Media komunikasi&lt;br /&gt;Media komunikasi pada umumnya adalah medium alam yaitu udara. Bayangkan saja udara merupakan media komunikasi yang telah disedikana oleh Tuhan dengan begitu ajaib. Udara meruapakan sebagai penghubung radiasi, rambatan-rambatan sinyal dan suara agar bisa diterima dengan jelas.&lt;br /&gt; Media komunikasi yang lebih khusus adalah media massa baik cetak, elektronik maupun on-line. Inilah kekuatan media komunikasi terbesar saat ini yang selalu menjadi perhatian. Dengan media massa ini komunikasi bisa dilakukan dengan serentak bersamaan dengan melibatkan massa yang banyak tanpa harus terganggu dengan batas geografis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. URAIKANLAH PENGERTIAN DARI KONSEP DASAR ILMU POLITIK YANG MENCAKUP:&lt;br /&gt;a. Objek studi ilmu politik,&lt;br /&gt;Objek studi dari ilmu politik adalah segala hal yang berkaitan dan berhubungan dengan negara (state). Negara (state) disini diartikan sebagai suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaaan tertinggi yang sah dengan adanya legitimasi konstitusi (perundang-undangan) sehingga ditaati oleh rakyatnya . Ilmu politik mempelajari segala hal tentang negara dari mulai tujuan-tujuan negara, dan lembaga-lembaga negara yang kaan melaksanakan tujuan-tujuan itu, fungsi negara dan lembaga-lembaga, serta hubungan antara negara dengan warga negaranya serta antara negara yang satu dengan negara yang lain.&lt;br /&gt;b. Ruang lingkup ilmu politik&lt;br /&gt;Ilmu politik mempunyai ruang lingkup yang terdiri dari:&lt;br /&gt;o Kekuasaan (power).&lt;br /&gt;Kekuasaan (power) dalam hal ini diartikan sebagai sebuah kemampuan seseorang atau suatu kelompok dalam mempengaruhi tingkah laku orang lain atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku tersebut. Inti dari politik adalah kekuasaana, sebab semua kegiatan yang menyangkut dengan masalah meraih dan mempertahankan kekuasaan adalah politik..&lt;br /&gt;o Pengambilan keputusan (decisionmaking),&lt;br /&gt;Pengambilan keputusan (decisionmaking) diartikan sebagai konsep pokok dari politik yang berkaitan dengan keputusan-keputusan, kebijakan-kebijakan baik yang bersifat teknis maupun taktis yang akan diambil secara kolektif dan mengikat seluruh masyarakat. Tujuan dari proses pengambilan keputusan dan kebijakan merupakan proses memilih antara beberapa alternatif pilihan. Sehingga  setiap proses membentuk kebijaksanaan umum atau kebijaksanaan pemerintah adalah hasil dari suatu proses pengambilan keputusan dari pilihan-pilihan.&lt;br /&gt;o Kebijaksanaan umum (public policy, beleid).&lt;br /&gt;Kebijaksanaan umum (public policy, beleid adalah suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau oleh kelompok politik dalam usaha memilih tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Pihak yang membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan itu mempunyai kekuasaan untuk melaksanakannya.&lt;br /&gt;c. Tujuan ilmu politik&lt;br /&gt;Tujuan dari ilmu politik adalah sebagai proses pembagian (distribution) dan alokasi (allocation) kekuasaan. Pembagian dan penjatahan dalam hal ini adalah dari nilai-nilai (values) dalam masyarakat. Politik adalah membagikan dan mengalokasikan nilai-nilai secara mengikat. dari tujuan inilah kita dapat memaklumi dengan adanya konflik sebab pembagian yang dilakukan (mungkin saja dan sering) tidak adil.&lt;br /&gt;d. Fungsi negara.&lt;br /&gt;Sebelumnya penulis akan memaparkan kerangka teori-tori yang ada yang membahas tentang fungsi negara, diantaranya:&lt;br /&gt; Anarkhisme (dalam bahasa Yunani berarti ‘tanpa pemerintah’/non-rule), sebagai paham yang menolak pemerintahan, dikenal oleh filsuf-filsuf dari aliran Stoa seperti Zeno, yang menginginkan masyarakat tanpa Negara dan pemerintah.&lt;br /&gt; Individualisme atau doktrin Laissez Faire dalam bidang politik tidak menyangkal manfaat Negara dan fungsi-fungsi Negara.&lt;br /&gt; Sosialisme, diartikan sebagai semua gerakan sosial yang menghendaki campur tangan pemerintah yang seluas mungkin dalam bidang perekonomian.&lt;br /&gt; Komunisme salah satu bentuk ajaran dari sosialisme, yang diajarkan oleh peletak dasarnya Karl Marx dengan bantuan dan kerjasama Friedrich, Engels dan yang untuk pertama kali dipraktekan di Rusia pada tahun 1917.&lt;br /&gt; Sindikalisme (dari kata Prancis, syndicat yang berarti ‘serikat sekerja’) sebagai garakan politik di mulai di prancis pada tahun 1890.&lt;br /&gt; Guild socialism adalah suatu gerakan yang bersifat khas Inggris dimana badan-badan koperasi umum akan menguasai alat-alat produksi dan akan menyelenggarakan tugas-tugas kenegaraan dalam bidang kesejahteraan.&lt;br /&gt; Fascisme (yang berarti kelompok atau kumpulan), mereka menamakan dirinya fascio di combattinento yang berarti barisan-barisan tempur. Membenarkan penguasaan dari semua alat-alat produksi oleh Negara dan tidak mengenal batas dari fungsi-fungsi yang dapat diselenggarakan oleh Negara.&lt;br /&gt; Kolektivitisme empiris, aliran ini menyetujui penguasaan umum (public ownership) atas dinas-dinas umum yang vital seperti perusahaan gas dan listrik atau pengangkutan umum umpamanya.&lt;br /&gt;Mendasar dari sanalah banyak para Pakar ilmu politik mencoba merumuskan fungsi dari negara, diantaranya seorang pakar politik dari Inggris Charles E. Merriam menyebutkan lima fungsi Negara, yaitu:&lt;br /&gt;1. Keamanan ekstern&lt;br /&gt;2. Ketertiban intern&lt;br /&gt;3. Keadilan&lt;br /&gt;4. Kesejahteraan umum&lt;br /&gt;5. Kebebasan.&lt;br /&gt;Selain itu juga Menurut Prof. Lipson fungsi Negara yang paling mendasar adalah perliundungan. Dengan adanya hasrat mendapatkan perlindungan inilah, maka Negara didirikan. Negara dibentuk oleh individu-individu untuk memperoleh perlindungan dan Negara terus di pertahankan untuk memelihara tujuan itu. Perlindungan merupakan sebab baik maupun raison d’ etre. Fungsi perlindungan diperluas dengan fungsi conservation dan development. Dengan kedua fungsi terakhir ini Negara melaksanakan fungsi-fungsi yang melampaui generasi sekarang.   &lt;br /&gt;Dan literatur lain disebutkan bahwa fungsi dari negara terdiri dari:&lt;br /&gt;o Melaksanakan penertiban (law and order).&lt;br /&gt;Dalam rangk mencapai tujuan bersama dan  menghindari konflik yang secara individu maupun komunal dalam masyarakat, maka fungsi Negara merupakan sebagai ”stabilisator” dengan melaksanakan penertiban secara adil.&lt;br /&gt;o Untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.&lt;br /&gt;o Memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan hiduo warganya.&lt;br /&gt;o Menjaga dan memberikan hak-hak warga negara.&lt;br /&gt;o Menegakkan keadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. JELASKAN MENGENAI:&lt;br /&gt;a. Teori elit politik dan awal kemunculannya.&lt;br /&gt;Kata “elit” khususnya “elit politik” diperkenalkan oleh Vilfedro Pareto sebagai kekecawaan terhadap yang sedang berjalan pada waktu itu yaitu aristocrat. Pada waktu itu, Vilfedro Pareto beranggapan bahwa sifat dari penguasa-penguasa (yang olehnya disebut sebagai elit politik) menujukan kesamaan dengan konsep kekuasaan yang dirumuskan oleh Niccolo Machiavelli.  Dalam konsep Machiavelli bahwa seorang penguasa harus memiliki karakter “cerdik” seperti jerapah dan “kejam” seperti singa. Dari sanalah sinisme Vilfedro Pareto pada penguasa muncul.&lt;br /&gt;Selanjutnya oleh Gaetano Mosca yang mempunyai basic disiplin ilmu psikologi dan sosiologi teori elit ini dikembangkan. Mosca mengklasifikasikan elit ini ke dalam dua status yaitu elit yang berada dalam stuktur kekuasaan dan elit yang diluar stuktural yaitu  masyarakat.&lt;br /&gt;Elit berkuasa menurut Mosca yaitu elit yang mampu dan memiliki kecakapan untuk memimpin dan menjalankan control social. Dalam proses komunikasi, elit berkuasa merupakan komunikator utama yang mengelola dan mengendalikan sumber-sumber komunikasi, sekaligus mengatur “lalu lintas” transformasi pesan-pesan komuniaksi yang mengalir baik secara horinzontal maupun vertical. Elit berkuasa selalu menjalin  komunikasi dengan elit masyarakat untuk mendapatkan legitimasi dan memperkuat kedudukan sekaligus mempertahankan status quo.&lt;br /&gt;Elit masyarakat merupakan elit yang dapat mempengaruhi masyarakat lingkungan di dalam mendukung atau menolak segala kebijaksanaan elit berkuasa.&lt;br /&gt;Menurut pakar politik Amerika Serikat, Schrool membagi tipe elit menjadi lima diantaranya:&lt;br /&gt;- Elit menengah yaitu elit yang berasal dari kelompok pedagang dan tukang yang termasuk golongan minoritas keagamaan atau kebangsaan.&lt;br /&gt;- Elit dinasti yaitu sebagai elit arsitokrat yang mempertahankan tradisi dan status quo.&lt;br /&gt;- Elit revolusioner yaitu elit yang berpandangan bahwa nilai-nilai lama perlu dihapus karena tidak cocok dengan tingkat kemajuan dibidang ilmu penghetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;- Elit nasionalistik merupakan kelompok pluralis sehingga mudah mengundang konflik antar pluralis&lt;br /&gt;- Elit colonial yaitu elit yang dianggap kurang bermanfaat dan tidak memberi konstribusi terhadap referensi ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;b. Fasisme&lt;br /&gt;Fasisme adalah sebuah paham politik yang mempnyai konsep kekuasaan secara absolute tanpa demokrasi. Fasisme juga mengangungkann nasionalisme yang sangat fanatik dan membabi-buta sehingga cenderung (Chauvinisme) menganggap nagara lain lemah dan kecil dibanding negaranya. Kata fasisme diambil dari bahasa Italia yaitu fascio, juga dari bahasa Latin yaitu fascis yang berarti seikat tangkai-tangkai kayu, ikatan kayu ini lalu ditengahnya ada kapaknya dan pada zaman kekaisaran Romawi di depan pejabat tinggi. (Wikkipedia; insklopedia bebas berbahasa indonesia)&lt;br /&gt;Pertama kemunculan dari paham ini adalah di Itali padaabad ke-20 melalui empunya Benito Mussolini. Bersamaan itu di Jerman, juga muncul sebuah paham yang adik-kaka dengan fasisme yaitu Nazisme pimpinan Adolf Hitler. Namun Nazisme berbeda dengan fasisme Italia karena yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi bahkan rasionalisme dan rasisme sangat kuat. Saking kuatnya nasionalisme sampai mereka membantai bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah.&lt;br /&gt;c. Demokrasi&lt;br /&gt;Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, demos yang berarti rakyat dan cratos/cratein/cratia yang berarti kekuasaan/berkuasa/pemerintahan. Jadi demokrasi itu adalah pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat.&lt;br /&gt;presiden Amerika Serikat ke-16 Abraham Lincoln (1808-1805) memberikan konsep tentang demokrasi yang sampai sekarang menjadi adagium familier dari demokrasi yaitu demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (democracy is government of the people, by the people, and for the people).&lt;br /&gt;d. Demokrasi partisipasi&lt;br /&gt;Demokrasi partisipasi atau demokrasi langsung adalah pengambilan keputusan dilakukan secara bersama-sama. Merupakan demokrasi asli yang dulu ada di Yunani Kuno. Demokrasi partisipasi ini tidak begitu menarik perhatian di kalangan masyarakat modern, dimana massa penduduk sudah memiliki hak berpolitik, dan tidak mungkin bagi setiap orang untuk secara aktif berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi mereka. Namun, ada beberapa aspek yang masih relevan untuk masyarakat modern dan dipraktekan di beberapa organisasi.&lt;br /&gt;e. Basis kelompok dalam politik.&lt;br /&gt;Basis kelompok dalam politik terdiri dari:&lt;br /&gt;- Partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini adalah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka. Adapun fungsi partai politik yaitu sebagai sarana komunikasi politik, sebagai sarana sosialisasi politik, sebagai sarana recruitment politik, dan sebagai sarana pengatur konflik.&lt;br /&gt;- Kelompok penekan (Pressure group) adalah kolompok yang terorganisir yang berada pada barisan oposisi, yang mana arah gerakan para anggota-anggotanya menekan pada “penguasa” jika melakukan penyimpangan dan kekeliruan dalam menjalankan “kekuasaannya”. Pada umumnya kelompok penekan adalah kelompok yang kalah pada perebutan kekuasaan dan juga kelompok massa yang tergabung pada BSH (barisan sakit hati).&lt;br /&gt;- Kelompok kepentingan (Interest group) yaitu kelompok yang bertujuan untuk memperjuangakn suatu “kepentingan” dan mempengaurhi lembaga-lembaga politik agar mendapatkan keputusan yang menguntungkan atau menghindarkan keputusan yang merugikan. Kelompok kepentingan ini tidak berusaha untuk menempatkan wakil-wakilnya dalam dewan perwakilan rakyat, melainkan cukup mempengaruhi satu atau beberapa partai didalamnya atau instansi pemerintah atau menteri-menteri yang berwenang. Kelompok kepentingan mempunyai orientasi yang jauh lebih sempit daripada partai politik, karena lebih banyak  memperjuangkan kepentingan umum.&lt;br /&gt;f. Teori kekuasaan negara.&lt;br /&gt;George Wilhelm Friedrich, pakar politik dari Amerika serikat merupakan orang pertama yang memberikan konsep tentang kekuasaan. George Wilhelm Friedrich mendasar pada pendapat Hegel yang menyatakan bahwa negara itu suatu organisme berdasarkan kesusilaan dan hanya Negara yang memberi kemerdekaan kepada manusia sehingga negara mempunyai tujuan untuk menyelenggarakan kepentingan umum. Di atas Negara tidak ada kekuasaan lain. Negara adalah kekuasaan tertinggi di atas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. PENDEKATAN SYSTEM POLITIK MODERN LASWELL, EASTON, ALMOND MELIPUTI: ANALISA DISTRIBUSI, SOSIOLOGI DAN PSIKOLOGI POLITIK LASWELL, ANALISA SYSTEM POLITIK DAVID EASTON, DAN ANALISA FUNGSIONAL STUCTURAL ALMOND?&lt;br /&gt;• Sistem politik David Easton&lt;br /&gt; sistem politik David Easton yang digunakan adalah dengan berkaca pada konsep sistem politik rangkaian Demands-Suport (masyarakat, seniman, budayawan) yang diejawantahkan pada Black-Box (Negara-eksekutif-legislatif) lalu dirumuskan menjadi sebuah decision/policies (kebijakan) dan selanjutnya di sosialisasikan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;• Sistem politik Gabriel Almond&lt;br /&gt;Dalam kaca mata Gabriel Almond sistem politik baik yang bersifat primitive ataupun yang sudah modern setidaknya memiliki empat ciri, yaitu:&lt;br /&gt;a) Semua system politik memiliki struktur-struktur atau lembaga-lembaga politik.&lt;br /&gt;b) Semua system politik menjalankan fungsi yang sama walaupun frekuensinya berbeda-beda.&lt;br /&gt;c) Semua struktur politik menjalankan fungsi-fungsi tertentu, akan tetapi khususnya sesuatu struktur. Ia bersifat multi fungsi, dalam artian ia melaksanakan beberapa fungsi sekaligus.&lt;br /&gt;d) Semua system politik merupakan campuran manakala dipandang dari segi kebudayaan, modern atau primitif.&lt;br /&gt; Salain itu juga, Almond menjelaskan bahwa fungsi koversi atau agregasi kepentingan, tidak lagi hanya dimiliki atau ditentukan oleh salah satu lembaga politik, seperti parlemen, pers, parpol atau lainnya. Namun hal ini juga bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga lain yang ada didalam suatu system politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. MADZHAB PEMIKIRAN POLITIK KONTEMPORER DIMULAI DARI TEROI ALIENASI SARTRE SAMPAI KARL MARX YANG MELIPUTI: KAUM EKSISTENSIALISME, DARI BEATNIKS SAMPAI KIRI BARU, PENEMUAN MARX MUDA, DAN PEMBERONTAK SOSIAL, URAIKANLAH!&lt;br /&gt;o Kaum eksistensialisme.&lt;br /&gt;Paham eksistensialisme diperkenalkan oleh John Paul Sartre (1905-1980), Kaum eksistensialisme berpendapat bahwa manusia merupakan domain tersendiri dan terpisah dengan Tuhan. Tuhan  tidak mempunyai daya dan upaya untuk menetukan hidup manusia, manusi mempunyai kebebasan dan kemerdekaan penuh untuk menentukan hidupnya. John Paul Sartre dalam bukunya “Asas Filsafat Eksistensialisme” menjelaskan humanisme eksistensialis memiliki kekhusussan-kekhususan pada prioritas eksistensi manusia dari quiditasnya dan prinsip liberitas manusia sebagai sebuah kesempurnaan.&lt;br /&gt;Oleh karenanya kaum eksistensialisme cenderung sekuler dalam hal politik. Bahwa kehidupan manusia khususnya dalam kenegaraan mempunyai kemerdekaan penuh untuk melakukan apapun karena manusia pada dasarnya merdek. Oleh karenanya negara tidak berhak untuk ikut campur bahkan mengatur individu-individu selama menjaga ketertiban umum.&lt;br /&gt;John Paul Sartre juga memberikan satu pemahamannya dengan berkata “Sebelum terwujud sesuatu yang disebut manusia, maka tidak ada yang disebut sebagai peran pada manusia tersebut”. Dengan kata lain bahwa “Manusia adalah sesuatu yang dihasilkan dari kebebasan memilih (free will)”. Kaitannya dengan politik John Paul Sartre memberikan penjelasan bahawa sebelum terwujud sebuah negara, maka tidak ada yang disebut peran negara. Sebab negara adalah yang dihasilkan oleh kebebasaban memilih pilihan oleh manusia.&lt;br /&gt;o Beatniks sampai kiri baru&lt;br /&gt;Sayap kiri baru (new left) yang bangkit pada hujung tahun 1950-an menyerang teori tersebut di samping amalan Stalinisme , tetapi beberapa penulis yang berkait dengan Sayap Kiri Baru juga telkah mengetepikan Marxismie di samping Stalinisme. Mereka telah mengabaikan beberapa aspek beberapa aspek utama marxisme, seperti perana pusat stuktur ekonomi dalam membentukkan masyarakat dan pencegahan-pencegahan kelas objektif fi hati kapitalisme. Speerti yang ditulis Perry Anderson, “Benda yang paling menarik perhatian mengenai Marxisme barat sebagai tradisi bersama mungkin adalah kehadirn berterusan dan pengaruh bentuk-bentuk idealisme eropa berlainan”. Alienasi digenggam untuk menjelaskan kesusahan kehidupan moden, dan “hadirian sunyi” atau “kumpulan-kumpulan penduduk Bandar terpulau yang merasakan diri mereka dihimpit dan dibebankan oleh berat sebuah system social dimana mereka tidak mempunyai tujuan penting maupun kuasa untuk mengambil keputusan.”. Alienasi semakin digunakan untuk merujuk kepada keadaan minda, dan bukannya pemahaman mengenai cara pengaturan social mempengaruhi umat manusia.&lt;br /&gt;o Marx Muda.&lt;br /&gt;Marx telah memperkembangkan teori alienasi untuk memudahkan aktifitas manusia yang terletak dibalik kuasa-kuasa tidak pribadi yang menguasai masyarakat. Dia telah menujukan bagaimana walaupun aspek-aspek masyarakat yang kita anut kelihatan seperti seperti semula dan bebas dari pada manusia, ia sebenarnya merupakan hasil tindakan-tindakan manusia pada masa lalu.&lt;br /&gt;o Para Pemberontak Sosial&lt;br /&gt;Alienasi menguraikan “kehidupan-kehidupan sunyi yang menandakan kehidupan di zaman kita sekarang”, dan juga mereka mengalami alienasi melibatkan kelompok lain seperti kaum perempuan, pendatang asing, pemuda, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Aktivitas kehidupan seorang individu yang dialienasi adalah sejenis dari kualitatif. Tindakan-tindakannya dalam agama tetang kekeluargaan, politik, dan masyarakat di rusak sebagaimana aktifitas produktifnya. Terdapat  dua jenis aktivitas  yang agak berkontropersi berhubungan dengan alienasi. Yang pertama adalah tempat usaha intelek atau usaha mental dan kreatif dalam pengeluaran yang dialienasi.&lt;br /&gt;Tenaga pekerja sendiri adalah komoditi dan nilainya ditentukan oleh masa bekerja yang di habiskan untuk penciptaannya. Pihak kapitalis memperkaya diri mereka melalui penggunaan usaha mental dalam cara yang sama dengan usaha materialis. Segala potensi untuk mengembangkan tekhnik dan cara baru ditakluki oleh persaingan.&lt;br /&gt;Struktur masyarakat kapitalis menyingkirkan perkembangan intelek kita kepada pengejaran fakta-fakta secara keseluruhan  dari gerak-gerik masyarakat yang sebenarnya. Ini tidak berarti bahwa yang berguna tidak dapat di kembangkan. Yang kedua formulasi suatu kajian aktifitas-aktifitas lain diluar pekerjaan yang dilakukan secara sukarela bukan karena terpaksa.&lt;br /&gt;6. TEORI PERKEMBANGAN POLITIK MELIPUTI: SUATU PANDANGAN UMUM DARI DUNIA KE TIGA DAN PERANAN GOLONGAN ELIT DALAM PERKEMBANGAN POLITIK, JELASKANLAH!&lt;br /&gt;Pada dunia ketiga perkembangan politik memang stagnan karena lebih bersifat otoriter (authoritarianism). Sistem otoriter mendasar pada paham Machiavelli yang berdasar pula pada pemikiran-pemikiran rasionalis, namun pada haikikatnya melegitimasi kekuasaan absolit pemerintah Monarki (Monarki Absolut). Inti dari sistem ini adalah: pembatasan terhadap kebebasan individu dan standar kebebasan indivisu.&lt;br /&gt;Dalam dunia ketiga kecenderungan pada sistem otoriter sangatlah besar, sebab sebagian besar negara-negara dunia ke tiga adalah negara miskin, terbelakang dan berkembang. Persentasi dari kemajuan pendidikan dan ekonomi sangatlah kecil, sehingga sebagian besar warganya tidak cukup akses dan ruang untuk mendapatkan pencerahan.&lt;br /&gt;Maka peranan golongan elit ini sangatlah besar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mosca, bahwa Elit berkuasa akan mampu dan memiliki kecakapan untuk memimpin dan menjalankan control social. Dalam proses komunikasi, elit berkuasa merupakan komunikator utama yang mengelola dan mengendalikan sumber-sumber komunikasi, sekaligus mengatur “lalu lintas” transformasi pesan-pesan komuniaksi yang mengalir baik secara horinzontal maupun vertical. Elit berkuasa selalu menjalin  komunikasi dengan elit masyarakat untuk mendapatkan legitimasi dan memperkuat kedudukan sekaligus mempertahankan status quo.&lt;br /&gt;Sehingga karena keadaan warga negaranya cenderung menerima begitu saja, maka peranan golongan elit disini sangatlah dominan.&lt;br /&gt;7. URAIKANLAH OPINI PUBLIC DAN RUANG LINGKUPNYA YANG MELIPUTI: UNGKAPAN MASSA, PUBLIC DAN MEDIA?&lt;br /&gt;Opini public dilukiskan sebagai proses yang menggabungkan pikiran, perasaan dan usul yang diungkapkan oleh warga Negara secara pribadi terhadap pilihan kebijakan yang dibuat oleh pejabat pemerintah yang bertanggungjawab atas dicapainya ketertiban social dalam siutuasi yang mengandung konflik perbantahan dan perselisihan pandapat tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Opini public akan memunculkan citra personal seseorang tentang politik melalui suatu interpretasi yang akan menghasilkan opini pribadi. Setiap opini merefleksikan organisasi yang komplek yang terdiri atas tiga komponen yaitu kepercayaan, nilai dan pengharapan.&lt;br /&gt;Ruang lingkup opini  public: Berdasarkan distribusinya opini public terbagi menjadi tiga yaitu opini public yang tunggal (ungkapan rakyat) disebut opini yang banyak, opini public beberapa orang (ungkapan kelompok) disebut opini yang sedikit dan opini public banyak orang (ungkapan massa) disebut opini yang satu. Ketiganya merupakan wajah opini public yaitu opini massa, kelompok dan opini rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. APA YANG ADA KETAHUI MENGENAI PERSUASI POLITIK YANG MELIPUTI: PERSUASASI MELALUI PROPAGANDA, PERSUASI MELALUI IKLAN, PERSUASI MELALUI RETHORIKAN?&lt;br /&gt;Setidaknya terdapat tiga jenis penggunaan bahasa untuk mempengaruhi dan meyakinkan public (persuasi politik) yaitu propaganda, periklanan, dan retorika. Ketiganya mempunyai tujuan (purposif), disengaja (intensional) dan melibatkan pengaruh. Semuanya terdiri atas hubungan timbal balik antara orang-orang dan semuanya menghasilkan berbagai tingkat perubahan dalam persepsi, kepercayaan, nilai dan pengharapan pribadi.&lt;br /&gt; Persuasi melalui propaganda&lt;br /&gt;Propaganda adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sejumlah orang yang banyak. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara objektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk mempengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya. Propaganda kadang menyampaikan pesan yang benar, namun umumnya isi propaganda lebih menyampaikan fakta-fakta yang pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Tujuannya adalah untuk merubah pikiran kognitif yang membacanya.&lt;br /&gt;Propaganda merupakan transmisi satu kepada banyak. Artinya, propagandis adalah seseorang atau sekelompok kecil yang menjangkau khalayak kolektif yang lebih besar. Melalui manipulasi lambing, propagandis mencapai individu-individu sebagai anggota-anggota kelompok. Propagandis merupakan wakil suatu organisasi yang berusaha untuk mengontrol para anggotanya. Singkatnya, propagandis adalah seorang teknikus control social. Maka, propaganda politik disebut sebagai suatu mekanisme control social.  &lt;br /&gt; Persuasi melalui periklanan&lt;br /&gt;Periklanan juga merupakan komunikasi satu kepada banyak. Periklanan mendekati sasarannya terutama sebagai individu-individu tunggal, independent, terpisah dan kelompok orang yang menjadi identifikasinya di dalam masyarakat. Itulah sebabnya periklanan politik disebut sebagai suatu kmekanisme konvergensi, karena sasarannya adalah individu yang independent dengan tujuan menarik perhatian orang tersebut. Periklanan ini dibedakan ke dalam dua tipe yaitu periklanan komersial dan non-komersial. Titik fokus kampanye periklanan adalah kepada siapa dengan akibat apa&gt; atau komunikan (khalayak) dan efek yang dihasilkan.&lt;br /&gt; Persuasi melalui Rethorika.&lt;br /&gt;Berbeda dengan propaganda dan perikalanan, retorika dalah komunikasi dua arah yaitu satu kepada satu artinya komunikastor dan komunikasn masing-masing berusaha dengan sadar untuk mempengaruhi pandangan satu sama lain melalui tindakan timbal balik satu sama lain. Dengan demikian, rethorikan politik merupakan sutau proses negosiasi,. Rethorika politik dapat diklasifikasikan ke dalam jenis yaitu rethorika, forensic dan demontratatif. Fokus kampanye seorang retoiris adalah menciptakan dan merayu khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. MEDIA DAN SALURAN POLITIK MENCAKUP: MEDIA INTERPERSONAL, MEDIA ORGANSISASI, DAN MEDIA MASSA. JELASKANLAH!&lt;br /&gt;Saluran politik komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Manusia adalah saluran dan juga sumber serta penerima dalam komunikasi, maka yang pertama-tama kita tekankan ialah saluran manusia bagi komunikasi politik.&lt;br /&gt;o Saluran komunikasi interpersonal&lt;br /&gt;Merupakan bentukan dari hubungan satu kepada satu. Berbentuk tatap muka maupun berperantara.&lt;br /&gt;Contoh: para wakil rakyat (DPR) yang melakukan reses. Reses merupakan saluran komunikasi interpersonal antara rakyat dan wakil rakyat yang dilakukan di daerah pemilihannya/.&lt;br /&gt;o Saluran komunikasi organisasi&lt;br /&gt;Menggabungkan penyampaian satu kepada satu dan satu kepada banyak.&lt;br /&gt;Contoh: Wakil rakyat yang sering rapat membahas tentang image yang berkembang di masyarakat tentang DPR.&lt;br /&gt;o Saluran komunikasi massa&lt;br /&gt;Satu tife utama saluran menekankan komunikasi satu kepada banyak.&lt;br /&gt;Contoh: seorang calon wakil gubernur yang berkampanye di panggung dengan melibatkan massa yang banyak..&lt;br /&gt;10. DALAM KOMUNIKASI POLITIK ADA YANG DISEBUT DENGAN EFEK KOMUNIKASI POLITIK YANG MENCAKUP: EFEK LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG, FEEDBACK KOMUNIKASI POLITIK. URAIKANLAH!&lt;br /&gt;Dalam proses komunikasi efek komunikasi merupakan akibat yang diberikan oleh komunikator kepada komunikan, setidaknya efek komunikasi merupakan tahap awal adanya feedback (umpan balik) yang merpakan indikator berlanjut tidaknya proses komunikasi tersebut. Disamping efek komunikasi dan feedbac dapat pula dijadikan tolak ukur untuk mengetahui tingkat rujukan dan kapasitas yang berada pada komunikan. Efek komunikasi merupakan proses dari aksi-reaksi dan kausalitas dari komunikasi. Seluruh reaksi komunikasn merupakan efek komunikasi yang berlanjut pada feedback yang pada dasarnya tidak terkait oleh ruang dan waktu.  Dalam efek komunikasi ada dua jenis yaitu efek komunikasi secara langsung dan tidak langsung.&lt;br /&gt;Efek komunikasi secara langsung, menurut Johan Gardner dalam  bukunya “A Sythesis of Expremintal Studies of Speech Communiccation Feedback” menyatakan bahwa feedback dan efek komunikasi secara langsung adalah reaksi langsung yang dilihat atau dirasakan oleh komunikan, hal ini bersifat terikat pada waktu sebab efek langsung ini terjadi ketika komunikasi juga dijalankan secara langsung. Contoh: saya berkampanye kepada SBY, dengan bertemu secara langsung untuk memilih saya sebagai presiden. Karena pendekatan saya secara personal dalam artian komunikasi yang dibangun secara antarpersonal, maka saya akan mengetahui efek secara langsung dari kampanye saya tersebut pada SBY. Misalnya SBY langsung memberikan reaksi akan mendukung bahkan sampai menjadi tim sukses.&lt;br /&gt;Berbeda dengan efek komunikasi politik secara langsung, efek secara tidak langsung bersifta tidak terikat dengan ruang dan waktu. Bisa saja rekasi yang disampaikan SBY pada waktu itu adem-adem aja bahkan tidak menentukan pilihan. Namun jika ketika pemilihan umum beliau memilih saya berarti efek komunikasi yang dirasakan tidak secara langsung oleh saya sebagai komunikator politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. KITA MENGENAL SOSIALISASI POLITIK YANG MENCAKUP: SUMBER SOSIALISASI, SALURAN SOSIALISASI, PERAN SOSIALISASI POLITIK, DAN PROSES SOSIALISASI ISI PESAN. JELASKANLAH! &lt;br /&gt;David Easten dan Jack Denis dalam bukunya “Children in The Political System: Origins of Political Legimacy” memberikan suatu batas tentang sosialisai komunikasi politik adalah....suatu proses perkembangan seseorang untuk mendapatkan orientai-orientasi politik dan pola-pola tingkah laku.&lt;br /&gt; Sumber dari sosialiasi politik adalah kelompok yang memiliki pengaruh cukup efektif dalam menyalurkan pemikiran dan perilaku poilitik komunikan.&lt;br /&gt; Saluran politik adalah media yang berfungsi sebagai faktor penguat terhadap uppaya sosialiasasi politik. Saliran sosialisasi dalam hal ini adalah media yang berfungsi ebagaia faktor penguat terhadap upaya sosialisasi politik. Saluran sosialisasi politik ini bersifata tahapan, artinya bertahap dari mulai individu ke individu, keluarga dan desa, kota sampai ke tingkat yang lebih atas. Caranya adalah dengan menggunakan saluran komunikasi.&lt;br /&gt; Peran sosialisasi politik sangat besar sebab merupakan tahapan waris-mewarisi segala hal tentang “pendidikan politik” diantara unsur masyarakat. Sedangkan proses sosialisasi isi pesan berupa nilai prilaku dan nilia-nilai dasar yang mempedomani pelaku-pelaku politik saat ini dengan simbol perilaki sebagai penerus dimasa akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA:&lt;br /&gt;• Al-Qur’an Nur Karim.&lt;br /&gt;• A.P. Sumarno. 1989. Dimensi-dimensi komunikasi politik, Bandung: PT Acitra Aditya Bakti.&lt;br /&gt;• Harun, Rochajat dan Sumarno AP. 2006. Komunikasi politik sebagai pengantar. Bandung: Penerbit Mandar Maju.&lt;br /&gt;• Nimmo, Da. Komunikasi Politik. Bandung. PT Remaja Rosda Karya.&lt;br /&gt;• Budiharjo, Miriam. 2001. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustakan Utama&lt;br /&gt;• Isjawara, F. 1982. Pengantar Ilmu Politik. Bandung: Penerbit Binacipta.&lt;br /&gt;• Faturohman, Deden dan Wawan Sobari. 2004. Pengantar Ilmu politik . Malang. Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang.&lt;br /&gt;• Muhtadi, Asep Saeful. 2008. Komunikasi Politik Indonesia. Bandung:Remaja Rosda Karya&lt;br /&gt;• Iskandar, Jusman. 2003. Teori sosial. Garut. Pustaka Program Pasca Sarjana Universitas Garut.&lt;br /&gt;• Huttington, Samuel. 2003. Benturan Peradaban Dan Masa Depan Politik Dunia. Yogtakarta: Qolam.&lt;br /&gt;• www.id.wikipedia.com&lt;br /&gt;• Makalah-malakah perkuliah Komunikasi Politik UIN Sunan Gunung Djati Jurusan Jurnalistik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-3243731639872153566?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/3243731639872153566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=3243731639872153566' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/3243731639872153566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/3243731639872153566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2009/03/komunikasi-politik.html' title='KOMUNIKASI POLITIK'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-7210785499117862909</id><published>2009-03-15T20:50:00.000+08:00</published><updated>2009-03-15T20:51:11.169+08:00</updated><title type='text'>TUGAS KOMUNIKASI MASSA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;SEKAPUR SIRIH; Sebuah Pengantar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Segala puji hanya dapat penulis panjatkan kehadirat Allah Swt; &lt;i&gt;Huwal Qowiyu wal Qodiru.&lt;/i&gt; Dengan-Nyalah segalanya berawal dan terjadi, tak terkecuali dengan hadirnya tugas ini. &lt;i&gt;llahumma solli Alla Nabiyinna karim muhammadarosululoh.&lt;/i&gt; Semoga hari akhir kelak penulis berada dalam barisanmu yang senantiasa kau cemaskan dan semoga mendapatkan syafaatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penulis sadari selesainya tugas Komunikasi Massa ini tak luput dari bantuan dan partisipasi “saudara-saudara” penulis. Maka izinkalah pada ruang yang sempit ini untuk mengucapkan terima kasih kepada:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.7pt; text-align: justify; text-indent: -22.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kedua Orang tua penulis. Teruslah alirkan energi semangat dan harapanmu, kucurkan dengan do’a dan basuhlah dengan kasih penulisngmu. &lt;i&gt;Allahumagfirli waliwalidayya.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.7pt; text-align: justify; text-indent: -22.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Roni Tabrioni. S,Sos. Selaku dosen mata kuliah Komunikasi Massa. Yang telah begitu banyak membuka wacana “tercerdaskan”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.7pt; text-align: justify; text-indent: -22.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Teman-teman seperjuanganku di Jurnalistik UIN Sgd n Barudax HMI Komdakom. Terima kasih telah hadir dengan memberi enegri lebih dalam menjalani hidup.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.7pt; text-align: justify; text-indent: -22.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Qurotu Ainni&lt;/i&gt; yang lama tak hadir. Bukan, bukan, bukan aku tak mau kau hadir bersamaku, ketakutan aku kepada Dia lebih dari segalanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Jazzakumullah Khoiron katsiro.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Akhirnya penulis sajikan tugas ini. Benar. Tugas ini jauh dari kata sempurna, oleh karenanya penulis selalu membuka pintu untuk saran dan kritik sebagai perbaikan untuk masa depan. Kirim saran dan kritik ke: &lt;a href="mailto:oki_slengean11@plasa.com"&gt;oki_slengean11@plasa.com&lt;/a&gt; atau jika sempat kunjungi juga di &lt;a href="http://www.oki-online.co.cc/"&gt;www.oki-online.co.cc&lt;/a&gt; . Terima kasih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;b&gt;Gang Kujang, 5 Desember 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;b&gt;Oki “Abah” Sukirman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dewasa ini mana kala Indonesia beranjak pada sistem yang “lebih luwes”, Indonesia hadir dengan wajah yang lebih halus. Masa-masa suram wajah Indonesia terjadi saat pemerintahan Orde Baru berkuasa. Atas nama kekuasaan dan stabilitas nasional, “mulut-mulut” rakyat Indonesia seakam dikunci dan tidak bisa serta merta dengan bebas mengeluarkan pendapatnya baik lisan ataupun tulisan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun kotoran yang hinggap diwajah kita itu sekarang hilang dengan bergulirnya masa pemerintahan orde reformaasi. Inilah masa yang mana oleh orang lain diagung-agungkan sebagai masa keemasan dengan tingkat partisipasi rakyat dalam pembangunan lebih menonjol.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tak terasa tahun 2007 segera berakhir artinya kita saat ini sudah berjalan 10 tahun dengan system demokrasi. Kita boleh bangga atas penilaian orang lain bahwa dengan kuantitas penduduk yang begitu besar Indonesia bisa melaksanakan system “dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat” dengan “sedikit” aman. Tolak ukurnya adalah pemilihan presiden pada pemilu 2004 yang dianggap sebagai torehan emas masa demokrasi di Indonesia, yang seluruh rakyat Indonesia bisa menentukan langsung pilihannya pada sosok yang akan menduduki kursi RI-1 itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bebicara masalah pemilihan umum di Indonesia, sangat menarik untuk dianalisis. Paling tidak jika kita melihat dari kaca mata “komunikasi massa”. Kenapa? Sebab proses keberlangsungan pemilihan umum di Indonesia sangat dipengaruhi oleh keberhasilan seseorang untuk berkomunikasi kepada orang banyak tentang taktis dan strategis yang akan dicapai untuk pemilu. Misalnya bagaimana waktu dulu tim sukses SBY –yang menang pada pemilu 2004 dan menjadi presiden sekarang- mampu mengkomunikasikan sosok SBY dengan sempurna, seperti labeling theory atau teori pembusukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan lainnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Memang ranah ini seperti bagian dari domain politik. Namun sepertinya kita masih menutup mata adanya peranan besar media dalam kesuksesan proses komunikasi massa sebagai salah satu wahana dan alat yang efektif.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebab lainnya, berbicara komunikasi massa maka kita tidak bisa memisahkannya dengan media massa sebagai salah satu elemen penting komunikasi massa. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Media dalam hal ini seperti yang dikatakan Goerge Gerbner sebagai “pembuat public” artinya kemampuan untuk menciptakan public, mendefenisikan isu-isu, memberikan syarat referennsi umum dan mengalokasikan pengertian dan kekuasaan (Gebner, dalam Dance 1967:45).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Maka dalam anlisis penulis, media massa hari ini secara tidak langsung –seperti yang dikatakan Goerge Gerbner diatas- telah memasuki domain politik. Ini tolak ukurnya untuk lingkup Indonesia saja. Ada sedikit keanomalian. Telah terjadi perselingkuhan yang begitu nyata antara partai politik –sebagai perwakilan domain politik- dengan media massa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Contoh nyata adalah bagaimana para politisi sebuah partai juga merupakan praktisi media sekaligus pemilik media. Maka posisi media pada saat itu bukan saja untuk menyeruakan aspirasi-aspirasi public, namun secara otomatis dan praktis media tersebut digunakan sebagai kendaraan utama untuk melanggengkan visi dan misi partai politik tersebut. Apalagi ditambah jika berbicara suksesi kekuasaan dengan adanya pemilihan umum baik tingkat daerah seperti pilkada ataupun pemilihan umum yang akan berlangsung pada tahun 2009.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beranjak dari sana, maka perlu adanya satu analisis lebih dalam tentang pemberitaan-pemberitaan media massa khususnya segala hal yang berhubungan dengan partai politik ataupun pemilihan umum. Analisis harus difokuskan bagaimana sebuah media memberitakan sebuah isu-isu lingkup partai politik menjadi isu nasional dan pemberitaan dengan media yang berbeda yang tidak menjadikan focus bahasan tersebut sebagai &lt;i&gt;headline&lt;/i&gt; utama yang walaupun pada waktu itu banyak berita-berita atau isu-isu lain yang memang pantas untuk diangkat menjadi wacana dan isu utama.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tepat analisis penulis tertuju pada Rapimnas (Rapat pimpinan nasional) Partai Golkar. Media yang saya ambil sebagai focus kajian yaitu “Media Indonesia” dan “Kompas” yang mana keduanya sama pada edisi Senin, 16 November 2007. ini menarik bagaimana headline setiap media. Seperti pada saat yang bersamaan media-media lain mengangkat Headline yang bebeda, contoh pada “Republika” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang lebih focus pada Pemilu dengan lead &lt;i&gt;“Sederhanakan Pemilu”&lt;/i&gt;dan mengangkat ediotorial mengenai kemenangan Kevin Rudd Sebagai keberhasilan di Australia. Atau “Pikiran Rakyat” yang memuar headline dan menulis lead &lt;i&gt;“Golkar tetap Dukung SBY”&lt;/i&gt; dan pada rubric editorial membahas tentang hari guru yang jatuh pada tanggal 25 November 2007.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;ANALISIS PUSTAKA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Selayang pandang media massa yang menjadi focus analisis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; font-weight: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; line-height: 150%;"&gt;“Media Indonesia”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; margin-left: 25.35pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Tipe&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 14.5pt;" valign="top" width="19"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_kabar" title="Surat kabar"&gt;Surat   kabar&lt;/a&gt; harian&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Format&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 14.5pt;" valign="top" width="19"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Koran" title="Koran"&gt;Koran&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Pemilik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 14.5pt;" valign="top" width="19"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelompok_Kompas_Gramedia" title="Kelompok Kompas Gramedia"&gt;Kelompok&lt;/a&gt; Media Group&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Kantor pusat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 14.5pt;" valign="top" width="19"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta" title="Jakarta"&gt;Jakarta&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Situs web&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 14.5pt;" valign="top" width="19"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.media-indonesia.com/"&gt;www.media-indonesia.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;h1 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;“Media Indonesia”&lt;/i&gt; adalah sebuah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_kabar" title="Surat kabar"&gt;surat kabar&lt;/a&gt; harian yang terbit di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta" title="Jakarta"&gt;Jakarta&lt;/a&gt;. Tergabung ke dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Media_Group" title="Media Group"&gt;Media Group&lt;/a&gt;, sejumlah kalangan menganggap &lt;i&gt;“Media Indonesia”&lt;/i&gt; sebagai surat kabar umum terbesar kedua di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia" title="Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; setelah harian &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/KOMPAS" title="KOMPAS"&gt;“KOMPAS”&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Media Group sendiri adalah kelompok usaha media yang didirikan oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surya_Paloh" title="Surya Paloh"&gt;Surya Paloh&lt;/a&gt;. Kelompok usaha ini memiliki harian &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Media_Indonesia" title="Media Indonesia"&gt;“Media Indonesia”&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lampung_Post" title="Lampung Post"&gt;Lampung Post&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, dan stasiun televisi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/MetroTV" title="MetroTV"&gt;MetroTV&lt;/a&gt;. Surya Dharma Paloh (lahir &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/16_Juli" title="16 Juli"&gt;16 Juli&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1951" title="1951"&gt;1951&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kutaraja" title="Kutaraja"&gt;Kutaraja&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Banda_Aceh" title="Banda Aceh"&gt;Banda Aceh&lt;/a&gt;) adalah Ketua Dewan Penasehat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Golkar" title="Partai Golkar"&gt;Partai Golkar&lt;/a&gt;. Surya Paloh juga dikenal sebagai pengusaha &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pers" title="Pers"&gt;pers&lt;/a&gt; dan pimpinan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Media_Group" title="Media Group"&gt;Media Group&lt;/a&gt; yang memiliki harian &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Media_Indonesia" title="Media Indonesia"&gt;“Media Indonesia”&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lampung_Post" title="Lampung Post"&gt;Lampung Post&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, dan stasiun televisi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metro_TV" title="Metro TV"&gt;Metro TV&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; line-height: 150%;"&gt;“Kompas”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; margin-left: 25.35pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Tipe&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 11.8pt;" valign="top" width="16"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_kabar" title="Surat kabar"&gt;Surat   kabar&lt;/a&gt; harian&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Format&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 11.8pt;" valign="top" width="16"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Koran" title="Koran"&gt;Koran&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Pemilik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 11.8pt;" valign="top" width="16"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelompok_Kompas_Gramedia" title="Kelompok Kompas Gramedia"&gt;Kelompok “Kompas” Gramedia&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Didirikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 11.8pt;" valign="top" width="16"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/28_Juni" title="28 Juni"&gt;28 Juni&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1965" title="1965"&gt;1965&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Kantor pusat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 11.8pt;" valign="top" width="16"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta" title="Jakarta"&gt;Jakarta&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 76.95pt;" valign="top" width="103"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Situs web&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 11.8pt;" valign="top" width="16"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 148.3pt;" valign="top" width="198"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;www.kompas.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Kompas” adalah nama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_kabar" title="Surat kabar"&gt;surat kabar&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia" title="Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; yang berkantor pusat di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta" title="Jakarta"&gt;Jakarta&lt;/a&gt;. “Kompas” adalah bagian dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelompok_Kompas_Gramedia" title="Kelompok Kompas Gramedia"&gt;Kelompok “Kompas” Gramedia&lt;/a&gt;.&lt;a name="Sejarah"&gt;&lt;/a&gt; Ide awal penerbitan harian ini datang dari Jenderal Ahmad Yani, yang mengutarakan keinginannya kepada Frans Seda untuk menerbitkan surat kabar yang berimbang, kredibel, dan independen. Frans kemudian mengemukakan keinginan itu kepada dua teman baiknya, P.K. Ojong (1920-1980) dan Jakob Oetama. Ojong langsung menyetujui ide itu dan menjadikan Jakob Oetama sebagai editor &lt;i&gt;in-chief&lt;/i&gt; pertamanya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Awalnya harian ini diterbitkan dengan nama Bentara Rakyat. Atas usul Presiden &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sukarno" title="Sukarno"&gt;Sukarno&lt;/a&gt;, namanya diubah menjadi “Kompas”, sebagai media pencari fakta dari segala penjuru.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Kompas” mulai terbit pada tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/28_Juni" title="28 Juni"&gt;28 Juni&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1965" title="1965"&gt;1965&lt;/a&gt; berkantor di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta_Pusat" title="Jakarta Pusat"&gt;Jakarta Pusat&lt;/a&gt; dengan tiras 4.800 eksemplar. Sejak tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1969" title="1969"&gt;1969&lt;/a&gt;, “Kompas” merajai penjualan surat kabar secara nasional. Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2004" title="2004"&gt;2004&lt;/a&gt;, tiras hariannya mencapai 530.000 eksemplar, khusus untuk edisi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minggu" title="Minggu"&gt;Minggunya&lt;/a&gt; malah mencapai 610.000 eksemplar. Pembaca koran ini mencapai 2,25 juta orang di seluruh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia" title="Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Seperti kebanyakan surat kabar yang lain, harian “Kompas” dibagi menjadi tiga halaman bagian, yaitu bagian depan yang memuat berita nasional dan internasional, bagian berita bisnis dan keuangan, serta bagian berita olahraga.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a name="Aneka_rupa"&gt;&lt;/a&gt;Kelompok “Kompas” Gramedia adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perusahaan" title="Perusahaan"&gt;perusahaan&lt;/a&gt; Indonesia yang bergerak di bidang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Media_massa" title="Media massa"&gt;media massa&lt;/a&gt;. Perusahaan ini didirikan pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/28_Juni" title="28 Juni"&gt;28 Juni&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1965" title="1965"&gt;1965&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1980-an" title="1980-an"&gt;1980-an&lt;/a&gt; usaha mereka mulai berdiversifikasi, terutama dalam bidang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi" title="Komunikasi"&gt;komunikasi&lt;/a&gt;. Sekarang ini mereka terbagi menjadi beberapa anak perusahaan seperti: Kelompok Percetakan, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/KOMPAS" title="KOMPAS"&gt;“Kompas”&lt;/a&gt;, Majalah, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gramedia_Pustaka_Utama" title="Gramedia Pustaka Utama"&gt;Gramedia Pustaka Utama&lt;/a&gt; (GPU), Penerbitan &amp;amp; Multi Media (MMSP), Perdagangan &amp;amp; Industri, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hotel_Santika" title="Hotel Santika"&gt;Hotel Santika&lt;/a&gt;, Media Olahraga (Medior), Pers Daerah, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Radio_Sonora" title="Radio Sonora"&gt;Radio Sonora&lt;/a&gt;, PT. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kompas_Cyber_Media" title="Kompas Cyber Media"&gt;“Kompas” Cyber Media&lt;/a&gt;, serta Tabloid KONTAN. Memiliki TV7 yang dibeli sahamnya oleh Para Group dan diubah namanya jadi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Trans7" title="Trans7"&gt;Trans7&lt;/a&gt; yang bernaung satu dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Trans_TV" title="Trans TV"&gt;Trans TV&lt;/a&gt; dalam TRANS corp. Pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005" title="2005"&gt;2005&lt;/a&gt; mereka mempekerjakan sekitar 12.000 pegawai yang tersebar di seluruh Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;ANALISIS WACANA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Jika kita berbicara mengenai dunia jurnalistik, keberadaan wartawan sebagai si peliput dan sekaligus penulis berita tidak dapat dinomorduakan. Media cetak, khususnya surat kabar atau koran, menjadi salah satu ruang tempat dituliskannya hasil liputan mereka terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di negara ini. Eriyanto (2006:36) memaparkan dua pandangan mengenai media itu sendiri.&lt;i&gt; Pertama&lt;/i&gt;, media dapat dilihat sebagai saluran yang bebas dan netral, tempat semua pihak dan kepentingan dapat menyampaikan posisi dan pandangannya secara bebas. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, media dapat dilihat sebagai subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Idealnya, seorang wartawan selayaknya lebih mengedepankan fakta dan menghindari penilaian subjektif dalam menyajikan berita yang diliputnya. Namun, hal ini sukar dilakukan karena wartawan pun merupakan bagian dari kelompok atau kelas tertentu dalam masyarakat. Dengan demikian, pada dasarnya setiap wartawan memiliki nilai-nilai tertentu yang menjadi prinsip dalam proses peliputan dan penulisan berita yang dilakukannya. Walaupun wartawan terikat dengan kode etik dan aturan yang telah ditetapkan oleh media tempatnya bekerja, setiap wartawan tetap memiliki gaya penulisan (&lt;em&gt;style&lt;/em&gt;) yang khas, yang mana media itu sendiri tidak bebas nilai sarat dengan ideology yang dianut serta kepentingan-kepentingan yang disampaikan oleh pemilik modal. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Ideologi sendiri diusung oleh sebuah media massa sebagai bukti eksistensinya. Pengaruh ideologi ini sangat jelas dalam pemberitaan, karena peristiwa atau kejadian yang ada dipotret atau ditulis berdasarkan ideologi yang dianut oleh media massa itu. Adanya kacamata ideologi itu menjadikan duduk soal yang diungkap akan dipilih dengan yang lebih dekat dengan ideologi tersebut. Muncul adanya saringan ideologi yang menjadikan berita yang muncul di koran, majalah atau tampil di TV dan radio telah disunat. Ini makanya, ketika berita itu sampai kepada masyarakat, akan mewujud dalam bentuk yang berbeda-beda. Inilah yang penulis sebut sebagai rekonstruksi realitas. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\RAVENE~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.png" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: -2; left: 0px; margin-left: -65px; margin-top: 468px; width: 688px; height: 435px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/RAVENE%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_s1026" height="435" width="688" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Maka jangan heran jika peristiwa yang terjadi pada satu tempat akan terjadi sudut pandang yang berbeda dalam proses penerbitan berita walaupun dari sumber berita, fakta dan data didapat dari sumber yang sama. Untuk lebih jelas coba Telaah gambar dibawah ini:&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-48.45pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\RAVENE~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.png" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: -1;"&gt;&lt;span style="position: absolute; left: -65px; top: -52px; width: 684px; height: 516px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/RAVENE%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image003.jpg" shapes="_x0000_s1027" height="516" width="684" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Penulis akan mencoba menganalisis serta melakukan perbandingan terhadap pemberitaan surat kabar Media Indoneisa dengan surat kabar “Kompas” dalam kasus yang sama yaitu masalah Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar. Walaupun kejadian dan faktanya pada dasarnya sama, namun dari sudut pandang kedua media tersebut jauh berbeda sekali.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Penulis dalam analisis ini menggunakan metode analisis framing. Namun maaf jika analisis saya dengan metode framing ini belum mengena pada analisis framing itu sendiri. Sebab penulis sendiri belum paham betul tentang metode analisis framing itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Analisis framing sendiri dalam perspektif komunikasi, dipakai untuk membedah cara-cara atau ideology media saat merekonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. (Alex Sobur,2001:162)&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam praktiknya, analisis framing juga membuka peluang bagi implementasi konsep-konsep sosiologis, politik, dan kultural untuk menganalisis fenomena komunikasi, sehingga suatu fenomena dapat diapresiasi dan dianalisis berdasarkan konteks sosiologis, politis, atau kultural yang melikupinya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa ke mana berita tersebut. Karenanya berita menjadi manipulatif dan bertujuan mendominasi keberadaan subjek sebagai sesuatu yang legitimate, objektif, alamiah, wajar, atau tak terelakkan. Tentu saja, ketika seorang jurnalis melakukan kegiatan frame atas fakta yang dihadapi, rumus baku jurnalistik tetap beralaku, yaitu apa yang dikenal dengan 5 W + 1 H. (&lt;i&gt;what, who, when, where, why + how&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dari kaca mata&lt;i&gt; &lt;/i&gt;surat kabar “Media Indonesia” berita atau isu tentang Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar menjadi headline utama atau halaman depan dalam penerbitanya. Selain itu juga lead yang digunakan dengan kata “&lt;i&gt;Golkar Jamin SBY-JK Langgeng hingga 2009”&lt;/i&gt; yang berukuran besar –tidak seperti biasanya- menjadikan berita dan isu Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar) oleh “Media Indonesia” dianggap penting dan menjadi isu nasional. Hal ini diperkuat dengan foto headline yang mendukung tulisan berita Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar, yang mana foto tersebut menggambarkan presiden SBY sedang berbincang dengan wakil presiden yang juga Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, ditambah dengan gambar disampinganya Ketua Dewan Penasihat Surya Paloh dan Wakil Ketua Agung Laksono semakin memperkuat dominasi pemberitaan Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada surat kabar ““Media Indonesia”&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Apa arti dari semua ini. Ini menunjukan “Media Indonesia” mencoba memberikan paparan tentang pentinya berita Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar dibandingkan yang lain. Selain itu juga dengan penempatan berita Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar sebagai headline menjadikan “Media Indonesia” memang sarat akan kepentingan dari pemilik modal “Media Indonesia” itu sendiri yaitu Surya Paloh yang mana dia merupakan Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Ini berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh surat kabar “Kompas”, walaupun penempatan berita Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar pada halaman utama, namun “Kompas” tidak menyoroti lebih dalam terhadap detail peristiwa Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar tersebut. Tetapi “Kompos” lebih tertarik pada persoalan kekerasan etnik yang terjadi di Malaysia, yang mana porsi pemberitaannya cukup besar. Selain penempatan berita kekerasan sebagai headline utama, foto berita yang memperkuat berita tersebut ditempatkan dengan sangat besar mengalahkan focus pembaca pada yang lain. “Penormeduakan” berita Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar dengan lead berita yang berjudul “&lt;i&gt;Demokrasi hanya cara, dapat dinomorduakan” &lt;/i&gt;merupakan upaya perimbangan “Kompas” pada Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar selain disamping juga menyangkut agenda setting “Kompas” itu sendiri. Sebab “Kompas” lebih focus pada kepentingan nasional, artinya dalam pada pemberitaan Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar “Kompas” lebih menggarisbawahi hasil dari Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar yang berguna untuk kepentingan nasional.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Namun jauh dari itu kita juga harus memperhatikan aspek bahasa yang digunakan dalam berita tersebut. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pemaknaan terhadap teks bahasa merupakan aspek penting dalam proses analisis ini. Dengan memaknai teks berita, pembaca tidak hanya mengetahui apa yang diliput oleh media, tetapi juga bagaimana media mengungkapkan peristiwa ke dalam pilihan bahasa tertentu dan bagaimana itu diungkapkan lewat retorika tertentu.&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu bukan semata-mata dipandang sebagai cara berkomunikasi semata, tetapi jauh dari itu bisa dipandang sebagai politik berkomunikasi - suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi, dan menyingkirkan lawan atau penentang (Eriyanto, 2006:227).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Berbicara bahasa yang digunakan maka pertama kali yang harus diperhatikan adalah lead berita, mari kita badingkan lead berita kedua media tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;MEDIA INDONESIA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Golkar Jamin SBY-JK Langgeng Hingga 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Jakarta (Media): Partai Golkar menjamin pemerintahan Presiden Sosilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) langgeng hingga 2009. Presiden pun berterima kasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;KOMPAS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Demokrasi Hanya Cara, Dapat Dinomorduakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Jakarta, Kompas – Rapat Pimpinan Nasional III Partai Golkar menyimpulkan, demokrasi hanyalah cara, alat, atau proses, dan bukan tujuan, sehingga bisa dinomorduakan di bawah tujuan utama peningkatan dan pencapaian kesejahteraan rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam lead berita pada “Media Indonesia” sangat jelas arah ideology dan agenda setting yang digunakan “Media Indonesia”. Yang harus dicatat adalah selain adanya “Media Indonesia” ingin menunjukan dominasi dan “kebesaran” dari partai Golkar dengan menulis lead seperti diatas, seolah pemerintahan Presiden Sosilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) dalam posisi yang lemah berada dalam jaminan Partai terbesar di Indonesia tersebut dan “Media Indonesia” mencatat pernyataan Presiden Sosilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pada intinya berterima kasih terhadap Partai Golkar sebagai isu penting. Maka “Media Indonesia” menulis” &lt;i&gt;Partai Golkar menjamin pemerintahan Presiden Sosilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) langgeng hingga 2009. Presiden pun berterima kasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berbeda dengan “Media Indonesia”, “Kompas” menulis bahasan lebih pada hasil dari Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar yang mana menyoroti tentang demokrasi tidak memberitakan secara detail peristiwa tersebut. Disinilah terjadi proses inklusi dan ekslusi media. “Media Indonesia lebih menonjolkan berita Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar serta tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya. Dalam “Kompas” walaupun memang Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar merupakan agenda penting yang menyangkut nasional sebab partai Golkar sebagai partai tersebar, namun “Kompas” seolah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyembunyikan berita tersebut dan memilih topic dan tema lain yang dijadikan isu utama pemberitaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Disini jelaslah seperti dikatakan diawal bahwa media tidak bebas nilai dan sarat akan kepentingan-kepentingan. Contoh nyata adalah seperti yang saya paparkan diatas terhadap Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Golkar yang diberitakan oleh media yang berbeda yaitu “Media Indonesia” dan “Kompas”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;WHAT THEY SAY…ABOUT THIS?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;PERTANYAAN UMUM:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Apa yang anda ketahui dari Rampinas Partai Golkar? Bagaiamana pandangan anda pada Rapimnas (Rapat Pimpinan Nasional) Partai Golkar?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;JAWABAN-JAWABAN:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“No coment…ah say amah kurang tahu betul tentang Rapimnas Golkar mah. Gak terlalu penting deh…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;( Amin Nurdin, Mahasiswa Jurusan PMI semester V)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Penting untuk kita perhatikan juga masalah Rapmnas Golkar ini, sebab ini menyangkut kepentingan nasional. Secara Partai Golkar merupakan partai pemenang oemilu 2004 juga banyak kader-kader Golkar yang duduk dalam pemerintahan. Emang naon wae kitu hasilna…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;(Ramdhan Shalih, Mahasiswa Jurusan jurnalistik, Semester V)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Oia tentang Rapimnas Golkar? Yang saya ketahui Rampimnas tuh rapat para pimpinan Partai Golkar seluruh Indonesia, dari mulai ketua umum sampai kertua DPD dan ketua di daerah-daerah. Untuk pandangann saya positif saja…apalagi ya saya juga bingung…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;(Diah Sri Rejeki, Mahasiswa Fikom Unpad, Angkatan 2005)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“ah jang..mang mah teu terang nanaon kanu kitu mah, komo tentang Rampanas Golkar mah (maksud namah Rampimnas -pen), yang mang terang mah partai golkar we hungkul, anu baheula meunang pemilu pas jaman pak suharto baheula..”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;(Mang Udin, Pedagang Pempek di Seefood (Sisi pudunan) UIN Sgd bandung)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Rapimnas Golkar kalau menurut say amah itu mah rapat tahunan aja kaya rapat pleno lah mun di organisasi mah, ya.,..biasa yang dibahas tentang evaluasi. Pandanganna positif lah..da say amah gak tau apa-apa tentang Rapimnas Golkar mah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;(Agus Gunawan, Ketua Bidang PTKP HMI Komdakom)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Cangara, Hafied. 2005. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Pengantar Ilmu Komunikasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Rajawali Pers. Jakarta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Effendy, 1992.Onong Uchjana, Prof. Drs. M.A. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dinamika Komunikasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. PT Remaja Rosda Karya: Bandung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Rachmat, Jalaludin. 2005. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Psikologi Komunikasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. PT Remaja Rosda Karya.:Bandung. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Nurudin, M.Si. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. PT Eaja Grafindo Persada.: Jakarta. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. PT Grasindo: Jakarta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Winarso, 2005. Heru Puji, Sosiologi Komunikasi Massa. Prestasi Pustaka Publisher.: Jakarta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sobur, Alex. 2001.Analisis Teks Media. PT Remaja Rosda Karya. Bandung. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Eriyanto. 2001. Analisa Wacana dengan Analisis Tek Media. Yogyakarta: LkiS.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Eriyanto. 2002. Analisa Framing, Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta:LkiS.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sobur, Alex, Drs, M.Si. 1999. Analisis Teks Media, Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Bandung: Kanisius&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-7210785499117862909?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/7210785499117862909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=7210785499117862909' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/7210785499117862909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/7210785499117862909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2009/03/tugas-komunikasi-massa.html' title='TUGAS KOMUNIKASI MASSA'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-2771732335526883236</id><published>2009-03-15T20:23:00.000+08:00</published><updated>2009-03-15T20:49:36.472+08:00</updated><title type='text'>ANALISIS SURAT KABAR [1]</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh. Oki Sukirman&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengantar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Analisis penelitian saya sampai hati pada koran Media Indonesia, Edisi Minggu, 23 Maret 2008. beberapa alasan pribadi yang mungkin mewakili kenapa saya memilih Media Indonesia untuk dijadikan bahan analisis dibandingkan dengan koran-koran lain, yaitu: &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;Memang saya sudah jatuh hati sejak dulu, ketika Media Indonesia pertama kali terbit. Content Media Indonesia –yang menurut- saya sudah memenuhi kriteria kejurnalistikan ditambah dengan bahasa jurnalistik yang digunakan Media Indonesia yang begitu renyah dan mudah dipahami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Surat kabar Media Indonesia merupakan surat kabara terkemuka di Indonesia. Surat kabar yang ditunggangi oleh raja media Indonesia, Surya Paloh merupakan salah satu media dari media-media lain yang dimilikinya, diantaranya Lampung Post dan Metro TV. Oleh karenya berasalan sekali jika hari ini Media Indonesia merupakan gambaran cetak dari Metro TV.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Bahasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Jika diuraikan berdasarkan referensi perkuliaha Reka Bentuk Surat Kabar maka Media Indonesia termasuk kategori Surat Kabar serius. Sebagaimana kita ketahui surat kabar serius adalah surat kabar yang mana biasanya karakteristik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pembacanya (segmen) adalah menengah ke atas, juga menggunakan bahasa yang baku yaitu bahasa jurnalistik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;elain itu jika dilihat dari reka bentuknya surat kabar Media Indonesia termasuk pada bentuk surat kabar &lt;i&gt;balance make up&lt;/i&gt; artinya surat kabar yang pada dasarnya lebih banyak memainkan foto dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gambar dalam menartik minat pembaca. Sehingga surat kabar Media Indonesia lebih menyeleksi dan memilah-milih foto-foto yang mengandung nilai jurnalistik dan dapat menarik perhatian pembaca.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Selanjutnya jika dikaji lewat reka bentuk maka Media Indonesia teramsuk pada jenis &lt;i&gt;God Sheet&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang mana ketentuan dari jenis &lt;i&gt;God Sheet&lt;/i&gt; terdiri &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;8-9 kolom. Sedangkan pada Media Indonesia Edisi Minggu, 23 Maret 2008 terdiri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari 7 kolom. Yang unik dari media Indonesia salah satu kolom dari Headline (Muka utama) ada editorial yang pada umumnya sebagian besar surat kabar editorial di simpan di halaman tengah bersamaan dengan opini. Namun bagi Media Indonesia hal itu tidak berlaku, dalam frame saya menangkap bahwa Media Indonesia ingin lebih mengutamakan propaganda pada pembacanya tentang sikap dan kebijakan Media Indonesia pada suatu masalah yang terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Reka Bentuk Surat Kabar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Mahasiswa Jurnalistik Semeter VI (205204864).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-2771732335526883236?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/2771732335526883236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=2771732335526883236' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/2771732335526883236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/2771732335526883236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2009/03/analisis-surat-kabar-1.html' title='ANALISIS SURAT KABAR [1]'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-3370311144386980869</id><published>2008-10-25T20:15:00.001+08:00</published><updated>2008-12-19T23:59:50.693+08:00</updated><title type='text'>Sisi Lain Potret Jatinangor: "Penonton Di Rumah Sendiri"</title><content type='html'>Tidak seperti biasanya cuaca Jatinangor siang itu sedikit berawan, ketika Korsum menginjakan kaki tepat didepan gerbang Unpad. pemandangan masih sama seperti hari-hari yang lain. Kemacetan, hiruk pikuk mahasiswa yang kuliah, para pedagang kaki lima yang berjualan dan seabrek kegiatan masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;Perjalanan Korsum sedikit terhenti ketika melihat seorang ibu tua dengan anaknya yang masih kecil meminta-minta di jalanan tepat di depan gerbang Unpad. Memang pada dasarnya sudah tidak aneh adanya pengemis, kitapun sering menemui di mana-mana. Namun hati nurani Korsum sedikit tersentuh, perasaan iba dan kasihan pada ibu dan anak tersebut mendorong langkah Korsum untuk mendekat. Sambil sedikit ngobrol-ngobrol tentang kehidupan ibu tersebut, kamipun memberi ala kadarnya.&lt;br /&gt;Ternyata kehidupan ibu tersebut sangat bertolak belakang dengan suasana kampus yang disesaki oleh mahasiswa-mahasiswi yang ”sedikit glamour”. Bisa dipastikan orang yang masuk Unpad adalah orang yang berada, sebab mana mungkin –kalau tidak dengan jalan beasiswa- orang miskin bisa kuliah dengan biaya berjuta-juta. Untuk makan saja susah, apalagi untuk bisa (sampai) kuliah.&lt;br /&gt;Ya, seperti yang dialami oleh ibu dua anak yang sedang mengemis ini, sebut saja  Yoyoh (50)  ”Tos lami ibu didieu, ibu asal ti Jatinangor jang” Jawab dengan sedikit kecapean karena kepanasan ketika Korsum menanyakan asal tempat tinggal dan lamanya mengemis di dekat Gerbang Unpad.&lt;br /&gt;Pikiran Korsum sedikit menerawang jauh, mengenai nasib ibu ini. Sebuah realitas kehidupan yang memang adanya, bahwa ternyata seorang warga Jatinangor sendiri menjadi penonton di rumah sendiri. Warga jatinangor hanya bisa menyaksikan ”kesuksesan” para pendatang.&lt;br /&gt;Perjalanan Korsum pun beranjak ke tempat yang lain, kebetulan salah satu dari kami akan memangkas rambut. Sampailah Korsum pada satu salon besar, Korsumpun masuk dan langsung meminta petugas untuk melaksanakan tugasnya. Sambil dicukur kamipun berbincang-bincang, sebut saja Opay (21) yang bertugas saat ini. Tenyata beliau asli dari Garut yang sudah 2 Tahun mencari peruntungan di Jatinangor. Kehidupan di kampung halamannya yang serba tidak menentu, ternyata menjadi berkah tersendiri. Dengan kerja keras akhirnya dia bisa mendirikan sebuah salon, yang sampai saat ini terus berkembang dan sudah mempunyai dua cabang. ”Alhamdulilah a...tos dua tahun ieu. Ayeuna tos aya dua cabang” Ujar lelaki berpenampilan ramping ini.&lt;br /&gt;Sudah bukan rahasia lagi jika sekarang Jatinangor telah menjadi sebuah kecamatan maju. Dengan berdirinya empat perguruan tinggi besar seperti STPDN, IKOPIN, UNWIM, dan UNPAD Jatinangor yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai “Kawasan Pendidikan”, selain  itu juga memang berdiri bangunan-bangunan sekelas Mall Metropolitan yaiu Jatinangor Town Square dan Padjadjaran Plaza.&lt;br /&gt;Itulah satu potret kehidupan Indonesia saat ini. Menjadi penonton di rumah sendiri sepertinya bukan lagi sebuah keanehan. Dikota-kota besar lainnya pun seperti itu adanya.&lt;br /&gt;Ketika kami berbincang dengan Sekretaris Camat Jatinangor, A Beni Triyade yang Korsum temui di ruang kerjanya (23/10) memang tidak bisa menafikan fenomena menjadi kebanyakan masyarakat Jatinangor menjadi penonton di ”rumahnya” sendiri. ”Ini fakta, tidak sedikit dari masyarakat Jatinangor yang menjadi ”penonton”. Ini terkait dengan SDM juga” Ujar Beni.&lt;br /&gt;Memang akhirnya kembali pada masyarakat sendiri. SDM pada masyarakat yang lemah hanya akan menjadikan masyarakat terpinggirkan walaupun dirumah sendiri (dan dimanapun). Namun apakah tidak ada upaya dari pemerintah untuk memperhatikan nasib-nasib rakyat yang kurang beruntung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-3370311144386980869?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/3370311144386980869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=3370311144386980869' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/3370311144386980869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/3370311144386980869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2008/10/sisi-lain-potret-jatinangor.html' title='Sisi Lain Potret Jatinangor: &quot;Penonton Di Rumah Sendiri&quot;'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-6191791568497682232</id><published>2008-10-25T20:12:00.000+08:00</published><updated>2008-10-25T20:14:19.964+08:00</updated><title type='text'>Mahasiswa dan Sumpah Pemuda.</title><content type='html'>Sejarah mencatat tanggal 28 Oktober 1928, beberapa wakil organisasi pemuda berkumpul untuk mengadakan satu kongres. Kongres yang digagas oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) itu diikuti oleh beberapa organisasi yang tercatat diantaranya Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dll. Adapun tujuan kongres tersebut seperti yang diungkapkan oleh ketua PPI,  Soegondo dalam sambutan pembukaan kongres tersebut adalah untuk memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. (Wikipedia eksiklopedia bahasa Indonesia).&lt;br /&gt; Dari sanalah awal mula tercetusnya sumpah pemuda. Pada massa itu dengan latar belakang sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan yang berbeda. Seluruh pemuda yang terhimpun dalam sebuah organiasasi melebur menjadi satu yaitu tekad untuk bersatu. Pengorbanan tersebut tercermin dalam ikrar bersama-sama, yang sering berbunyi: “Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.” (Sebagaimana bacaan asli) &lt;br /&gt; Satu pengorbanan yang mungkin pada waktu itu kecil jika diukur oleh sebuah materi sebab dengan mengorbankan pelbagai kepentingan yang ada. Namun dari sanalah sejarah emas ada yang sampai saat ini diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. &lt;br /&gt;Dan tepat tanggal 28 Oktober 2008 nanti, kita akan memperingati seratus tahun ikrar pemuda-pemudi Indonesia itu. Satu catatan kecil yang coba penulis sajikan sebagai bahan perenungan (kotemplasi) bersama. Dalam tulisan ini, Penulis memberikan perspektif peristiwa sumpah pemuda tersebut dari kaca mata mahasiswa.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Quo Vadis Mahasiswa? Antara Cita dan realita&lt;br /&gt; Siapa yang tak kenal dengan sosok mahasiswa. Bagi sebagian masyarakat, ketika mendengar kata mahasiswa yang terbayang adalah sosok yang energik, progresif, intelektualis, dan kritis. Memang tidak salah jika frame yang muncul seperti itu karena mahasiswa adalah kaum intelektual muda. Sebagai kaum intelektual, mahasiswa selain bergulat dengan pelbagai penjamahan ilmu pengetahuan  juga progresif dalam memperjuangkan nilai-nilai universal kemanusiaan seperti keadilan, kebenaran, kebijaksanaan, dan objektivitas. &lt;br /&gt; Oleh karenanya dalam pergerakannya, mahasiswa haruslah selalu berpegang teguh pada nilai-nilai di atas. Karena itulah yang menjadi nilai idealisme mahasiswa. Melalui kemampuan intelektual yang dimiliki itulah mahasiswa mampu memikul dan mengakomodasi harapan dan idealisme masyarakat yang kemudian terserap dalam ide dan gagasannya yang akan diejawantahkan dalam aksi nyata. Dan dengan kekuatan dan semangat dasar perjuangan yang dilandasi oleh ide dan gagasan yang tercerahkanlah peristiwa sumpah pemuda muncul.&lt;br /&gt; Namun jika melihat realitas ssaat ini, sepertinya telah terjadi kekurangajaran. Fakta tak pernah hadir dengan wajah yang dusta, nilai-nilai (idealisme) yang dulu dipegang teguh sebagai nilai dasar perjuangan perjuangan pendahulu kita sedikit demi sedikit telah luntur dan terkikis. &lt;br /&gt;Kita melihat dan mendengar bagaimana media massa telah bombastisnya memberitakan tawuran antara mahasiswa salah satu PT dengan PT yang lain. Demo-demo yang tidak menyalahi aturan sehingga cenderung mengarah pada tindakan anarkis, amoral, kontraproduktif bahkan pidana. Lalu jika seperti itu keadaannya, benarkan si Agen Sosial of change ini telah kehilangan nilai-nilai idealismenya?&lt;br /&gt; Jika kita tarik lurus dari pertalian peristiwa sumpah pemuda dan realitas (pergerakan) mahasiswa saat ini. Setidaknya ada dua point catatan penting yang harus kita renungi yang mudah-mudahan menjadi(kan) spirit (mahasiswa) untuk menjadi dasar pada setiap perjuangan dan pergerakan menuju ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt; Pertama, menjadikan intelektual dan moralitas sebagai modal dasar. Yang menjadi ciri khas pergerakan pemuda pada Konggres Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 adalah dengan  menjadikan intelektual dan moralitas sebagai modal dasar pergerakan. Maka tidak heran jika dari ikrar persatuan tersebut kemerdekaan dapat diraih bangsa Indonesia, sebab pada dasarnya pengangkatan senjata bukan modal utama dalam merebut kemerdakaan itu, namun pemanfaatan intelektual dan morallahyang menjadi motor penggerak pengangkatan senjata yang pada akhirya kemerdekaan dapat diraih.&lt;br /&gt;Sebab modal tersebut menuntut mahasiswa untuk tampil pada garda terdepan sebagai agen pembaharu (agent sosial of change). Pada akhirnya kesadaran akan wawasan kebangsaan itulah yang mengharuskan mahasiswa berjuang secara holistik, menyeluruh dalam perspektif kerakyatan, solidaritas, dan keadilan sosial. &lt;br /&gt;Kedua, Pesan sumpah pemuda kepada –meminjam istilah group Slank untuk menyebut generasi era globaliasasi sekarang ini- generasi biru adalah memberikan kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan. Kesadaran bahwa pada masa itu perjuangan secara parsial-kedaerahan ternyata telah menemui kegagalan. Oleh karena itu usaha menggalang persatuan dan kesatuan seluruh elemen masyarakat merupakan sebuah keniscayaan. Dengan semangat kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan inilah waluapun secara factual-objektif masyarakat Indonesia terdiri dari pluralitas suku, ras, agama, budaya dan bahasa dapat meraih kemerdekaan.&lt;br /&gt;Oleh karenanya, walaupun memang saat ini bukan jamannya angkat senjata dan baku tembak dalam melawan penjajahan. Nyatanya ancaman bangsa ini sudah didepan mata. Secara tidak kita sadari dengan banyak permasalahan yang mengarah pada ancaman disintegrasi bangsa adalah musuh nyata kita saat ini. Ditambah hal tersebut ternyata banyak dilakukan oleh mereka yang berkuasa dan yang tercerahkan (bisa juga dibaca: mahasiswa) yang semestinya menjadi figur teladan dan agen sosial of control. Aksi KKN yang semakin merajalela, Benih-benih individualisme, rendahnya tanggung jawab sosial, sikap egois, eksklusivisme kelompok dan pelbagai ancaman lainnya telah menjadi ancaman besar bagi persatuan dan kesatuan bangsa saat ini.&lt;br /&gt;Permasalahan multidimensional bagaikan tumor yang secara perlahan-lahan mampu menggerogoti dan merontokan nilai-nilai ”keindonesiaan” (baca: ketimuran) yang dulu melekat dan diperjuangkan sebagai dasar perjuangan pendahulu kita. Mungkin kita bertanya, untuk saat ini dimana lagi kita akan menemukan keadilan, solidaritas, toleransi, gotongroyong. Sepertinya di Indonesia telah menjadi barang langka dan mahal.&lt;br /&gt;Disaat kondisi inilah dibutuhkan rasa persatuan dan kesatuan. Sebab menurut F.Magnis Suseno, tantangan bangsa saat ini terangkum dalam tiga pokok persoalan yaitu, tantangan untuk mempertahankan negara kesatuan, tantangan untuk mewujudkan solidaritas-keadilan sosial dan  tantangan untuk mewujudkan demokrasi, di dalam negara hukum yang menghormati HAM (VOX Seri 44/1,2/2000). &lt;br /&gt;Dan dalam konteks inilah peranan mahasiswa sangatlah besar dalam upaya revitalisasi nilai-nilai dasar perjuangan para pendahulu kita. Mudah-mudahan Peringatan hari Sumpah Pemuda kali ini menjadi momentum untuk bangkit dan memperbaiki diri tidak sekedar menjadi seremonial dan bahan refleksi belaka. Namun lebih dari itu menjadi pembaharuan bagi mahasiswa dalam upaya menghidupkan kembali semangat dasar yang telah ditanamkan oleh pendahulu. Semoga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*. Penulis adalah Ketua Senat Mahasiswa Fidkom UIN SGD Bandung, aktivis HMI Cab. Bandung dan pengelola:www.oki-sukirman.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-6191791568497682232?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/6191791568497682232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=6191791568497682232' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/6191791568497682232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/6191791568497682232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2008/10/mahasiswa-dan-sumpah-pemuda.html' title='Mahasiswa dan Sumpah Pemuda.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-9136456322419859967</id><published>2008-05-24T23:47:00.000+08:00</published><updated>2008-05-24T23:48:29.679+08:00</updated><title type='text'>Kekhawatiran itu….</title><content type='html'>Tepat hari ini atau untuk lebih kuat lagi kira jam 00.00, berita yang tidak inginkan oleh sebagian masyarakat Indonesia akhirnya terjadi. Ya, kenaikan BBM (bahan baker minyak). Ternyata pemerintah terus saja berjalan tanpa menghiruakan berbagai kecaman, aksi protes para mahasiswa, kalangan masyarakat bawah yang tidak setuju terhadap kebijakannya untuk menaikan BBM. Rata-rata lonjakan harga berkisar pada 28%. Harga premium yang dulunya Rp.4500 naik menjadi Rp. 6000. begitpun dengan solar dan minyak tanah dari harga Rp.4300 dan Rp.2000 menjadi Rp.5500 menjadi Rp.2500.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun ini berita buruk (bad news) saya kira berbagai aksi protes yang dilakukan dan yang kita lihat bersama dari berbagai daerah merupakan satu wujud nyata ketidak setujuan kebijakan tersebut. Namun nyatanya pemerintah mempunyai asumsi dan pembelaan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dengan mempertimbangkan peningkatan harga minyak dunia, menyebabkan subsidi menjadi sangat besar sehingga memberatkan APBN. Oleh karena itu, perlu disesuaikan harga jual untuk jenis BBM tertentu bagi konsumen tertentu. Harga tersebut sudah termasuk  PPN.” Cetus Mentri SDM Purnomo Yusgiantoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh kebayanga deh peningnya kepala wong cilik sekarang ini. Belum juga reda efek dari kenaikan BBM pada tahun 2005 mereka harus menerima kenaikan tersebut tentunya dengan dampak yang (akan) lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berpikir, sangat ironis dan kontradiktif sekali. Satu sisi pemerintah berkoar dengan tetap pada pendiriannya untuk menaikan BBM namun disisi lain pemborosan dan ppencurian uang Negara tidak dihentikan. Ini kan lucu, bagaikan menambal ember yang bocor namuan lubang yang lain dibiarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan kita tentang kasus suap anggota DPR kita. Sangat berlawanan sekali. Dalam waktu bersamaan uang mengalir dengan Cuma-Cuma dan terlarang, namun bersamaan dengan itu banyak para rakyat menjerit karena kelaparan dan kesusahan. Kalaupun toh uang itu bisa diselamatkan dan bisa diamankan mungkin bisa lebih baik dan diterima oleh yang haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah memang pusing mendiskusikan masalah Negara ini, banyak sekali kelucuan dan keanomaliaan yang justru kita bersama sadari dan terjadi diantara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu, para wakil rakyat kita berpikir bersama dengan  kepala dingin yang berhati nurani. Bagaimana kalau kemewahan yang tuan-tuan rasakan tiba-tiba lenyap. Bagaimana jika kekayaan yang tuan-tuan miliki sekarang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang kenaikan BBM tersebut adalah untuk menyelamatkan APBN Negara, kenapa kita tidak melakukan penghematan dulu. Toh ada jalan yang lebih halus dan tidak memnyebabkan madorot yang lebih besar. Misalnya bagaimana jika ada kebijakan untuk memotong 28% gaji pada wakil rakyat, karena jika berpikir “ke atas” mungkin gaji 40 juta bagi pada wakil rakyat tersebut mungkin tidak cukup. Tapi pernahkan berpikir bahwa banyak rakyat-rakyat (kalian) yang mungkin hari ini saja masih bingung untuk apa dibandingakn tuan-tuan yang memang tinggal memilih mau makan apa sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja saya tidak menyatakan Mosi tidak percaya pada SBY yang janjinya tidak akan menaikan BBM setelah kenaikan BBM pada tahun 2005. benar sekali BBM memang (barang benar murah) untuk dijadikan sebagai alat kampanye dan buayan pada rakyat. Janji tinggal janji. Kami rakyat kecil disini hanya bisa meratapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat BLT bukan jalan keluar. Itu sama saja menyuruh rakyat malas hanya dengan uang 100 ribu yang hanya cukup untuk 3 hari. Namun deritanya sepanjang masa. Berikan kail bukan ikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-9136456322419859967?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/9136456322419859967/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=9136456322419859967' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/9136456322419859967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/9136456322419859967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2008/05/kekhawatiran-itu.html' title='Kekhawatiran itu….'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-6028237829265931765</id><published>2008-05-24T23:46:00.000+08:00</published><updated>2008-05-24T23:47:09.686+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-6028237829265931765?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/6028237829265931765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=6028237829265931765' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/6028237829265931765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/6028237829265931765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2008/05/blog-post.html' title=''/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-1855692275795027819</id><published>2008-05-24T23:45:00.001+08:00</published><updated>2008-05-24T23:47:46.698+08:00</updated><title type='text'>Kenaikan BBM sampai moralitas...</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya harus cepat-cepat pulang hari ini, coz kemarin saya sudah nelpon ke rumah untuk rapat MDA hari ini. Duh pengennya gak pulang, maklum sekarang ada mainan baru. Ternyata Wifi di laptopku sekarang sudah jalan, jadinya bisa internetan gratisan. Dari tadi pagi bis shalat subuh langsung tancap gas online di mesjid. Tak terasa memang waktu udah jam7 lagi, matahri terbit dan orang-orang pada lalu lalang melihat saya yang sedang asyik dengan laptop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sedikit punya kemaluan saya akhiri saja, kita beranjak pada aktifitas yang lain. Pengennya nyuci tapi males juga, udah ah nonton tv dulu. Tapi ternyata tarikan browsing sangat kuat sekali. Ah saya pengen buru-buru ngeberesin kerjaan, langsung aja masak nasi dengan kawan saya, sambil nunggu merendam saya beli gorengan untuk makan. Dah makan n ngejemur langsung saja ke depan Saintek, disana online sampai adzan. Karena adzan juga yang memanggil malu dong (pada allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bis shalat dzuhur ke ruang tiv sekedar melihat berita saja, bagaimana sih reaksi dan berita-berita tentang kenaikan BBM. Duh karena ngantuk berat tak terasa ketiduran di kursi ruang TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dah langsung aja cabut pulang ke rumah. Wah benar juga ternyata kenaikan BBM sangat berpengaruh sekali, tadi pas pulang naik angkot ternyata biasanya Rp.2000 tukang angkotnya masih ngomong minta tambahan. Dasar karena udah dijodohin dengan penghematan juga, tangan saya yang saya masukan ke saku nyangkut di uang Rp.500. ya sudah saya berikan saja uang tersebut, dan ternyata tukang angkot itu sudah tidak bicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oia, sekarang rapat MDA untuk persiapan ulangan umum. Eh benar jelek-jelek gini juga di rumah kebetulan jadi Kepala sekolah di MDA Darul Amanah, jadinya otomatis dong saya harus memimpin rapat. Rapat awalnya sih berjalan lancer namun ternyata setelah mendengar laporan dan evaluasi setiap guru dari masing-masing kelas, duh ada rasa kesal ternyata sekrang disiplin para murid sudah kurang. Bahkan sekarang banyak murid-murid yang sudah besar sudah berani membalas perkataan gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipikir waktu saya kecil gak ada deh yang gituan teh, mana mungkin murid melawan guru. Guru yang digugu dan ditiru ternyata sekrang sudah berubah. Dan mungkin ini juga tidak bisa kita salahkan sepoenuhnya pada guru, dan memang dampak dari &lt;span style="font-size:180%;"&gt;pergaiulan&lt;/span&gt; jaman sekrang anak-anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah besar sekali dampak dari kemajuan ternologi dan globalisasi saat ini. Moralitas anak-anak muda sangat menghawatirkan. Bagaimana ya ntar anak cucu saya?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-1855692275795027819?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/1855692275795027819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=1855692275795027819' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/1855692275795027819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/1855692275795027819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2008/05/kenaikan-bbm-sampai-moralitas_24.html' title='Kenaikan BBM sampai moralitas...'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-5619151902856397077</id><published>2008-01-20T21:27:00.000+08:00</published><updated>2008-01-20T21:28:07.878+08:00</updated><title type='text'>Wakil Rakyat Dan Taman Kanak-Kanak</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Aneh betul para wakil rakyat di Negara Indonesia ini. Sebut saja salah satunya adalah DPR &lt;span class="fullpost"&gt;(&lt;/span&gt;yang katanya&lt;span class="fullpost"&gt;)&lt;/span&gt; Dewan Perwakilan Rakyat, yang mana mereka mewakili segalanya rakyat-rakyatnya, ya kepentingannya, ya aspirasinya, ya penderitaannya dan ya-ya yang lainnya. Namun justru segalanya itu tak terwakili pada tidak-tanduknya, bahkan semua perilakunya –kalau tidak disebut jauh- kurang benar-benar mewakili rakyat atau kalau dalam pribahasa mereka itu jauh panggang dari pada api. Alih-alih mewakili kepentingan rakyatnya, nyatanya DPR tak lebih dari memperjuangkan untuk kepentingan pribadi-pribadi, kesenangan diri sendiri, dan kelompoknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Maka tak salah jika Gus Dur saja menyindir para anggota DPR tak lebih seperti taman kanak-kanak. Jerit-menjerit penderitaan rakyatnya di luar gedung DPR dengan penuh kesusahan dan penderitaan, eh para wakil rakyat yang ada di DPR Cuma bisa tidur-tiduran dan leha-leha yang Cuma setor muka untuk dapat uang duduk belaka. Ya, kebanyakan para wakil rakyat tersebut malah asiknya dengan kenyamanannya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Contoh konkrit saja, misalnya tentang pembelian laptop bagi setiap anggota DPR, renovasi gedung DPR yang sebanarnya jauh dari kata tidak layak pakai dibandingkan dengan rumah-rumah rakyatnya yang memang jauh dari kata layak pakai. Bahkan gedung DPR itupun dibentengi dengan benteng sebagai pagar pembatas yang sangat kokoh dan tinggi, yang bisa saja kita tafsirkan sabagai sebuah pembatasan. Bahwa yang ada di dalam gedung itu mahluk-mahluk istimewa dan yang di luar gedung itu adalah rakyat biasa. Bisa jadi para anggota DPR tersebut –ga tau pura-pura atau memang nyata- amnesia bahwa gedung tersebut adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka dari tesis tersebut tentunya rakyat bisa dengan leluasa untuk menyatakan atau memberikan masukan atas segala kinerja dan keluhan-keluhan tanpa harus menemui jalur birokrasi dan keprotokoleran yang justru ribet dan mempersulit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Tak sampai disana, bahkan baru-baru ini para DPR seperti terjangkit &lt;i&gt;syndrome&lt;/i&gt; “study banding” bahkan parahnya virus itu dari tahun ke tahun sepertinya tak menemui jalan akhir, dengan dalih study banding -yang mungkin tidak teramat penting itu- para wakil rakyat itu semena-mena plesiran dengan menggunakan uang Negara. Nyatanya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dengan dalih &lt;i&gt;aji mumpung&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;para keluarga pun mereka ajak bersama ke luar negri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sebenarnya jika kita berpikir lebih jernih dan cermat, study banding tersebut tidak saja kurang efektif bahkan seperti menghamburkan uang yang di illegalkan bahkan tidak dengan biaya yang sedikit pula. Juga jika kita berpikir lebih –meminjam istilah B.J. Habibie- &lt;i&gt;Hightech, &lt;/i&gt;study banding tersebut mengabaikan azas kemajuan teknologi. Sebab pada sejatinya dengan kemajuan teknologi di era informasi dan komunikasi ini, apa sih yang susah? Untuk study banding, ganti saja dengan duduk di depan computer lalu dengan internet kita bisa &lt;i&gt;browsing&lt;/i&gt; dengan tanpa batas. Toh itu sama saja substansinya dengan study banding yaitu mempelajari dan membandingkan konsep, tanpa harus keluar negri sekalipun sebenarnya bisa&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Raport Merah Anggota DPR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dari gambaran diatas memang kinerja pada wakil rakyat tersebut jauh dari harapan bahkan nilainya merah. Termasuk dalam pembuatan undang-undang yang mana merupakan domain &lt;i&gt;legislative&lt;/i&gt; / DPR. Analisis penulis kaitannya dengan pembuatan undang-undang ini, para anggota DPR sepertinya membuat undang-undang atas dasar &lt;i&gt;suka-suka gue&lt;/i&gt;, produk undang-undang di Indonesia seperti tidak mempunyai nilai kesakralan sebab dibuat dengan asal-asalan, bahkan kadang dibuat dengan tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan “produk” yang dibuat sebelum. Wal hasil tumpang tindihlah yang jadi, antara undang-undang dengan peraturan yang berada dibawahnya terjadi disharmoni bahkan bertolak belakang dan sampailah ke meja MK untuk &lt;i&gt;judicial review&lt;/i&gt; /peninjauan kembali. Maka Dengan seringnya Mahkamah Konstitusi mengabulkan &lt;i&gt;judicial review&lt;/i&gt; / uji materil, menandakan anggota DPR tidak dengan serius merumuskan draft bahkan mungkin tidak melibatkan pada pakar untuk menghasilkn draft akademik yang koheren dan konsisten.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Banyak undang-undang yang bertentangan dengan peraturan yang berada dalam hirarkie dibawahnya, mencerminkan bahwa para anggota DPR dalam merumuskan undang-undang ini terkesan asal-asalan tanpa mempertimbangkan sana-sini. Bahkan dalam perumusan undang-undangpun DPR terkesan menghindari debat public dan dengan diam-diam menyelundupkan pasan-pasal “pesanan” yang penuh dengan deal-dealan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Kecurigaan ini wajar adanya. Sebab bukan hal yang baru bahwa ada negosiasi-negosiasi dan transaksi dalam pembahasan undang-undang oleh DPR di parlemen. Kasus nyata adalah seperti Surat Ketua BPK, Anwar Nasution pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang pengeluaran dana RP. 31,5 Miliar ke DPR yang terkait dengan pembahasan UU Bank Indonesia [&lt;i&gt;Editorial&lt;/i&gt; Media Indonesia, 14/01].&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Dan Montesqiu-pun Menangis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Jika saja Montesqiu masih hidup, tentu ia akan menangis tersendu-sendu dengan hati yang kesal dan gemas. Betapa tidak apa yang menjadi buah pikirannya tentang &lt;i&gt;Trias politika&lt;/i&gt;, yang mana dijalankan di Indonesia memang jauh sekali dari inti ajarannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Legislative&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang mana bertugas pembuat konstitusi / undang-undang mestinya membuat undang-undang tersebut atas dan dengan dasar kepentingan rakyat. &lt;i&gt;Eksekutif&lt;/i&gt; pun harus mampu menjalankan dan melaksanakan amanat rakyat yang tertuang dalam konstitusi tersebut dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab. Dan yang terakhir &lt;i&gt;Yudikatif&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang sejatinya mengawasi para pembuat dan yang menjalankan konstitusi / Undang-Undang jika saja mereka menyalahi dan keluar dari jalur yang telah ditentukan, bukannya yudikatif sendiri yang melanggar dan melakukan tindakan yang menyalahi tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Negara Indonesia memang masih jauh dari konsep &lt;i&gt;dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat&lt;/i&gt;. Walaupun sebenarnya jalan dan tata caranya sudah –menuju dan- menyerupai ke sana. Contohnya dengan melibatkan rakyat secara langsung dalam menentukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemimpin sesuai dengan pilahannya. Namun pada dasarnya domain-domain kenegaraan yang lebih penting yaitu atas nama kepentingan rakyat semuanya –masih- terabaikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Hidupkan (kembali) hati nurani wakil rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Permasalahan yang mendasar dari masalah-masalah ini adalah beranjak dari hati nurani. Hati nurani para wakil rakyatlah yang –kalau tidak mau dikatakan mati- sedang tidur terlelap. Hal ini menyebabkan mereka imsomnia pada tugas dan kewajiban utama mereka pada rakyat –dan bukan menyibukan diri pada tuntutan hak-. Adalah kewajiban kita bersama untuk saling mengingatkan dalam rangka &lt;i&gt;tawasabil haqi watawa saubil sobri&lt;/i&gt;, agar hati nurani para wakil rakyat tersebut lebih sensitive dan lebih peka terhadap penderitaan rakyat yang mana merupakan yang diwakilinya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Karena jika saja keadaan para wakil rakyat seperti ini terus. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Yang dengan embel-embel “wakil rakyat” para wakil rakyat tersebut berjalan sendiri-sendiri, bahkan seperti terkesan berjalan –meminjam istilah dalam gaya renang- dengan gaya katak (menyingkirkan orang lain). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maka satu-satunya jalan adalah kenapa tidak Recall saja pada wakil rakyat itu?.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Hanya saja kita –para rakyat- tidak punya (ke)kuasa(an)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu hal itu –merecall-. Karena yang mempunyai kuasa “recall-recallan” para wakil rakyat tersebut adalah partai yang diwakili dan inilah yang menjadi keanomalian berikutnya yang ternyata sssttt…mereka itu wakil partai bukan wakil rakyat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Lalu bagaimana caranya? Oia, begini saja nanti pas Pemilu 2009 mendatang, mau tidak mau dan suka tidak suka, kita jatuhkan saja mosi tidak percaya pada partai-partai yang memiliki kader-kader yang lebih setia pada partainya ketimbang rakyat dan partai yang selalu habis-habisan memperjuangkan hak-hak partainya ketimbang kewajiban mereka para rakyat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Maka akankah para anggota DPR itu masih saja seperti kumpulan taman kanak-kanak. Kita lihat saja dengan kritikan ini semoga saja mata mereka tidak buta, telinga mereka tidak tuli, dan nurani mereka tidak tertidur –bahkan mati-. Rakyat tidak butuh dengan “mulut-mulut” yang hidup sampai berbusa tanpa ada bukti. Kami butuh bukti bukan janji. Itu saja.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-5619151902856397077?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/5619151902856397077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=5619151902856397077' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/5619151902856397077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/5619151902856397077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2008/01/wakil-rakyat-dan-taman-kanak-kanak.html' title='Wakil Rakyat Dan Taman Kanak-Kanak'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-7956261153221017022</id><published>2008-01-20T21:23:00.000+08:00</published><updated>2008-01-20T21:25:51.577+08:00</updated><title type='text'>Parta politik dan “goyangan” para Artis.</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Menarik sekali mengamati perkembangan perpolitikan di Indonesia saat ini. Wajah demokrasi –dimaknai kebebasan mengeluarkan pendapat dan hak untuk berserikat- selalu mewarnai segala pola politik di negri ini. Partai politik menjelang perhelatan politik paling akbar di Negara dengan 200 juta jiwa penduduk ini merupakan lembaga layaknya “kawah candradimuka” yang siap melahirkan para politikus-politikus ulung. Sebab tidak bisa dinafikan bahwa partai politik merupakan kendaraan utama untuk berlaga di kancah perpolitikan nasional.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Partai politik merupakan salah satu variabel yang mempunyai “(ke)kuasa(an)” untuk melahirkan pemimpin-pemimpin. Maka praktis rakyat harus memilih parpol tertentu yang (mungkin) bisa mewakili aspirasi dan kepentingannya. Sebab tidak bisa diingkari bahwa banyak para wakil rakyat tersebut banyak berasal dari kepartaian –yang memang selain dari kepartaian, ada juga perwakilan dari daerah-daerah (DPD)- namun tetap poros kekuatan politik (masih) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berada pada wakil rakyat dari partai politik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sebenarnya walaupun pada prateknya, saat ini rakyat memilih para pemimpinnya secara langsung, namun yang tidak bisa dielakan adalah bahwa pemimpin-pemimpin yang dipilih tersebut adalah berasal dari kepartaian, walaupun tesis calon independent - yang bisa mencalonkan diri tanpa harus melalui parpol- masih dalam perumusan dan perdebatan, namun tetap parpol merupakan “pendidikan politik” yang hingga saat bini dianggap terbaik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Maka saban pemilu atau jauh-jauh sebelum pemilu dilaksanakan parpol seperti menyibukan diri untuk menarik simpati dari rakyatnya. Tujuannya Cuma satu yaitu ketika pemilu merasih suara tarbanyak dan mendulang kemenangan. Dan jalan menuju sanapun bermacam-macam, seperti salah satunya dengan merekrut artis menjadi kader partai. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Partai politik sepertinya “tergoda” dengan “goyangan” para artis, tertarik dengan kiprah kepopuleran di mata rakyat, sehingga dengan menjadikan artis sebagai icon partainya, harapannya rating partainya bisa mendongrak dan kecipratan popular. Misalnya Apa yang dilakukan oleh PDIP dengan merekerut Rana Karno yang diikuti oleh adiknya Suti Karno dan yang dilakukan oleh Rieke Dyah Pitaloka -yang menyebrang dari PKB-. Memang benar, bukan saja PDIP yang menggunakan daya tarik “goyangan” para artis untuk mendongrak kepopuleran partainya, jauh sebelumnya banyak partai lain juga yang menjadikan artis-artis sebagai daya tarik Marisa Haque yang berpindah dari PDIP ke PPP, lalu PAN dengan Dede Yusufnya adalah contoh nyata keterlibatan artis dalam partai politik, bahkan dalam Pilkada-pilkada disetiap daerah sekalipun rupanya peran artis dalam kampanye-kampenye pada calon tidak bisa kita elakkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Penulis memandang dengan tempuhan jalan instan yaitu merekrut artis sebagai bagian dari partai untuk meraih simpati rakyat merupakan indikasi kegagalan partai dalam proses pengaderan yang tidak berkesinambungan dan konsisten membina anggota yang berdaya jual dimata rakyat. Kenapa penulis katakan jalan instan? Sebab –bisa sebuah keraguan- bagaimana mungkin artis yang notabenenya hidup dengan penuh glamour dan hedonisme, dalam waktu yang sekejap memangku tanggungjawab dengan landasan ideology partai yang bersangkutan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Namun yang perlu dicatat adalah bahwa kebijakan partai ini selain memberi keuntungan pada partai dan artis dengan “alih profesi” sepertinya -kalau tidak mau dikatakan tidak- belum dibarengi dan berpengaruh pada percepatan kesejahteraan rakyat. Bisa dikatakan “jalan pintas” ini &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;langkah &lt;i&gt;win-win solution&lt;/i&gt; antara artis dan parpol.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Namun yang perlu disayangkan adalah dalam proses pembangunan kedewasaan dalam demokrasi ini dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat tidak bisa dibangun dengan fondasi yang rapuh. Partai politik yang melibatkan artis yang hanya sebagai &lt;i&gt;vote getter &lt;/i&gt;belaka seperti membangun pondasi yang rapuh, buktinya praktis artis yang masuk partai tertentu mendapatkan tempat dan kedudukan yang lumayan penting di partai tersebut. Hal ini bisa berekses negative kepada kader-kader yang lain yang memang merintis dengan “menghambakan pada proses” dan bersusah payah dalam menggapai kedudukan tertentu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Maka dengan tulisan ini mudah-mudahan menjadi –sekedar- cubitan baik bagi partai politik dan artis yang terlibat dalam kepartaipolitikan. Bagi partai politik semoga saja dalam proses pembangunan demokrasi ini, membangun dengan &lt;i&gt;political education&lt;/i&gt; yang “menghambakan” pada proses ketimbang hasil. Hasil yang didapatkan dengan instant –walaupun tercapai keinginannnya- tidak akan bertahan lama dibandingkan dengan hasil yang didapatkan dengan proses -walaupun didapatkan dengan berkali-kali- akan menciptakan sebuah kultur yang kuat..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan tentu bagi para artis yang “beralih karir” semoga dengan keraguan dan pandangan sebalah mata penulis ini menjadi cambukan untuk berkarya atas nama dan dengan rakyat. Jangan sampai artis-artis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang -justru beruntung- menjadi wakil rakyat kelak, malah lupa dan terlibat dalam “politik berjamaah yang kotor” yang membohongi rakyat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Terakhir bagi rakyat-rakyat seperti saya ini, jangan pernah riasu dan tertipu oleh “goyangan” para artis. Kita percaya bahwa artis-artis yang terjun ke dunia politik ini - meminjam istilah Ari Sujito, seorang pengamat politik dari UGM Yogyakarta- hanya sebuah “pertujukan politik belaka”. Kita tunggu saja sepak terjang partai politik yang menggunakan tenaga para artis, dan para artis yang melibatkan diri pada partai politik.. Saat ini rakyat butuh bukti bukan janji, butuh tebar aksi ketimbang tebar pesona belaka.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-7956261153221017022?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/7956261153221017022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=7956261153221017022' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/7956261153221017022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/7956261153221017022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2008/01/parta-politik-dan-goyangan-para-artis.html' title='Parta politik dan “goyangan” para Artis.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-4096185675656013099</id><published>2007-10-25T18:31:00.000+08:00</published><updated>2007-10-25T18:35:06.014+08:00</updated><title type='text'>“Maaf “: antara dari hati dan tradisi.</title><content type='html'>Tak terasa Idul Fitri telah berlalu. Idul Fitri merupakan klimaks dari proses metamorfosis manusia-manusia yang “dipenjarakan” dalam “penjara” Ramadhan. Janji Allah SWT Idul Fitri adalah proses kembalinya fitrah manusia bagi yang benar-benar memanfaatkan ramadhan dengan sebaik-baiknya. Kenapa dikatakan proses? Sejatinya, diharapkan kegiatan yang penuh dengan spiritualitas pada bulan penuh hikmah itu, tidak saja berjalan dan dilakukan hanya semata pada bulan tersebut. Tapi jauh dari itu, 11 bulan selanjutnya seharusnya tidak kalah produktifnya dengan amalan-amalan kebaikan yang dikerjakan pada bulan ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak  salah jika moment Idul Fitri juga digunakan oleh setiap orang sebagai ajang saling memaafkan. Kalimat “Mohon maaf lahir batin” rasanya tidak asing ditelinga kita, di iklan-iklan ditelivisi, radio atau baligho-baligho yang dipajang di jalan-jalan atau bahkan diri kita sendiri yang secara spontan mengucapkan kata-kata itu baik secara langsung ataupun tidak langsung seperti dengan silaturahmi atau melalui SMS, kartu ucapan dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, kegengsian dan keengganan melebur menjadi ketulusan untuk meminta dan memberikan maaf. Padahal bukankah kita acapkali merasa gengsi dan berat hati untuk meminta maaf? Sekalipun melakukan kesalahan dan menyebabkan ketersinggungan perasaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang harus menjadi catatan sekarang, apakah sikap saling memafkan itu memang benar-benar muncul dari dalam hati kita atau hanya sebatas tradisi belaka. Melihat fenomena yang terjadi, sungguh menggambarkan hal itu. Ungkapan meminta maaf dilakukan secara massif dalam bentuk yang macam-macam seperti iklan-iklan di media massa atau poster dan baligho-baligho di jalanan yang mana dilakukan oleh beberapa tokoh atau pejabat tinggi Negara, dengan tujuan jangka panjang (baca:politik). &lt;br /&gt;Hakikat kata maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran islam sangat intens terhadap permasalahan maaf-memafkan. Islam membenci segala hal yang berhubungan dengan perselisihan dan permusuhan. Bahkan Rosulullah SAW mengencam bagi siapa saja orang mukmin yang bermusuhan dengan saudaranya diatas tiga hari maka haram baginya surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf muncul dan mampu melahirkan dari perasaan bersalah baik disadari ataupun tidak disadari. Setiap tindakan manusia tidak terlepas dari hukum aksi-reaksi. Segala perbuatan kita tidak bisa bebas dari domain orang lain, oleh karenanya manusia merupaka mahluk social. Maka tidak menutup kemungkinan jika suatu tindakan manusia mudah melahirkan berbagai kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsof Hannah Arendi (1906-1975) seperti diuraiukan Maurizio Passerin d’Entreves dalam Stamford Encylofedia of Philosophy, 2006, mengemukakan bahwa tindakan manusia pada dasarnya memiliki dua sisi utama, yaitu tidak dapat diperkirakan (unpredictability) dan tidak dapat dibatalkan (irreversibility).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya suatu tindakan menjadi tidak mampu diperkirakan sebab tindakan itu sendiri merupakan manifestasi dari kebebasan manusia. Karena tindakan berlangsung system jaringan-jaringan hubungan social manusia dengan sedemikian majemu, maka tidak ada satu pelaku dari tindakan tersebut yang mampu mengendalikan dampaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar tindakan manusia yang tidak dapat diperkirakan dan tidak dapat dikendalikan dampaknya, muncullah berbagai kesalahan. Beranjak dari kesalahan-kesalahan itulah muncul sikap minta maaf. Sikap ini sangat penting dalam rangka sikaf permisif (saling terbuka) terhadap berbagai kesalahan yang telah di lakukan, labih jauh dari itu dalam sikap ini dihutuhkan dua sikap lainnya yaitu memaafkan (forgiving) dan berjajni (promising).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta maaf dan memaafkan adalah proses kotempolasi terhadap kesalahan masa lalu yang mungkin sadar atau tidak melakukan kesalahan dengan tujuan membebaskan diri kita secara hubungan vertical dengan sesama manusia (habluminannas) ataupun secara horizontal yang langsung dengan Allah SWT (habluminallah). Lalu berjanji (promising) adalah  beritikad pada diri sendiri untuk menghadapi masa depan dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian agar kesalahan-kesalahan tersebut tidak terulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi hakikat maaf adalah proses kebesaran jiwa untuk mengakui kesalahan diri sendiri dan orang lain yang muncul atas ketulusan untuk saling memaafkan juga disertai proses perjanijan untuk tidak mengulangi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dalamnya hakikat dari maaf tersebut sehingga proses tersebut tidak saja mempunyai efek pada psikologis dengan hadirnya ketenangan hati, kelegaan, suasana batin yang senang, juga memilikki dimensi etis dalam rangka mencapai rekonsiliasi.&lt;br /&gt;Kalimat “Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf lahir bartin” kiranya memawakili dimensi etis tersebut. Dimensi etis yang hadir atas keterkitan dengan Allah SWT yang terejawantahkan dalam kalimat “Mina Aidzin Walfaidzin” dan keterkaitan hubungan sesama manusia yang tergambar dalam kaliamt “Mohon maf Lahir Batin” dan &lt;br /&gt;Tiada kata terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya tiada kata terlambat untuk saling memaafkan. Dan moment Idul Fitri adalah bukan satu-satunya kesempatan untuk saling maaf-memaafkan. Meminta maaf sebaiknya dilakukan sesegera mungkin, ketika tersadar melakukan kesalahan. Dan memaafkan adalah sikap kelapangan hati untuk bisa memberikan maaf kepada orang lain yang melakukan salah kepada kita, dan menjadi tidnakan yang mulia ketikakita sudah memaafkan jauh sebelum orang yang melalukan salah kepada kita meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunda meminta maaf atau memberi maaf hanya sebatas pada momentum Idul Fitri adalah kurang tepat dan bijak. Sebab yang bisa menjamin diri kita esok hari masih bisa hidup dan bertemu dengan Idul Fitri tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CP:085222538565&lt;br /&gt;OKI SUKIRMAN&lt;br /&gt;Mahasiswa UIN SGD BDG Jurusan Jurnalistik. Aktif di HMI Kom. Dakwah dan Komunikasi. Pegita Kliq creative dan pengelola web: www.oki-online.co.cc&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-4096185675656013099?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/4096185675656013099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=4096185675656013099' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/4096185675656013099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/4096185675656013099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/10/maaf-antara-dari-hati-dan-tradisi.html' title='“Maaf “: antara dari hati dan tradisi.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-8594761949232299836</id><published>2007-10-25T18:29:00.000+08:00</published><updated>2007-10-25T18:31:39.071+08:00</updated><title type='text'>Pendidikan mencerdasakan jiwa dan raga</title><content type='html'>“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk indonesia raya”. Penggalan lirik lagu kebangsaan Indonesia karya Wage Rudolf Supratman ini tak asing lagi ditelinga Masyarakat Indonesia. Setiap upacara dan kegiatan-kegiatan formal kenegaraan atau yang lainyalagu tersebut sering dinyanyikan. Tapi apakah kita pernah merenungi sejenak pesan yang terkandung dalam kalimat tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik untuk dikritisi dengan pendidikan kita saat ini kaitannya dengan output (hasil) yang dirasakan. Bukan rahasia lagi jika realita saat ini, tujuan pendidikan indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa belum sepenuhnya tercapai.  &lt;br /&gt;Pendidikan sebagaimana kita ketahui dan rasakan merupakan sebuah entitas penting bagi hidup manusia. Tanpa pendidikan, maka manusia saat ini tak jauh berbeda dengan keadaan pendahulunya pada jaman purbakala. Asumsi ini melahirkan sebuah teori yang ekstrim, bahwa maju mundurnya suatu bangsa  akan ditentukan oleh keadaan pendidikan yang dijalani bangsa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan proses mulia yang tidak saja tuntutan hidup bagi manusia yang merupakan anjuran Allah SWT dengan jaminan menaikkan beberapa derajat disisi-Nya (Q.S. Al-Mujadalah:12), namun juga sebuah tuntutan hidup untuk saat ini yang tidak bisa ditawar lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, pendidikan merupakan jalan keluar untuk menciptakan karakter yang tangguh, berbudaya tinggi dan memiliki mul-tiple intelegencia yang saling mengisi. Juga menjadi kekuatan untuk mengubah ketakberaturan ke arah keteraturan, kebobrokan moral ke arah mahasin al-ahlaq, kekeringan spiritual ke arah power spiritualism –bukan bigoted of spiritualism. (Lihat Fahd Pahdepie, 2006). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun realitas tak pernah muncul bersama wajah dusta. Kita lihat bersama berapa banyak manusia-manusia yang “berpendidikan” hadir dengan wajah yang menampakkan karakter dan “wajah” yang (seolah) “tak berpendidikan”.  Bukankah korupsi  besar-besaran  –yang telah menjadi penyakit akut bangsa indonesia ini- dilakukan oleh manusia-manusia berdasi yang berpendidikan tinggi. Dengan realitas tersebut, memunculkan hipotesa sementara, bahwa –mungkin- ada yang salah dengan pendidikan di Indonesia saat ini. Lalu muncul sebuah  pertanyaan, apa yang salah dengan pendidikan kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan di indonesia dari mulai dasar sampai perguruan tinggi jelas mempunyai kurikulum yang sungguh “mulia”. Namun yang menjadi kelemahan dan penyakit klasik bangsa ini adalah pada tataran aplikasinya yang jauh panggang dari pada api. Meminjam istilah AM Saepudin bahwa Ilmu dalam tataran pendidikan kita hanya dimaknai dan pahami sebagai ilmu belaka (AM Saepudin, 19898:76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kurikulum yang dijalankan sekarang sungguh belum bisa menjawab segala permasalahan yang datang silih bergantian. Pergantian beberapa kali kurikulum di indonesia dalam perspektif penulis merupakan proses menuju model pendidikan yang cocok bagi bangsa indoensia dalam membentuk karakter output yang tangguh dalam menghadapi  segala badai masalah di indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini penulis mencoba sedikit memberikan sebuah solusi, kaitannya dengan moralitas bangsa indonesia yang hari ke hari jauh dari nilai pendidikan.&lt;br /&gt;Dari penggalan lagu kebangsaan bangsa kita di atas, sebenarnya telah tersirat pesan yang begitu dalam dalam memberikan sebuah soslusi pemecahan untuk menjawab segala masalah yang timbul. Seharusnya pendidikan beranjak dari pendidikan yang membangun tidak saja aspek badannya, tapi juga jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan penulis, pendidikan indonesia saat ini hanya menyentuh aspek “badan” saja. Maka jangan heran jika ukuran kesuksesan pendidikan hanya bermain dalam angka-angka. Pendidikan dibilang berhasil jika murid didik mendapatkan hasil atau nilai yang tinggi dan memuaskan. Atau lebih tegasnya pendidikan di indonesia saat ini hanya bertumpu pada intelektualitas semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan rahasia lagi bahwa hari ini ukuran kesuksesan tidak semata menjadikan  IQ (intelegencia quotien) sebagai tolak ukur kesuksesan seorang. AM Saepudin (1999) mengemukakan saat ini kehidupan di muka bumi telah mengalami semacam kelalahan intelektul. Maka muncullah aspek lain yang sangat  diperhitungkan sebagai landasan kesuksesan kehidupan manusia yaitu SQ (spiritual qoutien), EQ (emotional question).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SQ dan SQ adalah sebuah konstruk perpaduan antara hubungan horinzontal (habluminnallah) dengan Allah SWT dan hubungan vertikal dengan sesama manusia (habluminanas). IQ, SQ dan EQ merupakan sebuah upaya sempurna yang menyatukan aspek terpenting dalam kehidupan manusia yang sesuai dengan tuntutan Allah SWT. Ketiganya haruslah dijalankan dengan bersamaan tanpa bisa dipisahkan satu sama lain.&lt;br /&gt;Maka pendidikan yang dijalankan saat ini, setidaknya harus banting setir dari hanya menjadikan manusia pinter tapi kablinger menjadi manusia pinter yang bener. Yaitu pendidikan yang tidak saja mementingkan aspek intelektual namun pendidikan dengan landasan kecerdasan spiritual dan emotional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang kita rasakan pendidikan yang berlandaskan SQ dan EQ dari mulai pendidikan dasar sampai menengah atas bisa dibilang kurang. Contoh pelajaran yang memang mewakili kedua landasan  tersebut, PKN (pendidiakan kewarganegaraan) dan Pelajaran Agama. Kedua mata pelajaran tersebut sungguh kurang dan sampaikan dengan jam pelajaran yang sebentar. Maka jangan heran jika output yang dihasilkannya pun tidak memuaskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Jiwa dan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pendidikan yang terlahir dari inspirasi penggalan lagu Indonesia Raya, bahwa pendidikan tidak saja bertumpu pada “badan” saja tapi pendidikan harus melibatkan jiwa. Sehingga tercipta kesinergisan dalam membentuk manusia yang berkarakter “keindonesian” yang mampu membawa Indonesia dari jurang kenistaan. Bahkan bapak bangsa kita, bung karno berwasiat bahwa pembangunan nasional –haruslah- bermakna pembangunan bangsa dan karakter bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan. Demi kemajuan bangsa Indonesia sudah saatnya pendidikan berorientasi pada output yang daya guna dan siap guna dengan pembekalan yang seimbang antara jiwanya dan badannya. Pada akhirnya melahirkan manusia-manusia beriman, berpengetahuan, yang satu sama lainnya saling menunjang (lihat SS. Husein dan S.A. Ashraf, 1979). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini merupakan tanggung jawab kita semua. Terlebih dengan keadaan bangsa yang sedang mengalami krisis. Seperti peringatan Allah SWT dalam Q.S. Al-Hasr: 12, bahwa hendaklah kita takut jika kita meninggalkan generasi di belakang kita merupakan generasi lemah. Lemah dalam pendidikan, lemah ekonomi, lemah politik, bahkan jangan sampai lemah pada agama. Naudzubillahmindalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*: Penulis adalah Kepala Sekolah MDA Darul Amanah, Jatinangor Sumedang. &lt;br /&gt;www.oki-online.co.cc&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-8594761949232299836?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/8594761949232299836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=8594761949232299836' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8594761949232299836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8594761949232299836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/10/pendidikan-mencerdasakan-jiwa-dan-raga.html' title='Pendidikan mencerdasakan jiwa dan raga'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-7882554323750395551</id><published>2007-10-24T22:07:00.000+08:00</published><updated>2007-10-24T22:09:52.704+08:00</updated><title type='text'>Memaknai Kebebasan Pers.</title><content type='html'>Wajah pers Indonesia hari ini memang tidak sesuram dulu. Begitu cerianya wajah pers, ketika noda-noda yang menghalangi kebebasan pers dibersihkan dengan dihapuskannya “kotoran” SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan). Kita semua harus bersyukur bahwa kran pers yang pada zaman orde baru disumbat atas nama kekuasaan pemrintah orde baru akhirnya dibuka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terlebih rasa syukur kita memang harus diapresiasikan dengan sangat, sebab jauh dibelahan dunia sana masih banyak negara-negara yang masih mengekang kebebasan untuk menyeruakan pendapat baik lisan ataupun tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh terdekat di Negara tetangga kita, Malaysia. Setelah saya menonton obrolan Anwar Ibrahim (Mantan Wakil Perdana Mentri Malaysia) dengan Andy F Noya pada acara Kick Andy yang ditayangkan Metro TV Minggu kemarin. Bahwa kebebasan pers di Malaysia memang sangat buruk. Kerajaan Malaysia tidak memebrikan ruang yang bebas terhadap kebebasan media. Sehingga pers disana seakan berada dalam sebuah runagan yang sempit yang dikunci rapat-rapat. Pers dijadikan sebagai corong kekuasaan kerajaan Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jangan heran, atas nama kemanusiaan dan nilai Hak Asasi Manusia (HAM) berita-berita kekerasan yang menimpa warga Indonesia di sana dari mulai TKI  sampai warga Indonesia yang berkunujung kesana, tidak mendapat tanggapan yang begitu nyaring dari rakyat Malaysia. Sebab memang pers sendiri seolah ditunggangi oleh pemerintah, yang otomatis segala berita yang “merugikan” kerajaan tidak boleh dan jangan disebarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan degan catatan-catatan tersebut potret pers di Malaysia bisa dibilang paling buruk. Dalam laporan tahunan indeks kebebasan pers, Reporters Without Borders (RSF) mencatat bahwa kebebasan pers di Malaysia mengalami kemunduran dari 32 tingkat menjadi urutan 124 dari 169 negara di dunia. Urutan ini merupakan peringkat terburuk yang diraih Malaysia sejak survei mulai dilakukan pada 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indoensia hari ini jauh berbeda dengan di Malaysia saat ini. Di Indonesia kebebasan mengeluarkan pendapat yang diatur dalam UU No.44/1999 yang berbunyi: “Kemerdekaan pers adalah suatu wujud kedaluatan rakyat yang berasaskan prinsip-prisnip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum” maka setiap orang dimanapun dan kapanpun mempunyai kebebasan untuk mengelurakan pendapat baik melalui lisan ataupun tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun timbul sebuah permasalahan, bahwa ternyata hari ini kebebasan yang telah dijalankan dengan sebebas-bebasnya, seperti yang dikemukakan oleh Indy Subandi bahwa pers indonedia layaknya burung yang baru saja lepas dari sangkarnya. Kita bahagia bahwa kuantitas media hari ini jauh berkembang pesat, bahkan pertumbuhan media bak cendawan di musim hujan, tumbuh di mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan setahun setelah terbitnya terbitnya UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, yang telah membawa angin segar memebrikan kekuatan sekitar 1.700 penerbitan baru muncul, yang sebelumnya hanya 289. sementara untuk Jawa barat yang sebelumnya hanya 10 penerbitan, bertambah sekitar 40 penerbitan. Dan hari ini mungkin tak terhitung lagi berapa jumlahnya. Sebab dengan di hapuskan SIUPP praktis setiap orang ataupun kelompok bisa mendirikan sebuah penerbitan tanpa dihantui pembredelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita senang dengan data pertumbuhan penerbitan penerbitan di Indonesia. Namun pertumbuhan tersebut hanya manis dalam kuantias dan  tidak dibarengi dalam aspek kunatitas. Maka jangan heran jika ada nada-nada miring yang mengatakan bahwa kebebasan pers hari ini telah mencapai kebablasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan itu tidak datang dari gigoan, setidaknya jika melihat ada sebagian media yang memberitakan dan menayangkan hal-hal yang jauh dari nilai dan etika kejurnalistikan. Atas nama komersial segala hal ini tubruk, entah aspek dampak yang timbulkannya ataupun kode etik jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mulai hari ini dan seterusnya harapan kita semua adalah bahwa rasa syukur kita atas kebebasan pers yang telah dialami adalah dengan semangat membangun negeri ini. membangun dengan dibarengi prinsip demokrasi, keadilan, kemanusiaan, keagamaan dan supremasi hokum. Semoga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-7882554323750395551?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/7882554323750395551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=7882554323750395551' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/7882554323750395551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/7882554323750395551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/10/memaknai-kebebasan-pers.html' title='Memaknai Kebebasan Pers.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-1406304473365051409</id><published>2007-09-18T23:14:00.000+08:00</published><updated>2007-10-12T11:10:46.076+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme-'/><title type='text'>Hima Jurnalistik Dulu, Kini dan Esok.</title><content type='html'>Tak terbantahkan permis yang mengatakan bahwa kampus sebagai sebuah inkubator- tempat melahirkan mahasiswa yang kritis kreatif, progresif. Sementara mahasiswa sebagai bagian dari kampus adalah penyandang gelar agent sosial of change. Mahasiswa merupakan sebuah termenologi  yang selalu hangat dan aktual untuk diperbincangkan, sebuah “dunia” yang tak pernah sepi dan surut dalam wacana dan obrolan. Dunia yang penuh lika-liku dan problimatika. Khususnya kita sebagai mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang pastinya duduk di jurusan Jurnalistik (Nu aing tea..) memang tidak luput dari perbincangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal Jurnalistik di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, maka sesuatu yang tidak bisa kita lewatkan juga adalah elemen terpenting dalam konstruks Jurnalistik UIN Sgd Bandung itu sendiri. Dan salah satunya adalah Hima atau Himpunan Mahasiswa Jurnalistik. Hima Jurnalistik merupakan organisasi kemahasiswaan yang tentunya “hanya” menampung barudakz jurnalistik, bisa dibilang Hima Jurnalistik merupakan “rumah” atau “kelas” kedua bagi mahasiswa Jurnalistik UIN Sgd Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan dan pembangunan Hima Jurnalistik kadang jarang kita perbincangkan. Menurut penulis ini urgen adanya,  apalagi saat ini kita merasakan pergerakan mahasiswa jurnalistik hanya berjalan di tempat (atau bahasa kerena mah, Stagnan). Harapannya tentu Hima Jurnalistik menjadi motor penggerak, yang bisa membakar semangat seluruh mahasiswa jurnalistik untuk bergerak dalam memberikan sesuatu yang berguna baik bagi dirinya, organisasi ataupun kampus tercinta kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisan ini, penulis tidak muluk-muluk dengan menghamburkan kata-kata dan olah wacana dalam pemberdayan Hima Jurnalistik ke depan. Ini merupakan harapan seorang mahasiswa yang ingin aktif dan mengaktifkan Hima Jurnalistik. Juga merupakan upaya menjadikan Hima Jurnalistik benar-benar menjadi “kelas” kedua, kawah candra dimuka bagi seluruh mahasiswa jurnalistik dimana mereka saling belajar, berbagi dan berkumpul untuk saling sharing cerita, ilmu dan pengalaman. (Yu mari…)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun Hima Jurnalistik hari ini tak lepas dari Hima Jurnalistik dulu. Kenapa? Sebab sejarah merupakan satu elemen pembentuk masa kini dan esok. &lt;br /&gt;Dalam tradisi Hima Jurnalistik tempo doeloe adalah jurnalistik terkenal dengan kekompakan dan kesolidan (satu hal yang buat penulis bangga sampai hari ini..). Jujur penulis merasakan aura yang berbeda, sewaktu penulis di OPAB dan meng-OPAB dan kegiatan-kegiatan Hima lainnya. Ada satu nilai kekeluargaan yang sangat erat. Canda tawa, kehangatan, kebersamaan menjadi bumbu yang sungguh membuat perasaan penulis seperti menemukan saudara sendiri. Selain itu juga Hima Jurnalistik memang sudah terkenal dengan pergerakan-pergerakannya yang progresif dan terdepan, bahkan sempat penulis mendengar dari kawan mahasiswa lain –tentunya di luar jurnalistik- bahwa dulu Hima jurnalisitk bisa dibilang maung na UIN. Dengan seabreg kegiatan-kegiatan dan pergerakan menjadikan Hima Jurnalistik sebagai Hima yang cukup diperhitungkan. Itu dulu, tapi saat ini dan esok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak kakak kelas kita terdahulu telah menorehkan tinta emas yang membanggakan. Selanjutnya adalah tugas kita saat ini yang harus melanjutkan perjuangan mereka. Dan Hima Jurnalistik saat telah beranjak satu masa baru, proses estafet perjuangan akan dan sedang dijalankan. Bagaimanapun estafet perjuangan sangat penting sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti yang menjadi harapan setiap orang adalah bahwa Hima Jurnalistik kini dan esok bisa lebih baik. Toh hidup adalah satu perjalanan untuk menemukan titik yang terbaik. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari dari kemarin maka ia termasuk orang yang beruntung dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka ia termasuk orang yang rugi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya mudah-mudahan kita semua barudaks jurnalistik dari semester  I, III dan V bisa saling bahu membahu, saling kerja sama dan berkerja sama-sama untuk membangun Hima Jurnalistik ke depan yang lebih baik. Jabat erat, satukan dalam barisan. Mari bergerak!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* : Penulis adalah Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung semester V.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-1406304473365051409?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/1406304473365051409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=1406304473365051409' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/1406304473365051409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/1406304473365051409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/09/hima-jurnalistik-dulu-kini-dan-esok.html' title='Hima Jurnalistik Dulu, Kini dan Esok.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-6838524346502775916</id><published>2007-09-18T23:02:00.000+08:00</published><updated>2007-10-21T21:16:32.607+08:00</updated><title type='text'>Perlukah berorganisasi??</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Disini mahasiswa dituntut tidak melulu harus menunggu (penulis tidak memberi tanda kutip pada kata ini, entah? ) ilmu dari dosen atau dengan mengandalkan dari proses belajar dikelas belaka. Bahkan jika mahasiswa berpikir visioner,  adalah sangat kurang sekali ilmu yang didapat di kelas. Coba bayangkan oleh kamu –mahasiswa!- jika kamu hanya mengandalkan ilmu hanya dari dosen dikelas, utu juga belum dosennya yang jarang hadir (ya maklum di UIN-Lah…), ditambah mening kalau hadir pun kita bisa menyerap seluruh ilmu yang disampaikan, kalau hanya dianggap “angin lalu”, so pasti isi “batok kepala” kita keluar dari kelas hanya terisi “sebagian” atau mungkin tidak sama sekali. Gawat kan, camkan itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, tentu untuk menjadi mahasiswa yang lebih baik tidak hanya tinggal diam, berpangku tangan, menunggu dan menunggu (sampai tua kalee…). Mahasiswa haruslah berpikir visioner, kreatif, selalu dinamis bergerak, mencari-mencari dan mencari.&lt;br /&gt;Dalam perspektif penulis salah satunya upaya dan proses pemuasan “birahi” intelektual dan sosial mahasiswa adalah melalui organisasi. Ya, masuk dan aktif di organisasi, organisasi apapun itu. Yang pasti organisasi yang sesaui dengan pilihan dengan mengukur potensi dan bakat atau prioritas kedepan bagi kebaikan kita semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi merupakan sebuah inkubator untuk melahirkan mahasiswa kritis, –bukannya apatis-, kreatif, inovatif, dan progres terhadap realitas sosial di sekelilingnya. Oleh karenya gelar sebagai agent sosial of change yang sering kita dengar pantas untuk dikalungkan pada mahasiswa. Selain itu juga organisasi merupakan wahana “kampus kedua”. Kenapa penulis tadi mengatakan organisasi manapun? Yang pasti penulis mempunyai keyakinan bahwa setiap organisasi manapun –tentunya dengan barometer visi misi mahasiswa yang akan dicapai kedepan- akan memberikan nilai dan pengalaman yang sebelumnya tidak di temukan di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adalah salah besar bila ada pihak atau kelompok yang melarang kita berorganisasi, atau melarang untuk mengikuti organisasi tertentu, itu sama saja memasung kreatifitas dan pergerakan mahasiswa yang notabnenya dinamis dan kritis, sama saja menghambat mahasiswa untuk maju dan mengeksplorasi segala potensi yang dimilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi dalam konteks ini bermacam-macam termasuk di kampus ini, ada organisasi intra kampus dan merupakan organisasi unit kegiatan mahasiswa (UKM). Organisasi ini merupakan wadah bagi mahasiswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya. Yang kedua adalah organisasi ektra kampus yang mana domisili dan pergerakannya diluar kampus (Ya iyalah namanya juga ekstra kampus…). Dan organisasi ektras ini banyak pula, apalagi organisasi pergerakan kemahasiswaan, ada HMI, IMM, PMII, KAMMI, PUI, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam kaca mata penulis, berorganisasi adalah adalah sebuah keharusan. apalagi bagi mahasiswa baru ataupun mahasiswa yang “lapuk”. Berorganisasi merupakan salah satu jalan untuk menemukan makna kuliah yang lain. Penulis yakin jika ada seorang mahasiswa yang masuk suatu organisasi –manapun- dia aktif, progresif dalam pergerakan dan kegiatan organisasi tersebut. Dia akan menemukan satu dunia baru yang tak terhingga, dibandingkan dengan mahasiswa yang kehidupannya hanya berkisar 3K (Kelas, Kost, Kantin-Kelas, Kost, Kantin..dst)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu merupakan alasan pertama. Kedua, yang jangan pernah dilupakan –atau memang belum tahu- bahwa berorganisasi merupakan salah satu perintah tuhan. Lo??? Gak percaya? Coba buka Al-Quran Surat  Al-Imran 104. Baca satu ayat penuh plus artinya. Kalau memang disana kamu gak nemuin kalimat, “kamu harus masuk organisasi” (ya iyalah…mana ada ) jangan kecewa dulu. Penulis akan sedikit menjelaskan makna yang tersirat dari ayat tersebut. Dalam ayat tersebut ada keharusan bagi kita semua untuk meng-“ada”-kan sekolompok umat/ manusia yang mana bertugas untuk mengajak pada yang ma’ruf dan melarang pada kemunkaran. Eits..bukankah sekelompok orang yang mempunyai tujuan –tersebut- tertentu itu disebut organisasi.  Ya jelas sekali dari ayat diatas berorganisasi merupakan salah satu perintah tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jangan pernah terhasut oleh wacana-wacana yang mengesampingkan penting organisasi. Penulis yakin seyakin-yakinnya, orang-orang yang sukses itu tak luput dari kehidupan organisasi, coba deh tanya kepada dosen, dekan atau bahkan rektor. Sewaktu kuliahnya pasti mereka merupakan aktifis ulung dan bukan mahasiswa kerdil yang “kurung batokeun”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat! dalam dunia mahasiswa akan dan terus tumbuh berbagai pemahaman dan pola pikir yang bermacam-macam. Yang harus dilakukan adalah sikap saling menghargai bukan untuk saling memojokan atau membunuh karakter atau potensi pihak lain. Penulis yakin, Kawan-kawan mahasiswa sudah cukup dewasa dalam menentukan pilihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih sesuatu pilihan sesuai dengan pemahaman dan pemikiran bukan atas sesuai ekspansi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab atas hidup kita. Kita merupakan arsitek untuk diri kita sendiri dan bukan oleh orang lain. Kesuksesan hari ini adalah sikap dan keputusan kemarin dan saat ini. Dan kondisi kawan-kawan saat inidan esok adalah diri kita yang menentukan, bukan “dia” apalagi “mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagaimanapun pola pikir dan pemahaman mahasiswa harus dibiarkan terus berkembang tiada pembatasan apalagi pemasungan terhadap kritisisme. Mati bergerak atau hidup terinjak. Mengutip salah satu puisi Wiji Tukul : Satu Kata: LAWAN!.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*: Penulis Adalah Mahasiswa Jurnalistik Semester V.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-6838524346502775916?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/6838524346502775916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=6838524346502775916' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/6838524346502775916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/6838524346502775916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/09/perlukah-berorganisasi.html' title='Perlukah berorganisasi??'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-8953224453035411054</id><published>2007-07-10T08:22:00.000+08:00</published><updated>2007-07-10T08:29:23.833+08:00</updated><title type='text'>TUGAS KOMUNIKASI VISUAL GRAFIS</title><content type='html'>1. Bila bekerja menggunakan huruf, aspek manakah yang paling mempengaruhi keberhasilan komunikasi visual, bagaimana alasannya?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri bahwa aspek penggunaan huruf dalam komunikasi visual sangat mempengaruhi keberhasilan sebuah komunikasi visual. Pada dasarnya dalam proses pekerjaan yang berhubungan atau menggunakan huruf tak bisa dilepaskan dengan apa yang disebut dengan Tipografi. Kenapa? Dalam analisis Scott McCloud dalam bukunya Understanding Comics mengatakan bahwa dalam komunikasi visual yang berkiblat pada Mazhab Amerika –yang mana dipengaruhi oleh Bauhaus  Jerman (Pakar Komunikasi)- sangat menekankan pada pengetahuan tipografi dan komposisi. &lt;br /&gt;Tipografi adalah dasar utama pembelajaran grafis. Maksud dari tipografi dalam pengertian yang lebih luas meliputi penataan atau peletakan dan pola halaman atau setiap barang visual. Namun singkatnya tipografi adalah pemilihan, penataan, atau segala hal yang berkaitan dan bertalian dengan pengaturan baris-baris huruf.&lt;br /&gt;Dalam tipografi Huruf dipelajari sebagai form (bentuk), bukan sebagai tulisan. Jadi tegasnya huruf dalam “kaca mata” komunikasi visual bukan dilihat dari tulisannya tapi dari segi bentuk (form) sebagai produk dari komunikasi visual.&lt;br /&gt;Namun selain Tipografi ada menurut analisis saya ada beberapa aspek lainya yang juga sangat mempengaruhi keberhasilan komunikasi visual, diantaranya:&lt;br /&gt;a. Olah huruf / type design.&lt;br /&gt;b. Mendesain font / typeface.&lt;br /&gt;c. Diferensiasi: artinya huruf yang dipilih hendaknya mempunyai nilai (value) beda dengan kelaziman yang ada. Karena komunikasi visual berhubungan erat dengan mata, maka jika dalam penggunaan huruf tidak berkesan terlebih monoton, tidak menarik, banyak / sering digunakan dan ditemui oleh semua orang, maka secara tidak langsung huruf tersebut telah membuat mata pemerhati (komunikan) tidak tertarik. Diferensiasi sangatlah luas cakupannya bisa meliputi jenis huruf, ukuran huruf dan pola huruf (bold, italic, atau underline).&lt;br /&gt;d. Warna (color): Warna merupakan unsur penting dalam obyek desain. Karena dengan warna orang bisa menampilkan identitas, menyampaikan pesan atau membedakan sifat dari bentuk-bentuk bentuk visual secara jelas.  &lt;br /&gt;Penting sekali yang harus diperhatikan agar mata pemerhati (komunikan) mudah “tercuri” pada pandangan pertama (first sight) untuk melirik karya kita adalah warna dari huruf tersebut, biasanya warna yang cerah lebih menarik perhatian mata dari pada warna huruf biasa-biasa dan standar&lt;br /&gt;e. Size (ukuran): ) Ukuran adalah unsur lain dalam desain yang mendefinisikan besar kecilnya suatu obyek. Dengan menggunakan unsur ini Anda dapat menciptakan kontras dan penekanan (emphasis) pada obyek desain anda sehingga orang akan tahu mana yang akan dilihat atau dibaca terlebih dahulu.  &lt;br /&gt;Penting untuk diperhatikan bahwa ukuran sebuah huruf menentukan persepsi seseorang terhadap komunikasi yang dijalankan oleh seorang komunikastor. Biasanya huruf yang menonjol (ukurannya) dan lebih besar dari pada biasanya akan membuat perhatian lebih fokus pemerhati (komunikan). Namun yang perlu dicatat adalah ukuran ini jangan sampai memakan seluruh atau sebagian dari ruang, jadi sewajarnya dengan penentuan ukuran dari huruf.&lt;br /&gt;f. Tekstur (Texture) Tekstur adalah tampilan permukaan (corak) dari suatu benda yang dapat dinilai dengan cara dilihat atau diraba. Yang pada prakteknya, tekstur sering dikategorikan sebagai corak dari suatu permukaan benda, misalnya permukaan karpet, baju, kulit kayu, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Alasan saya menambahkan keenam aspek diatas termasuk pada aspek yang mempengaruhi keberhasilan komunikasi visual, sebab pada dasarnya komunikasi visual itu berkaitan erat dengan mata, artinya apa yang dilihat menjadi apa yang didapat. Biasanya pandangan pertama menjadi modal untuk melanjutkannya ke jenjang yang lebih dalam.&lt;br /&gt;Namun yang harus lebih diperhatikan dalam penggunaan huruf adalah bagaimana kita lebih mempertimbangkan aspek keterbatsaan ruang dan rubrik (readibility) oleh karena peranan pertimbangan dan saran dalam menggunakan huruf jangan pernah diacuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dapatkah anda membedakan cakupan komunikasi grafis sebagai bagian aplikasi terapan dari wilayah seni murni?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt; Yang membedakan cakupan grafis sebagai bagian aplikasi terapan dari wilayah seni murni, adalah bahwa komunikasi grafis itu bukanlah termasuk pada seni murni. Tetapi yang termasuk pada seni murni adalah desain grafisnya.&lt;br /&gt;Sebab Seni murni pada dasarnya menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan, meliputi seni lukis, seni patung, dan seni grafis. Tegasnya untuk aplikasi terapan wilayah seni murni untuk komunikasi grafis adalah desain grafisnya, artinya segala hal yang tercetak baik berupa goresan, gambar dan tulisan yang mana dalam hal ini dalam bidang percetakan merupakan bagian dari aplikasi desain grafis dari wilayah seni murni. &lt;br /&gt;Hal ini perkuat oleh Pakar Komunikasi Grafis Suyanto bahwa desain grafis didefinisikan sebagai " aplikasi dari keterampilan seni murni dan komunikasi untuk kebutuhan bisnis dan industri". Aplikasi-aplikasi ini dapat meliputi periklanan  dan penjualan produk, menciptakan identitas visual untuk institusi, produk dan perusahaan, dan lingkungan grafis, desain informasi, dan secara visual menyempurnakan pesan dalam publikasi.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Bahasan komunikasi visual bertumpu pada tiga komponen dasar komunikasi. Dapatkah anda menyebutkannya? Berikan penjelasannya!&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Bahasan komunikasi visual bertumpu pada tiga komponen dasar komunikasi, yang mana tiga komponen dasar komunikasi diantaranya:&lt;br /&gt;a. Pesan (Messages) yaiut apa yang dikomunikasikan oleh sumber (komunikator)kepada penerima (komunikan) . Pesan (Message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung.&lt;br /&gt;Agar komunikasi berlangsung dengan baik, pesan yang merupakan signal perangsang bagi seorang penerima (komunikas), hasru dikirim dan diterima. Pesan-pesan tersebut dapat berupa hal yang didengar, dilihat, dirsakan, dibaui atau gabungan dari hal-hal tersbeut. Namun untuk komunikasi visual pastinya bertumpu pada apa yang dilihat. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan/atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud dari sumber (komunikator) Pesan visual harus kreatif (asli, inovatif dan lancar), komunikatif, efisien dan efektif, sekaligus indah/estetis..&lt;br /&gt;Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak.&lt;br /&gt;   3. Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti kedua pihak.&lt;br /&gt;   4. Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Deskripsikan pengetahuan anda tentang apa itu komunikasi grafis dan komunikasi visual, bagaimana kaitan keduanya?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Komunikasi visual adalah ilmu yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara kasat mata. Komunikasi visual berbicara tentang bahasa gerak, gambar yang dinamis (bergerak) dan gambar 3D (tiga dimensi). Selain itu, komunikasi visual digunakan dengan tujuan agar menarik (estetika), memmudahkan pengertian, dan membuat kesan / pencitraan. Komunikasi visual merupakan payung dari berbagai kegiatan komunikasi yang menggunakan unsur rupa (visual) pada berbagai media: percetakan / grafika, luar ruang (marka grafis, papan reklame), televisi, film/video, internet dll, dua dimensi maupun tiga dimensi, baik yang statis maupun bergerak (time based).&lt;br /&gt;Sedangkan Komunikasi Grafis merupakan bagian dari Komunikasi Visual dalam lingkup statis, dua dimensi, dan umumnya berhubungan dengan percetakan / grafika. Dalam lingkup terminologi ini standar kompetensi Komunikasi Grafis dibuat. Komunikasi Grafis adalah pekerjaan dalam bidang komunikasi visual yang berhubungan dengan grafika (cetakan) dan/atau pada bidang dua dimensi dan statis (tidak bergerak dan bukan time-based images).&lt;br /&gt;Bila didefenisikan maka, komunikasi grafis adalah segala aspek pernyataan manusia secara tertulis, tergambar dan tercetak mencakup penggunaan lambang huruf dan lambang gambar. Dalam ruang lingkupnya, komunikasi grafis mencakup informasi, publikasi dan promosi. Bidang profesi Komunikasi Grafis meliputi kegiatan penunjang dalam kegiatan penerbitan (publishing house), media massa cetak koran dan majalah, periklanan (advertising), dan biro grafis (graphic house, graphic boutique, production house). Selain itu komunikasi grafis juga menjadi penunjang pada industri non-komunikasi (lembaga swasta / pemerintah, pariwisata, hotel, pabrik / manufaktur, usaha dagang) sebagai inhouse graphics di departemen promosi ataupun tenaga grafis pada departemen public relation perusahaan. &lt;br /&gt;Apa kaitan / hubungan antara  komunikasi visual dan grafis. Ada beberapa hubungan antara komunikasi visual dan komunikasi grafis, diantaranya:&lt;br /&gt;• Komunikasi visual merupakan perluasan dari komunikasi grafis, dengan kata lain komunikasi visual adalah komunikasi grafis yang diperluas.&lt;br /&gt;• Komunikas grafis dan komunikasi visual sama-sama melibatkan  teknologi sebagai&lt;br /&gt;• Komunikasi grafis/ visual dapat diartikan sebagai proses penyampaian lambang-lambang yang mengandung pengertian tertentu oleh seseorang kepada orang lain melalui media cetak (printed material), media luar ruang (outdoor), media elektronik (electronic), tempat pajang (display), dan Barang-barang kenangan (special offer).&lt;br /&gt;• Perrkembangan komunikasi grafis dan komunikasi visual didasarkan atas sejauh mana proses kreatif manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bagaimana argumentasi anda perihal bentuk (form) dan isi (content) dalam kajian komunikasi grafis/visual?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Bentuk adalah segala hal yang memiliki diameter tinggi dan lebar. Bentuk dasar yang dikenal orang adalah kotak (rectangle), lingkaran (circle), dan segitiga (triangle). Sementara pada kategori sifatnya, bentuk dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu:&lt;br /&gt;2.1) Huruf (Character) : yang direpresentasikan dalam bentuk visual yang dapat digunakan untuk membentuk tulisan sebagai wakil dari bahasa verbal dengan bentuk visual langsung, seperti A, B, C, dsb.&lt;br /&gt;2.2) Simbol (Symbol) : yang direpresentasikan dalam bentuk visual yang mewakili bentuk benda secara sederhana dan dapat dipahami secara umum sebagai simbol atau lambang untuk menggambarkan suatu bentuk benda nyata, misalnya gambar orang, bintang, matahari dalam bentuk sederhana (simbol), bukan dalam bentuk nyata (dengan detail).&lt;br /&gt;2.3) Bentuk Nyata (Form) : bentuk ini betul-betul mencerminkan kondisi fisik dari suatu obyek. Seperti gambar manusia secara detil, hewan atau benda lainnya.&lt;br /&gt; Dalam kajian komunikasi grafis/visual ada beberap hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan bentuk (form) dan isi (content), yaitu komposisi atau gabungan unsur prinsip dari grafis agar mempunyai kesatuan yang padu antara fungsi rasional, emosional yang membentuk keindahan yang fungsional.&lt;br /&gt; Yang harus diperhatikan adalah form follow function yang meliputi:&lt;br /&gt;o Formal = ukuran fisik, style.&lt;br /&gt;o Frame = bingkai perangkaian isi&lt;br /&gt;o Fungsi = menyangkut analisis masalah dan upaya pemecahan masalah.&lt;br /&gt;Pakar llmu komunikasi Harold Erams memberikan pendapat berkaitan dengan hal ini bahwa fungsi hubungan pengkajian isi dengan criteria visual adalah isi menyangkut judul teks foto yang disajikan secara jelas dan ekonomis, mudah terbaca dan penggunaan efektif dari ruang terbatas, dalam menggunakan huruf factor keterbacaan sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jika mengharapkan hasil yang lebih efektif berdasarkan konsep asosiasi pada penggunaan unsur garafis, bagaimana rencana pilihan anda pada penggunaan (rupa) garis dan (corak) warna untuk kesan (style) luwes, dinamis dan cerah, ceria?&lt;br /&gt;Jawab: &lt;br /&gt; Pilihan pada garis agar agar mempunyai  kesan luwes dan dinamis, maka diharapkan memilih garis yang:&lt;br /&gt;• Tegas (tidak terputus-putus), kenapa? Sebab garis yang terputus-putus mempunyai kesan keraguan dalam pembuatan sesuatu.  &lt;br /&gt;• Mempunyai bentuk yang variatif, tujuannya agar menarik. Misalnya dalam penggunaan garis tidak semata menggunakan garis lurus saja, tetapi sesekali menggunakan garis lengkung, garis yang membentuk suatu bangun runag dan membentuk suatu dimensi.&lt;br /&gt;• Fleksibel. Maksudnya agar garis ditampilkan tidak itu-itu saja atau monoton dan memliki ruang gerak yang luas. Dengan demikian, diharapkan kreatifitas akan bannyak mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pada warna agar mempunyai kesan cerah dan ceria, maka diharapkan pemilihan warna yang:&lt;br /&gt;• Memiliki karakter kuat. Artinya warna yang digunakan memiliki karakter kuat  yang berhubungan dengan kesan/ pencitraan yang ingin ditampilkan.&lt;br /&gt;• Sederhana tetapi tidak terlalu mencolok  dan cerah. Maksudnya warna yang sederhana yang dipilih  hendaknya menimbulkan kesan elegan, tidak berlebihan, rapi, santai, dan luwes.&lt;br /&gt;• Menarik. Diartikan sebagai warna yang padu, harmonis dan  terang. Warna yang satu dengan lainnya harus apat dipasangkan sehingga mempunyai kesan padu dan tidak overlapping. Sarannya adalah hendaknya warna terang dipakai lebih banyak dari warna gelap.&lt;br /&gt;7. Ceritakan mengenai peranan dan posisi anda ketika bekerja bersama saat mengerjakan projek/tugas kelompok, bagaimana proses kerjanya?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;A. Latar belakang.&lt;br /&gt; Pada awalnya pertama kali yang kami lakukan setelah terbentuknya kelompok dalam kerja kelompok untuk mengerjakan projek yang diberikan oleh bapak adalah bermusyawarah untuk pembagian job atau dikenal dengan job description. Saya kebetulan dipercaya menjadi ketua kelompok.&lt;br /&gt; Yang terbesit pertama kali untuk proyek ini adalah kami mengunjungi ke percetakan “Percikan Iman” sebab kebetulan salah satu anggota dari kelompok kami adalah kru yang ada disana. Tapi kami tidak langsung begitu saja menetapkan pilihan sebelum bermusyawarah.&lt;br /&gt; Akhirnya setelah bermusyawarah kami (Oki, Ramdan, Nurdiane, M Ruslan, Tammy Sundari, Novi Z, Nisa Nurhabibah, Santi Nursyamsiah) menetapkan tempat di CNG sebuah house production yang bergerak pada video wedding party. Pertimbangannya pertama, Letaknya yang tidak jauh yaitu di depan kampus. Kedua, teman kami kebetulan sudah mengenal betul dan merupakan pelanggan. Ketiga, yang mengelola adalah mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Widyatam a jurusan Desain Grafis. Pertimbangan itulah yang memantapkan pilihan kami ke sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Proses Kerja.&lt;br /&gt; Waktu yang sebulan yang diberikan untuk melakukan observasi merupakan waktu yang sebentar terlebih kesibukan yang dipenuhi oleh tugas-tugas mata kuliah yang lain dan aktifitas-aktifitas diluar kuliah membuat kami bergerak cepat.&lt;br /&gt; Kami langsung pergi ke GNG untuk melakukan observasi, disini akan kami uraikan rangkain frekuensi observasi beserta tugas-tugas dan orang-orang yang observasi.&lt;br /&gt;1. Observasi pertama: ngobrol-ngobrol dengan kru-kru yang ada didalam house production dalam rangka mencairkan suasana agar terbangun  keakraban yang sekaligus memberitahukan niatan kami untuk melakukan obseravsi ke rumah produksi yang bersangkutan untuk tugas yang diberikan oleh bapak jalaludin pada mata kuliah komunikasi visual grafis.&lt;br /&gt;Alhamdulilah tanggapan dari pihak perusahaan menyambut baik, selain sebagai ajang promosi yang bisa dibilang Cuma-Cuma juga dalam rangka berbagi ilmu.&lt;br /&gt;Ternyata niatan kami observasi ke GNG sangat tepat sekali,. Sebab ruang gerak dari GNG sendiri tak lepas dari komuniaksi visual dan komunikasi grafis &lt;br /&gt;2. Observasi kedua: sebelum observasi kedua kami kembali bermusyawarah untuk membuat konsepan tugas yang akan kita buat. Sempat terjadi beberapa perdebatan dan adu wacana tentang hasil yang akan dicapai dari tugas ini. Ada yang mengatakan cukup saja kita buat makalah biasa yang mana isinya bagaimana proses pembuatan sebuah video wedding party. Tapi ada juga pendapat yang mengatakan bagaimana jika kita buat sebuah CD tutorial saja, selian lebih praktis juga mungkin akan lebih wah…sebab teman-teman yang lain akan berupa makalah (pikiran kami waktu itu..)&lt;br /&gt;Akhirnya kami sepakat untuk membuat sebuah CD tutorial tentang poses pembuatan video. Setelah kami datang ke sana, ternyata kru dari GNG menyambut baik sekali ide tersebut.&lt;br /&gt;Namun yang jadi permasalaha adalah bagaimana proses pembuatannya, apakah sepenuhnya oleh kru atau sebaliknya oleh kami seleuruhnya.&lt;br /&gt;Ah kami sadar untuk opsi yang kedua rasanya belum sanggup selain memang ilmu yang kami miliki terbatas juga mungkin tugas ini bukanlah sebuah percobaan.&lt;br /&gt;Maka terpilihlah opsi yang kedua tapi dengan catatan adalah dalam pembuatannya diikut sertakan setiap dari kami, tujuannya adalah agar kami bisa melihat langsung bagaimana proses pembuatanya juga menambah ilmu kami. Walaupun hanya sebagai “penonton setia” tapi kami sedikit-sedikit bisa mengerti.&lt;br /&gt;3. Observasi yang ketiga: ternyata setelah bermusyawarah dengan pihak GNG dalam pembuatan CD Tutorial tersebut membutuhkan sebuah biaya yang cukup besar, alasannya pertama, memang mereka bekerja secara team, jadi dari pembuatan CD Tutorial tersebut tidak oleh satu orang, bagi yang kompeten dibidang animasi dia menggarapa animasi, bagi yang ahli dibidang fotoshop maka pekerjaannya berkisar pada fotoshop, disini logikanya adalah bahwa mereka bekerja tidak secara gratisan sukarelawan tetapi harus ada uang buat kopi-kopimah (katanya…). Kedua, dari segi hasil merupakan kualitas pasar, jadi pembuatan CD ini memang bukanlah main-main oleh team GNG dibuat seindah mungkin supaya yang menggunakan program ini bisa mengerti dengan bantuan unsur grafis yang maju. &lt;br /&gt;Dengan pertimbangan itu kami pun menyutujui dengan alasan-alasan tersebut sebab pada dasarnya kami ingin melakukan yang terbaik dari yang terbaik. Adapun biayanya adalah sebesar 300 ribu. Memang pada awalnya pihak GNG memberikan cost sebesar 500 ribu, wah kami sempat kaget juga tapi setelah dinego, digoyang sana-sini dengan wajah memelas ala mahasiswa akhirnya kami sepakat dengan harga 300 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selama bebarapa hari pengerjaannya, komunikasi dan konsultasi kami dengan pihak GNG tidak pernah terputus, kami tidak ingin mempunyai istilah “membeli kucing dalam karung” atau kami membeli sesuatu dan kami tidak tahu betul apa yang ada di dalamnya. Begitu juga dalam observasi ini, selama proses pengerjaan observasi secara personal tetap berjalan, sambil ngobrol-ngobrol sejauh mana perkembangan dan proses pengerjaannya. &lt;br /&gt; Sampai akhirnya selesai pembuatannya. Kami sedikit lega, karena sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Akhirnya kami mendapatkan giliran pertama untuk observasi. Walaupun jujr saja saya merasa sedikit kesal kepada teman-teman sekolompok, waktu observasi mereka tidak mempunyai keberanian untuk mempresentasikan, jadi hanya saya yang ke depan dan di introgasi oleh teman-teman dan bapak sendiri. He…he…&lt;br /&gt; Mungkin segitu saja, jalan atau proses observasi kami. Walaupun hanya melakukan observasi yang resmi hanya tiga kali, sebenarnya observasi secara personal lebih sering. Saya mengartikan resmi itu ketika obsevasi dihadiri dan dikunjungi bersama-sama seluruh kelompok. &lt;br /&gt; Satu hal yang saya catat dari observasi ini adalah bahwa perjuangan materi yang besar mudah-mudahan menjadi satu catatan titik awal kami belajar, sebab kami yakin bahwa harag yang kami keluarkan itu tidak sebanding dengan besarnya ilmu yang ada didalamnya. Semoga saja CD tersebut selain untuk kalanganj sendiri (kelompok kami) juga dapat memberikan banyak manfaat bagi yang membutuhkan. Tidak usah bayar. Kami ikhlas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-8953224453035411054?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/8953224453035411054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=8953224453035411054' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8953224453035411054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8953224453035411054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/07/tugas-komunikasi-visual-grafis.html' title='TUGAS KOMUNIKASI VISUAL GRAFIS'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-2894375935183182146</id><published>2007-07-08T13:06:00.000+08:00</published><updated>2007-07-08T13:08:30.273+08:00</updated><title type='text'>Resensi Buku</title><content type='html'>Judul asli :&lt;br /&gt;لِمَاذَ صَلاَةُ الفَجْرِ&lt;br /&gt;Hidup Sehat dengan Shalat Subuh&lt;br /&gt;Judul : Hidup Sehat dengan Shalat Subuh&lt;br /&gt;Penulis : Syaikh Adnan Tharsyah&lt;br /&gt;Penerbit : PT. AQWAM Media Profetika, Solo&lt;br /&gt;Halaman: XIV hlm, 126 hlm&lt;br /&gt;P/L : 19,5 cm/ 13 cm&lt;br /&gt;Sebuah penelitian mutakhir membuktikan bahwa Shalat Subuh dapat menjadi terapi berbagai penyakit. Selain menghilangkan kemalasan dan menyegarkan badan, shalat yang dianggap berat oleh orang-orang munafik ini juga dapat melancarkan peredaran darah pasca tidur. Tak hanya itu, langkah kaki menuju masjid ternyata dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mengganti sel-sel rusak, memperbaiki kinerja jantung dan meningkatkan kemampuan otak.&lt;br /&gt; Diantara beberapa manfaat shalat Subuh adalah dapat menyinari wajah dan membersihkannya. Ia akan menerangi hati dan menguatkannya. Ia akan mempercantik jiwa dan menyegarkannya, serta memberi asupan ruh dan memurnikannya.&lt;br /&gt; Manfaat-manfaat lainnya adalah menghilangkan kemalasan, menyegarkan tubuh, melancarkan peredaran darah setelah tidur, menjaga kesehatan, melenyapkan kesedihan, kegelisahan, serta mengusir berbagai penyakit iwa dan raga.&lt;br /&gt; Di sisi lain, keilmuan modern telah mengukuhkan bahwa keberadaan gas O3 (ozon), yang mengandung prosentase oksigen yang tinggi dan dapat mencapai puncak reaksinya pada waktu shalat Subuh, lalu berkurang secara bertahap hingga terbit matahari. Fakta ini dapat kita rasakan sendiri dengan sangat mudah kita dapat membedakan kebersihan dan kesegaran udara pada waktu shalat Subuh dengan waktu siang hari.&lt;br /&gt; Seseorang yang berjalan kaki menuju masjid apa lagi kalau jaraknya itu jauh makan pahala yang didapatnya itu akan berlipat ganda, karena setiap langkahnya memiliki pahala (langkah yang satu menghapuskan dosa dan yang satunya mengangkat derajatnya), disamping itu juga berjalan kaki secara kontinu merupakan terapi bagi berbagai macam penyakit, diantaranya : Sakit jantung, Obesitas, Asma, Lelah pikiran, Luka-luka, Gelisah dan problematika sehari-hari lainnya. &lt;br /&gt; Dan sesungguhnya, keagungan shalat Subuh itu jauh lebih besar dan lebih banyak lagi dari pada yang terdapat dalam buku ini. Dengan mempraktekan isi bacaan buku ini yang selalu di dampingi Hadits-hadits Nabi dan Firman-firman Allah SWT insya Allah kita akan mendapatkan pahala yang sangat besar dan kita dapat terus merasakan nikmatnya hidup sehat.&lt;br /&gt; Dalam buku ini Penulis dengan ketulusan hatinya dan dengan gaya tutur yang mengalir dalam memaparkan tip­­­s-tips untuk mempermudah kita meraih manfaat besar dari pelaksanaan Shalat Subuh, terlebuh dari itu. Buku ini juga mengingatkan kembali tentang keagungan Shalat Subuh di mata Syari’at. Dan agar kita tidak terjebak dalam niat yang keliru yakni Shalat Subuh hanya dijadikan untuk menjaga kesehatan saja. Kita harus tetap tulus dalam melakukan setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah yakni hanya karena Allah –lah kita beribadah.&lt;br /&gt;  Buku ini sangatlah cocok untuk dibaca oleh berbagai kalangan terutama kalangan penyandang rentan penyakit lahir dan batin, dan dismping itu buku ini dapat dijadikan panduan bagi para dokter untuk membantu dalam penyembuhan para pasiennya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-2894375935183182146?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/2894375935183182146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=2894375935183182146' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/2894375935183182146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/2894375935183182146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/07/resensi-buku.html' title='Resensi Buku'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-5547784826281850404</id><published>2007-07-08T13:02:00.000+08:00</published><updated>2007-07-08T13:05:09.766+08:00</updated><title type='text'>TUGAS WAWANCARA</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pokok Bahasan : Wawancara tokoh saksi sekaligus pelaku sejarah Tragedi Mei 1998.&lt;br /&gt;2.  Narasumber : Abu As-Sauqi alias Sirojudin Srait.&lt;br /&gt;3. Profl Singkat narasumber: Tak ada sejarah, tokoh pengemban kisah. Abu As-Sauqi Alias Sirojudin Sirait adalah saksi sekaligus pelaku sejarah Tragedi berdarah Mei 1998. Warga Betawi asli in sejak kecil sampai dewasa dihabiskan di kota metropolitan itu. Namun takdir tidak memuluskan jejak langkahnya terus berpijak di kota Jakarta untuk selamanya. Peristiwa Mei 1998lah yang membuat segalanya berubah. Karena dianggap sebagai dalang dan otak kerusuhan Mei 1998 tersebut beliau harus rela bersemayam 5 tahun di balik jeruji besi Dengan label napinya rupanya masyarakat tidak bisa lagi menerima kehadirannya sampai ia pun harus hijrah bersama anak istrinya ke kota Sumedang tepatnya di Jatinangor. &lt;br /&gt;Kemarin Bulan Mei 2007, berart sudah sembilan tahun Tragedi berdarah itu berlalu, namun baginya rentang waktu yang tidak sebentar itu tidak ada artinya apabila kasus tersebut tidak diusut tuntas siapa dalang dibalik tragedy tersebut.&lt;br /&gt;“Kerusuhan Mei 1998 tersebut telah terorganisir dengan baik sehingga korbannya pun tidak tanggung-tanggung sekitar 1000 orang, apakah ini sebuah kebetulan? Mustahil ini hanya kebetulan, pasti ada dalang di balik semua ini” Ungkap bapak empat anak ini.&lt;br /&gt;4. Waktu dan Tempat : Kamis, 17 Mei 2007. 16.00 Jatinangor, Sumedang, Roromok bapak Abu As-Sauqi.&lt;br /&gt;5. Target Hasil : Mengetahui lebih dalam peristiwa bersejarah Tragedi Me 1998 dari seorang saksi dan pelaku sejarah langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAWANCARA:&lt;br /&gt;Prolog:&lt;br /&gt;Langit sore di Jatinagor itu terasa gelap dan tebal, sebagai tanda sebentar lagi awan akan mengeluarkan air matanya. Namun air mata sesungguhnya tak pernah terlihat membasahi mata Abu As-sauqi, walaupun pada kenyataannya hati bapak sekolah MDA Darul Amanah itu merintih dan menjerit meratapi kejamnya dunia. &lt;br /&gt;Ya, masa mudanya ia lalui dengan kelam, sehitam awan yang akan hujan itu. Ia menjadi korban ketidakadilan saat peristiwa meletus sebagai peruntuhan rezim Orde Baru yang berlangsung pada bulan Mei  sembilan tahun silam, ia tuduhan sebagai pembunuh dan dalang kerusuhan menjadi harga mati yang dilabeli  dipundaknya oleh para penjabat tapi penjahat HAM itu, sehingga ia pun harus rela bersemayam di jeruji besi selama lima tahun. Hingga detik ini, ia tidak pernah akan menerima fitnah yang memalukan keluarganya itu, Alih-alih turun ke jalan untuk mengamankan dan mengerai kerusuhan malah ia dituduh menjadi otak kerusuhannya.&lt;br /&gt;Di penghujung 2003, bapak dua anak ini akhirnya bisa merasakan udara bebas. Tapi sayang label yang melekat pada dirinya sebagai mantan nafi tidak membuat ruang geraknya bebas. Masyarakat disekitarnya tidak bisa menerimanya, apalagi waktu pertama kali bebas ia sudah tidak diterima oleh keluarga besarnya. Tak pelak bebasnya dari bui itu ia pun (seakan) hidup seorang diri. &lt;br /&gt;Keinginan untuk hidup bersosialiasi “normal” bersama masyarakat ia niatkan sebagai pengabdian ke masyarakat, negara dan agamanya dengan mendirikan sebuah sekolah madrasah diniyah awaliyah (MDA) bagi anak-anak di kampungnya dengan biaya Cuma-Cuma. Harapanya cuma satu agar generasi mendatang lebih “pintar”, agar tidak dimainkan dan ditipu oleh orang lain sebagai mana yang ia alami dulu, namun jauh dari itu keinginan mulianya adalah untuk melahirnya kader-kader islam yang tangguh yang akan menjadi tentara Allah Swt kelak.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Disela-sela kesibukanya sebagai kepala keluarga dan kepala sekolah MDA Darul Amanah, saya berkesempatan untuk mewancari beliau sekitar masalah tragedy Mei 1998 dan pengalaman-pengalamannya.&lt;br /&gt; Penampilan yang apa adanya dengan baju koko biru dan sarung bermotif  batik semakin menambah kesahajaanya. Ditemani dengan kopi hangat dan sepiring keripik singkong yang disajikan oleh istrinya menemani obrolan lepas kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oki Sukirman (OS) : Bagaimana kabar bapak sekeluarga saat ini pak?&lt;br /&gt;Abu As-sauqi (AS) : Alhamdulilah, hingga saat ini Allah Swt masih memberikan saya sekeluarga kesehatan dan keselamatan.&lt;br /&gt;OS : untuk saat ini, kesibukan bapak selain sebagai kepala sekolah MDA Darul Amanah apa saja?&lt;br /&gt;AS : Oh… selain sebagai kepala (sekolah), bapak saat ini sedang mempunyai kesibukan baru sebagai petani. Ya keci-kecilan, kebetulan dua bulan yang lalu saya membeli sebidang tanah didaerah puncak dari pada harus disewakan mening saya kelola sendiri, kan lumayan hasilnya bisa langsung saya nikmati.&lt;br /&gt;OS : Iya..betul pa, jadi bapak tidak repot-repot beli dong….&lt;br /&gt;AS : Heueuh bener, sejak seminggu kemarin saja, istri saya sudah tidak berlangganan lagi sayrur-sayuran ke tukang penjual sayur. Segala kebutuhan sehari-hari telah terpenuhi dari hasil berkebun.&lt;br /&gt;OS : Pak, kesempatan kali ini saya ingin ngobol saja tentang perjalana hidup bapak kaitannya dengan tragedy Mei 98, bisa dibilang bapak mungkin adalah pelaku sejarahnya?&lt;br /&gt;AS : Oia..silahkan saja…&lt;br /&gt;OS : Hari ini tanggal 13 Mei 2007 berarti tragedy Mei 98 telah memasuk tahun ke sembilanya, bagaimana tanggapan bapak terhadap pemerintah pada penyeleseian kasus ini?&lt;br /&gt;AS : Duh…(sambil menggelengkan kepala) bapak merasa kecewa terhadap pemerintah baik saat in ataupun yang sudah. Dari mulai Habibie, Gus Dur, Megawati sampai saat ini Susilo Bambang Yudhoyono kasus ini tidak pernah menemui ending, selalu saja setiap pemerintahan berganti kebuntuan seakan telah diwariskan. Benar-benar pemerintah disini seakan mencuci tangan dari kasusu ini?&lt;br /&gt;OS : Tadi bapak mengatakan bahwa pemerintah seakan cuci tangan, maksud bapak bahwa pemerintah tidak bertanggung jawab?&lt;br /&gt;AS: Iya tepat sekali, masa tragedy Mei 98 yang memakan korban lebih 2000 orang dianggap sebagai kasus pelanggaran HAM biasa, keterlaluan kan. Dimana harga nyawa manusia itu (sambil meneteskan air mata), di Ambon saja pemerintah menggebor-geborkan telah terjadi pelanggaran HAM berat, seakan semut disebrang terlihat sedangkan gajah didepan mata dianggap semut. Mau jadi apa kalau seperti ini.&lt;br /&gt;OS : Apa usaha bapak sebagai upaya untuk menujukan kebenaran dan keadilan tentang tragedy Mei 98 ini?&lt;br /&gt;AS : Wah…banyak, bahkan sudah tak terhitung dari mulai jalur hukum, politik, pendidikan dan masih banyak lagi…&lt;br /&gt;OS : dari usaha-usaha itu sebenranya apa yang menjadi hambatan batu keras menghalangi perjuangan bapak untuk menujukan kebenaran dan keadilan itu?&lt;br /&gt;AS : Yang paling keras dan sulit ditembus itu karena para penegak serta para pejabat saat ini justru orang-orang yang terlibat pada tragedy berdarah itu, susah kan membuka kartu pada orang yang punyai kartu…. (sambil terseyum)&lt;br /&gt;OS : Tentang orang yang terlibat, sebenarnya bapak sendiri terlibat pada tragedy Mei 98 itu?&lt;br /&gt;AS: Oh tidak….&lt;br /&gt;OS : Tapi kenapa bapak masuk penjara?&lt;br /&gt;AS : Itulah permainan elite politik busuk yang tidak mau bertanggung jawab, yang menjadi korban tetap rakyat kecil. Rakyat kecil seolah menjadi umpan untuk kenikmatan mereka. Bapak dituduh membunuh dan menjadi dalang kerusuhan itu…&lt;br /&gt;OS : Jadi secara tegas bapak tidak terlibat?&lt;br /&gt;AS: Tidak….&lt;br /&gt;OS: Tapi, jika misalnya saat ini pemerintah membuka kembali kasus ini yang telah dibekukan oleh komisi III DPR, apakah bapak siap misalnya menjadi seorang saksi atau lebih dari itu menjadi “orang yang betul-betul terlibat”?&lt;br /&gt;AS : Iya saya kapanpun akan selalu siap, jika memang benar saya menjadi pelaku atau dalang nanti akan ketauan sebenarnya siapa dibalik semua itu, tapi saya tetap yakin kebenaran akan selalu menang. Dan untuk kasusu ini saya yakin akan terbongkar, tapi entah rezim pemerintahan siapa…&lt;br /&gt;OS : Saya melihat saat ini sepertinya pemerintah seakan tutup telinga dari media-media yang ingin mengusut tuntas kasus ini, bagaimana menurut bapak cara yang efektif untuk membukakan mata dan telinga pemerintah itu?&lt;br /&gt;AS : Menurut saya media saat ini sudah melakukan tugas yang baik, namun yang disayangkan adalah dari pihak masyarakat sendiri, seolah tragedy ini hanya milik korban Tragedi itu sendiri, jadi masyarakat seakan acuh tak acuh….&lt;br /&gt;OS : Tapi masyarakat mengatakan bahwa, tragedy Mei 98 memang merupakan pelanggaran HAM berat, bagaimana tanggapan bapak?&lt;br /&gt;AS : memang… tapi kan untuk mengusut tuntas masalah ini tidak cukup hanya berkoar, tapi tolong dong turun kejalan atau lakukan dialog dan wacana untuk mengusut tuntas kasus ini.&lt;br /&gt;OS : Ya semoga saja ak, saya juga berdoa semoga kasus ini tuntas habis dan akan ketauan siapa dalang utamanya. Dan kebenaran dan keadilan akan membumi di tanah Indonesia ni…&lt;br /&gt;AS : Iya Insya Allah&lt;br /&gt;OS : Segitu aja pak ngobrol-ngobrolnya. Terima kasih bapak yang masih mau meluangkan waktunya. Saya pamit pak Asslamaualaikum..Wr.Wb&lt;br /&gt;AS: Waalaikum salam Wr.Wb.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Epilog:&lt;br /&gt; Akhirnya obrolan itu kami akhiri, walaupun perasaan saya sedikit tidak enak dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkannya. Tapi itulah fakta dan tugas semuanya harus diungkap agar jelas mana yang hitam dan mana yang putih, tidak menjadi abau-abu.&lt;br /&gt; Semoga saja wawancara saya ini memberikan energi lebih dalam memperingati sembilan tahun Tragedi Meiu 98 berdarah itu. Sejarah harus tetap diungkap untuk menatap masa depan yang singgap dan cerah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-5547784826281850404?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/5547784826281850404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=5547784826281850404' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/5547784826281850404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/5547784826281850404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/07/tugas-wawancara.html' title='TUGAS WAWANCARA'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-115808764284692303</id><published>2007-05-20T12:29:00.000+08:00</published><updated>2007-05-20T12:40:38.773+08:00</updated><title type='text'>Perjanjian Ektradisi dan Menjaga rumah sendiri.</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;Akhirnya, setelah melalui proses diplomasi yang alot, panjang dan melelahkan sejak 1973, pemerintah Indonesia dan Pemerintah singapura lewat menteri luar negeri masing-masing, satu suara (baca: sepakat) untuk menandatangani perjanjian ekstradisi yang digelar di Istana Tampang Siring, Bali, 27 April 2007. (Media Indonesia, 28/04)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Perjanjian Ektradisi memang menjadi barang yang mewah bagi indonesia, setelah sekian lama dengan perjuangan yang melelahkan, tarik ulur berbagai kepentingan, akhirnya nota kesepakatan diatas kertas ditandatangani. Sebuah angin segar bagi pemerintah indonesia sebagai pemacu semangat yang telah kendur dalam upaya pemberantasan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui dengan adanya perjanjian ektradisi ini Indonesia bisa sedikit leluasa melacak dan mengejar para koruptor yang melarikan diri ke Singapura. Sebab bukan rahasia umum, bahwa banyak para koruptor kelas teri bersemayam aman, tenang dan tidak tersentuh oleh hukum Indonesia karena kabur ke negeri Singa itu. Indonesia seperti tidak bisa berkutik memburu pada penjahat ekonomi itu, terutama para pengemplang bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang merugikan negara triliunan rupiah dan Singapura pada saat itu hanya cuek bebek, diam seribu bahasa dan menerima dengan tangan terbuka para pencuri tersebut, toh dengan kedatangan para miluner maling negeri tetangganya itu tentu menambah devisa negara yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat, total uang orang Indonesia yang bermukim di Singpura mencapai US$87 miliar atau sekitar Rp.750 trilun. Dan uang itu merupakan uang para koruptor Indonesia kelas tinggi. Bahkan Indonesia Corruption Watch (ICW ) mencatat ada 17 buron kasus korupsi yang "enak-enakan" di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adaya perjanjian itu, kedua pemerintahan terikat kesepakatan untuk mengembalikan siapa pun yang terlibat tindak pidana (baik warga negara Indonesia maupun Singapura) ke negara masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keanehan memang, kenapa kesepakatan yang seharusnya terjalin kedua negara tetangga itu harus menunggu 35 tahun dulu? Padahal, Singapura bukan negara jauh. Ia tetangga dekat yang banyak hal tergantung pada Indonesia. Pada tulisan inilah saya mencoba menganalisis hubungan kedua negara ini, serta bagaimana upaya pemerintah dalam memanfaatkan kesepakatan ektradisi ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Indonesia – Singapura memang unik. Kedua negara ini terjalin kekerabatan lebih karena faktor geografis dan historis. Singapura untuk urusan kewilayah merupakan kebalikan dari Indonesia, Singapura merupakan negara kecil dengan luas 697 km persegi dan berpenduduk 4,6 juta, sedangkan Indonesia merupakan negara yang besar dengan jumlah pulau 13.705 pulau dan dengan jumlah penduduk 200 juta jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untuk urusan prestasi -maaf- Indonesia "beda nasib", Singapura merupakan negara maju yang cukup disegani dan diperhitungkan dalam kancah perhelatan dunia. Sehingga untuk mencapai kesepakatan kesepakatan ektradisi saja indonesia seperti negara kerdil yang bisa begitu saja dimainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjanjian atau kesepakatan memang berlaku ketentuan retroaktif (berlaku surut). Tapi perjanjian itu baru akan berlaku efektif menyeret para penjahat di masa yang akan datang. Namun, setidaknya singapura tidak lagi dijadikan surga hunian bagi pencuri uang rakyat itu.&lt;br /&gt;Memang dengan tercapainya perjanjian ini, membuktikan keberhasilan indonesia dalam berdiplomasi dan kebijakan indonesia yang melarang ekspor pasir ke singapura lewat Peraturan Mentri Perdagangan (Permandeg No. 02/M-DAG/Per/1/2007) yang berlaku efektif 5 Febuari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri Permandeg menjadi daya jual Indonesia dan alat diplomasi yang ampuh untuk menekan Singapuran agar mau menyepakati perjanjian ekstardisi dengan Indonesia. Faktor itulah yang membuat hati Singapura luluh dan mau mengalah untuk menyetujui kesepakatan tentang ekstradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab saat ini singapura sedang giat-giatnya menggenjot agenda Borderless Singapore 2010 dengan pembangunan properti, industri, infrastruktur yang tentu saja dengan dengan wilayahnya yang kecil dan terbatas Singapura bergantung pada Indonesia untuk mengimpor pasir guna perluasan wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, sepatutnya kita menyambut kesepakatan ini sebagai komitmen kedua negara dalam memerangi kejahatan. Layaknya dalam politik internasional dan diplomasi dengan tercapainya kesepakatan ektradisi ini pula Indonesia seharus mengoptimalkan sebaik mungkin, apalagi dalam politik (hubungan) internasional, tidak ada musuh tidak ada kawan (bahkan tertangga sekalipun). Yang ada adalah kepentingan. Alasan ini juga yang menjadikan duduk bersama indonesia-singapura tentang ektradisi tersendat-sendat dan harus menunggu waktu panjang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-115808764284692303?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/115808764284692303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=115808764284692303' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/115808764284692303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/115808764284692303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/05/perjanjian-ektradisi-dan-menjaga-rumah.html' title='Perjanjian Ektradisi dan Menjaga rumah sendiri.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-6565335266040986428</id><published>2007-05-05T11:41:00.000+08:00</published><updated>2007-05-05T11:44:48.165+08:00</updated><title type='text'>PROPAGANDA</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;A. Pengertian Proganda:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Propaganda merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Propaganda sendiri berasal dari kata &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;propagare &lt;/i&gt;artinya menyebar, berkembang, mekar. Carl I Hovlan menambahkan bahwa propaganda merupakan usaha untuk merumuskan secara tegar azas-azas penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap. Propaganda timbul dari kalimat &lt;i&gt;sacra congregatio de propaganda fideatau&lt;/i&gt; dari kata&lt;i&gt; Congregatio de propaganda fide atau Congregation for the Propagandation of Faith&lt;/i&gt; tahun 1622 ketika Paul Grogelius ke 15 mendirika organisasi yang bertujuan mengembangkan dan mengembangkannya agama katolilk Roma di Italia dan Negara lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Karya Klasik Lasswell, &lt;i&gt;Propaganda Technique in the World war &lt;/i&gt;(1927)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengajukan salah satu usaha hati-hati yang pertama kali mendefenisikan Propaganda: “Propganda semata merujuk pada control opini dengan symbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi social lainnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;(Seperti yang di kutip oleh Werner J. Severin –Jamesa W Tankard ,Jr. &lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Teori Komunikasi, dalam Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, Terapan di Dalam Media Massa. Hal.128)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IT-CH"&gt;Kata 'propaganda' berasal dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Latin" title="Bahasa Latin"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;bahasa Latin&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Awalnya berarti 'gagasan untuk disebarkan ke sekeliling'. Namun dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_I" title="Perang Dunia I"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;Perang Dunia I&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, artinya berubah menjadi 'gagasan politik yang ditujukan untuk menyesatkan' (Wikkipedia)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain itu juga tokoh-tokoh komunikasi dan para ahli yang lainnya mencoba memberikan defenisi propaganda, diantaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Enclyclopedia International&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Propanda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan. Arti dari propaganda dikemukan sebagai konsep popular yang cenderung menumbuhkam suatu kecurigaan dan rasa takut terhadap kekuatan dipropaganandis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Enclyclopedia berbahasa Indonesia On Line (wikkipedia).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IT-CH"&gt;Propaganda ialah sebuah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Informasi" title="Informasi"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;informasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Informasi itu telah di&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rancangan&amp;action=edit" title="Rancangan"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;rancang&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; agar orang merasakan cara tertentu atau mempercayai sesuatu. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Infomasi itu biasanya bersifat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Politik" title="Politik"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;politik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Lasswell&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Propaganda dalam arti yang luas, adalah tekhnik untuk mempengaruhi kegiatan manusia dengan memanifulasikan sepresentasinya (representasi dalam hal ini berarti kegiatan atau berbicara untuk suatu kegiatan kelompok).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Barnays&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;Propaganda modern adalah suatu usaha yang bersifat konsisten dan terus menerus untuk menciptakan atau membentuk peristiwa-peristiwa guna mempengaruhi hubungan public terhadap suatu uasha atau kelompok.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Drs. R.A Santoso Sastropoetro &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Propaganda adalah suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari penerimaan komunikan sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Prof. Onong Uchyana Efendi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Propanganda adalah komunikasi yang dilakukan secara berencana, sistematis dan berulang-ulang untuk mempengaruhi seseorang, khalayak atau bangsa agar melaksanakan kegiatan tertentu denga kesadaran sendiri tanpa paksa atau dipaksa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Drs. R. Roekomy&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Propaganda adalah usaha mempengaruhi orang lain berdasarkan factor-faktor psikologis tentang sesuatu yang baru atau belum diakui kebenarannya agar terbuat sesuai dengan yang dirahapkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Prof. Dr. mar`at&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Propanganda itu adalah suatu tekhnik, cara atau usaha yang sistematis serta sungguh-sungguh dipikirkan secara mendalam dimana tekhnik atau cara/usaha ini dilakukan baik oleh seseorang maupun sekelompok orang untuk mempengaruhi pendapat atau sikap orang lains atau kelompok lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Prof. DR.H.C.J. Duyker&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Bahwa siapapun yang melakukan propaganda meyebarkan pesan-pesan, mempunyai keinginan untuk mengubah sikap, pendapat, tingkah laku dari sesame manusia sebagai objeknya.&lt;/p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;William Albig  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pada awalnya kegiatan propaganda didasarkan pada kokunikasi dari mulut ke mulut dan media cetak yang mencapai kelompok kecil.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;B. Unsur-Unsur Propaganda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Dalam propaganda ada beberapa unsur-unsur terbentuknya sebuah komunikasi, diantaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Adanya komunikator, penyampaian pesan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Adanya Komunikan atau penerima pesan/ informasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Kebijaksanaan atau politik propaganda yang menetukan isi dan tujuan yang hendak dicapai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Pesan tertentu yang telah di-“encode” atau dirumuskan sedemikian rupa adar mencapai tujuannya yang aktif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Sarana atau medium (media), yang tepat dan susuai atau serasiu dengan situasi dari komunikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Teknik yang seefektif mungkin, yang dapat memberikan pengaruh yang secepatnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan mampu mendorong komunikan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan atau pola yang ditentukan oleh komunikator.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Kondisi dan situasi yang memungkinkan dilakukannya kegiatan propaganda yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;8. &lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Tercapainya tujuan kepada aspek kognitif, afektif dan konatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;ANALISIS CONTOH PROPAGANDA MEDIA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;(Studi Kasus Korban Bencana Lumpur Lapindo Pada Harian Umum “Media Indonesia “, Edisi Rabu 21 Maret 2007 Rubrik Analisi; Survei Litbang Media Group)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Tinjauan Analisis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Pada Harian Umum (HU) “Media Indonesia” Edisi Rabu 21 Maret 2007 pada rubric “analisis” tentang survey litbang media group mengangkat tema tentang korban Lumpur lapindo. Saya mencoba sedikit mengamati fenomena propaganda yang dijalankan oleh Media Group khusunya pada Koran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Harian Umum (HU) “Media Indonesia” tentang korban Lumpur lapindo. Untuk mencoba menganalisis propaganda media maka harus terlebih dahulu kita bahas unsur-unsur komunikasi yang ditawarkan oleh Lasswell. Kenapa? Sebab pada dasarnya formula yang ditawarkan oleh Lasswell mampu menganalisis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih dalam hal-hal yang terkait dengan kegiatan propaganda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Adapun unsure-unsur komunikasi yang disodorkan oleh Harold Lasswell diantaranya:&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Who : menujukan unsur “siapa” yang terlibat&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Says What : menujukan ke”apa”an / isi (content/      message). &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;In Which Channel : menujukan tentang media yang      digunakan.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;To      Whom : menujukan pada siapa tujuan dari propaganda tersebut (komunikan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;With What Effect : Menujukan pada efek yang      ditimbulkan.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Sikon      : menujukan situasi yang terjadi pada saat bersamaan semisal terjadi      konflik, stabil, labil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Teknik: menujukan pada cara yang dilakukan untuk      proses tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kebijakan : menujukan pada acuan atau hal yang      ingin diraih.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Berangkat dari sanalah mari kita bersama menganalisis proses propaganda pada Harian Umum (HU) “Media Indonesia” Edisi Rabu 21 Maret 2007 pada rubric “analisis” tentang survey litbang media group mengangkat tema tentang korban Lumpur lapindo.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pertama kita uraikan dari unsur &lt;b&gt;siapa(Who). &lt;/b&gt;Pertama&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;Jelas sekali pada Survei Litbang Media Group ini yang menjadi kepala (otak) adalah Media Group itu sendiri&lt;b&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IT-CH"&gt;Perusahaan yang dipimpin oleh Surya Palloh ini rupanya memanfaatkan betul sekali “kesempatan emas” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;untuk menciptakan opini public dengan melalui proses&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; propaganda. Walaupun pada dasarnya dalam survei ini melibatkan publik dengan survei yang mencakup 480 responden dewasa yang dipilih secara acak dari buku petunjuk telepon resindesial di kota-kota besar di Indonesia yakni Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan. Namun pada dasarnya Media Group tetap mempunyai “kepentingan” dan agenda setting media tersendiri. Yang mana keduanya (kepentingan dan agenda setting) dibungkusi oleh kegiatan propaganda yang sehalus mungkin. Berangkat dari sini pula, jika kita bisa menelaah lebih dalam maka visi dan misi sebuah media bisa diketahui. Semisal, melalui analisis teks media, analisis framing dan yang lainnya. Kedua, yang terlibat dalam propaganda ini adalah korban lumpur Lapindo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;unsur &lt;b&gt;ke”apa”an (Says What), &lt;/b&gt;untuk unsur yang kedua ini kita dapati dari judul (Head Line) besar pada halaman rubrik tersebut. Pada rubrik “Analisis”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini “Media Indonesia” mengangkat judul (Head Line) “Korban Lumpur Panas Dianaktirikan”. Dari judul tersebut secara langsung maka pertanyaan tentang topik apa yang diangkat oleh Media Indonesia terjawab. “Media Indonesia” Edisi Rabu 21 Maret 2007 pada rubric “analisis” tentang survey litbang media group mengangkat tema tentang korban Lumpur lapindo, fokus analisisnya lebih kepada keadaan dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;nasib para korban lumpur lapindo yang dianaktirikan atau tidak diperhatikan. Semakin jelaslah dalam hal ini, “Media Indonesi” tengah berupaya untuk melakukan propaganda kepada seluruh pihak khususnya dalam hal ini tertuju kepada pemerintah, agar lebih memperhatikan dan mengutamakan korban lumpur lapindo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lebih dalam lagi jika kita analisis lewat analisis teks media, maka semakin jelasnya upaya propaganda “Media Indonesia”. Misalnya “Media Indonesia” menulis: “&lt;i&gt;Ironisnya, nasib warga Porong korban luimpur sampai hari ini masih tak menentu, meski pada tingkat kebijakan sudah ada perjanjian bahwa Lapindo akan mengganti semua aset pihak lain, termasuk warga, yang lenyap karena luberan lumpur panas. Hak mereka atas tanah tempat tinggalnya yang tenggelam, yang seharunya sudah emreka terima hingga kini belum juga cair”&lt;/i&gt; (paragraf.12).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;unsur &lt;b&gt;media yang digunakan (In Wich Channel). &lt;/b&gt;Para proses propaganda yang dilakukan oleh “Media Indonesia” ini media yang digunakan tentunya adalah koran atau media cetak, karena pada dasarnya “Media Indonesia” bergerak dalam dunia media cetak. Namun jika kaca mata analisisnya ditujukan kepada “Media Indonesia” dalam menghimpun data dan opini masyarakat (publik) yang dimaksudkan untuk mengetahui opini yang sedang berkembang di masyarakat, maka “Media Indonesia” menggunakan media survei yang dilakukan oleh Litbang Media Group dengan melakukan wawancara terstuktur dengan kuesioner melalui telepon kepada masyarakat di enam kota besar yakni Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan. Namun hasil survei yang dilakukan oleh Media Group, tulis “Media Indonesia” tidak dimaksudkan mewakili pendapat seluruh indonesia, namun hanya masyarakat pengguna telepon residensial di kota tersebut. Dan &lt;i&gt;Margin of Error&lt;/i&gt; survei tersebut plus minus 4,6 % pada tingkat kepercayaan 95%. (paragraf. 2).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;, unsur&lt;b&gt; siapa yang dituju dari propaganda tersebut / komunikan (To Whom). &lt;/b&gt;Mengacu pada unsur yang keempat ini, sebenarnya berdasarkan analisis saya maka yang dituju oleh propaganda “Media Indonesia” adalah seluruh pihak. Namun jauh dari itu, pasti setiap masalah tidak selalu general ditujukan kepada seluruh pihak, pasti ada pihak yang dikhususkan. Begitu juga dengan propaganda yang dilakukan oleh “Media Indonesia” juga. Maka yang menjadi fokus propaganda (sebenarnya) adalah pemerintah. Dari judul (Head Line) saja “Korban Lumpur Panas Dianaktirikan” sudah terlihat bagaimana “Media Indonesia” menilai kinerja dan peran pemerintah terhadap korban Lapindo yang hanya menganaktirikan. Selain itu juga hal ini diperkuat dengan teras (lead) yang ditulis “Media Indonesia”: “&lt;i&gt;Mayoritas masyarakat menilai tidak puas terhadap kinerja pemerintah dalam menangani korban lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Bahkan, mayoritas menilai korban juga kurang mendapat perhatian pemerintah bila dibandingkan dengan korban bencana alam lainya”&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kelima,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; unsur&lt;/span&gt;&lt;b&gt; efek yang ditimbulkan (With What Effect). &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jika menganalisi dari segi efek yang ditimbulkan khususnya topik yang diangkat yaitu korban lumpur yang dianaktirikan, “&lt;i&gt;Media Indonesia menulis: “Ketidakjelasan soal pembayaran ganti rugi tersebut membuat kehidupan puluahn ribu warga Porong juga semakin tidak jelas. Tak terbayangkan bagaimana hancurnya kehidupan mereka akibat Lumpur panas yang yang menenggelamkan rumah-rumah dan tempat kerja mereka. Mendadak ribuan orang terpaksa mengungsi jauh dari tempat tinggalnya. Sekaligus berarti mereka juga kehilangan mata pencaharian, baik dari lahan pertanian maupun pabrik-pabrik yang terpaksa ditutup&lt;/i&gt;” (Paragraf.16). Dari tulisan “Media Indonesia” di atas jelasnya sungguh besar efek yang ditimbulkan oleh kinerja pemerintah yang setengah hati sehingga menganaktirikan korban lapindo. Dan mungkin inilah yang menjadi alas an terkuat bagi “Media Indonesia” untuk melakukan propaganda, harapannya pemerintah bisa lebih memerhartikan kepentingan-kepentingan korban lapindo selayak-layaknya, layaknya seoarang ibu kepada anak kandungnya bukan seperti anak tiri yang dinomorduakan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Keenam,&lt;/i&gt; unsur yang menujukan &lt;b&gt;situasi yang terjadi pada saat bersamaan (Sikon).&lt;/b&gt; Pada dasarnya situasi yang terjadi pada saat bersamaan terlihat damai dan terkendali, walaupun gelombang protes disertai emosi dan histeria kerap menghiasi aksi protes dan unjuk rasa korban Lumpur Lapindo tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Ketujuh,&lt;/i&gt;unsur&lt;b&gt; cara yang dilakukan untuk proses tersebut (Teknik).&lt;/b&gt; Dari foto berita yang dimuat bersamaan dengan tulisan itu maka, kita bisa melihat bagaiman situasi yang terjadi pada korban Lumpur Lapindo. Mereka protes dan berunjuk rasa dengan cara memblokir kereta api, hal ini dilakukan sebagai wujud dari tidak puasnya atas kinerja pemerintah dalam menangani korban Lapindo.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Kedelapan&lt;/i&gt;, unsur pada&lt;b&gt; acuan atau hal yang ingin diraih (Kebijakan)&lt;/b&gt;. Jika saya simpulkan sebenarnya proses propaganda yang dilakukan oleh “Media Indonesia” berujung pada pendesakan agar pemerintah mengambil alih langsung penanganan korban Lumpur Lapindo. Pemerintah diharapkan&lt;i&gt; All Out&lt;/i&gt; dalam menangani kasus ini bukan dengan setangah hati, bisa lebih memperhatikan dan mengutamakan segala kepentingan rakyatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Demikianlah uraian analisis saya terhadap kegiatan propaganda yang dilakukan oleh “Media Indoensia”. Yang menjadi catatan pada akhir dari analisis ini bahwa, sejatinya propaganda benar-benar murni untuk memperjuangkan yang hak (benar) bukan sebaliknya. Kenapa saya menulis demikian? Sebab tidak sedikit juga media yang melakukan propaganda pada suatu masalha yang justru dianggap salah. Disinilah yang berbicara adalah kepentingan dan agenda setting media. Oleh karenanya kita sebagai seorang muslim, berkewajiban untuk senantiasa&lt;i&gt; tabayun &lt;/i&gt;(cek-ricek) terhadap setiap berita yang dating kepada kita, agar kita tidak termasuk korban propaganda yang tida benar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Wallahu A’lamu bissawab.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT-CH"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT-CH"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-6565335266040986428?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/6565335266040986428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=6565335266040986428' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/6565335266040986428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/6565335266040986428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/05/propaganda.html' title='PROPAGANDA'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-8357356853027444463</id><published>2007-04-21T14:52:00.000+08:00</published><updated>2007-04-24T21:38:31.127+08:00</updated><title type='text'>Pengantar Ilmu Jurnalistik</title><content type='html'>&lt;code&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Dian Amalia&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="A"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Pengertian Jurnalistik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Definisi jurnalistik sangat banyak. Namun pada hakekatnya sama, para tokoh komuniikasi atau tokoh jurnalistik mendefinisikan berbeda-beda. Jurnalistik secara harfiah, jurnalistik (&lt;i&gt;journalistic&lt;/i&gt;) artinya kewartawanan atau hal-ihwal pemberitaan. Kata dasarnya “jurnal” (&lt;i&gt;journal&lt;/i&gt;), artinya laporan atau catatan, atau “&lt;i&gt;jour&lt;/i&gt;” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day) atau “catatan harian” (diary). &lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam bahasa Belanda &lt;i&gt;journalistiek &lt;/i&gt;artinya penyiaran catatan harian.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa. Jurnalistik adalah seperangkat atau suatu alat madia massa. Pengertian jurnalistik dari berbagai literature dapat dikaji definisi jurnalistik yang jumlahnya begitu banyak. Namun jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang terjadi di dunia. Apapun yang terjadi baik peristiwa factual (&lt;i&gt;fact&lt;/i&gt;) atau pendapat seseorang (opini), untuk menjadi sebuah berita kepada khalayak.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jurnalistik adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaopran setiap hari. Jadi jurnalistik bukan pers, bukan media massa. Menurut kamus,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis surat kabar, majalah, atau berkala lainnya.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk lebih jelasnya apa yang dimaksud dengan jurnalistik, dibawah ini adalah definisi dari para tokoh tentang jurnalistik seperti yang di rangkum oleh Kasman dalam bukunya bahwa jurnalistik adalah: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;F. Fraser Bond dalam bukunya &lt;i&gt;An Introduction to Journalism &lt;/i&gt;menyatakan: “&lt;i&gt;Journalism ambraces all the forms in which and trough wich the news and moment on the news reach the public&lt;/i&gt;”. Jurnalistik adalah segala bentuk yang membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai pada kelompok pemerhati. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;M. Djen Amar, jurnalistik adalah usaha memproduksi kata-kata dan gambar-gambar yang dihubungkan dengan proses transfer ide atau gagasan dengan bentuk suara, inilah cikal bakal makna jurnalistik sederhana. Pengertian menurut Amar juga dijelaskan pada Sumadiria.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jurnalistik adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berita kepada khalayak seluas-luasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;M. Ridwan, adalah suatu kepandaian praktis mengumpulkan, mengedit berita untuki pemberitaan dalam surat kabar, majalah, atau terbitan terbitan berkala lainnya. Selain bersifat ketrampilan praktis, jurnalistik merupakan seni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Onong U. Effendi, jurnalistik adalah teknik mengelola berita sejak dari mendapatkan bahan sampai kepada menyebarluaskannya kepada khalayak. Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informatif saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Adinegoro, jurnalistik adalah semacam kepandaian karang-mengarang yang pokoknya memberi perkabaran pada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya. Sedang menurut Summanang, mengutarakan lebih singkat lagi, jurnalistik adalah segala sesuatu yang menyangkut kewartawanan.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam buku &lt;i&gt;Jurnalistik Indonesia &lt;/i&gt;karya Sumadiria juga mengungkapkan pengertian beberapa tokoh antara lain; F.Fraser Bond, Roland E. Wolseley, Adinegoro, Astrid S. Susanto, Onong U. Effendi, Djen Amar, Erik Hodgins, Kustadi Suhandang, dan bahkan penulis itu sendir Haris Sumadiria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Roland E. Wolseley dalam &lt;i&gt;Understanding Magazines &lt;/i&gt;(1969:3), jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Astrid S. Susanto, jurnalistik adalah kegiatan pencatatan dan atau pelaporan serta penyebaran tentang kejadian sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Erik Hodgins (Redaktur Majalah &lt;i&gt;Time&lt;/i&gt;), jurnalistik adalah pengiriman informasi dari sini ke sana dengan benar, seksama, dan cepat, dalam rangka membela kebenaran dan keadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Haris Sumadiria, pengertian secara teknis, jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam buku Kustadi Suhandang, juga terdapa satu pakar lagi yang mendefinisikan pengertian jurnalistik, yaitu A.W. Widjaya, menyebutkan bahwa jurnalistik merupakan suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita ataupun ulasannya mengenai berbagai peritiwaatau kejadian sehari-hari yang aktualdan factual dalam waktu yang secepat-cepatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sedang menurut Kustadi Suhandang sendiri Kustadi, jurnalistik adalah seni atau ketrampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut A.Muis dan Edwin Emery yaitu; A.Muis (pakar hukum komunikasi) mengatakan bahwa definisi tentang jurnalistik cukup banyak. Namun dari definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan secara umum. Semua definisi juranlistik memasukan unsur media massa, penulisan berita, dan waktu yang tertentu (aktualitas). Menurut Edwin Emery juga sama mengatakan dalam jurnalistik selalu harus ada unsur kesegaran waktu (&lt;i&gt;timeliness &lt;/i&gt;atau aktualitas). Dan Emery menambahkan bahwa seorang jurnalis memiliki dua fungsi utama. &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;fungsi jurnalis adalah melaporkan berita.&lt;i&gt; Kedua, &lt;/i&gt;membuat interpretasi dan memberikan pendapat yang didasarkan pada beritanya.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut &lt;i&gt;Ensiklopedi Indonesia, &lt;/i&gt;jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari (pada hakikatnya dalam bentuk penerangan, penafsiran dan pengkajian) secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sumadiria juga menambahkan bahwa jurnalistik dalam &lt;i&gt;Leksikon Komunikasi&lt;/i&gt; dirumuskan, jurnalistik adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, menyunting dan menyebarkan berita dan karangan utuk surat kabar, majalah, dan media massa lainnya seperti radio dan televisi.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;code&gt;&lt;/code&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="2" type="A"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Ruang Lingkup Jurnalistik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ruang lingkup jurnalistik sama saja dengan ruang lingkup pers. Dalam garis besar jurnalistik Palapah dan Syamsudin dalam diktat membagi ruang lingkup jurnalistik ke dalam dua bagian, yaitu : &lt;i&gt;news &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;views &lt;/i&gt;(Diktat “Dasar-dasar Jurnalistik”)&lt;i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;News &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dapat dibagi menjadi menjadi dua bagian besar, yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Stainght news, &lt;/i&gt;yang terdiri dari :&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 89.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Matter of fact news&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 89.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Interpretative report&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 89.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Reportage&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Feature news,&lt;/i&gt; yang&lt;i&gt; &lt;/i&gt;terdiri dari :&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 89.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Human interest features&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 89.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Historical features&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 89.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Biographical and persomality features&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 89.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Travel features&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 89.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Scientifict features&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Views &lt;/i&gt;dapat dibagi kedalam beberapa bagian yaitu :&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Editorial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Special article&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Colomum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Feature article&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="3" type="A"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Sejarah Jurnalistik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informatif saja. Itu terbukti pada &lt;i&gt;Acta Diurna&lt;/i&gt; sebagai produk jurnalistik pertama pada zaman Romawi Kuno, ketika kaisar Julius Caesar berkuasa.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekilas tentang pengertian dan perkembangan jurnalistik, Assegaff sedikit menceritakan sedikit sejarah. Bahwa jurnalistik berasal dari kata &lt;i&gt;Acta Diurna, &lt;/i&gt;yang terbit di zaman Romawi, dimana berita-berita dan pengumuman ditempelkanatau dipasang di pusat kota yang di kala itu disebut &lt;i&gt;Forum Romanum. &lt;/i&gt;Namun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;asal kata jurnalistik adalah “Journal” atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Du jour” yang berarti hari, di mana segala berita atau warta sehari itu termuat dalam lembaran tercetak. Karena kemajuan teknologi dan ditemukannyapencetakan surat kabar dengan system silinder (rotasi), maka istilah “pers muncul”, sehingga orang lalu mensenadakan istilah “jurnalistik” dengan “pers”.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sejarah yang pasti tentang jurnalistik tidak begitu jelas sumbernya, namun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang pasti jurnaliatik pada dasarnya sama yaitu diartikan sebagai laporan. Dan dari pengertian ada beberapa versi. Kalau dalam dari sejarah Islam cikal bakal jurnalistik yang pertama kali didunia adalah pada zaman Nabi Nuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Suhandang dalam bukunya juga menerangkan sejarah Nabi Nuh teerutama dalam menyinggung tentang kejurnalistikan. Dikisahkan bahwa pada waktu itu sebelum Allah SWT menurunkan banjir yang sangat hebatkepada kaum yang kafir, maka datanglah maiakat utusan Allah SWT kepada Nabi Nuh agar ia memberitahukan cara membuat kapal sampai selesai. Kapal yang akan dibuatnya sebagai alat untuk evakuasi Nabi Nuh beserta sanak keluarganya, seluruh pengikutnya yang shaleh dan segala macam hewan masing-masing satu pasang. Tidak lama kamudian, seusainya Nabi Nuh membuat kapal, hujan lebat pun turun berhari-hari tiada hentinya. Demikian pula angin dan badai tiada henti, menghancurkan segala apa yang ada di dunia kecuali kapal Nabi Nuh. Dunia pun dengan cepat menjadi lautan yang sangat besar dan luas. Saat itu Nabi Nuh bersama oranng-orang yang beriman lainnya dan hewan-hewan itu telah naik kapal, dan berlayar dengan selamat diatas gelombang lautan banjir yang sangat dahsyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hari larut berganti malam, hingga hari berganti hari, minggu berganti minggu. Namun air tetap menggenang dalam, seakan-akan tidak berubah sejak semula. Sementara itu Nabi Nuh beserta lainnya yang ada dikapal mulai khawatir dan gelisah karena persediaan makanan mulai menipis. Masing-masing penumpang pun mulai bertanya-tanya, apakah air bah itu memang tyidak berubah atau bagaimana? Hanya kepastian tentang hal itu saja rupanya yang bisa menetramkan karisuan hati mereka. Dengan menngetahui situasi dan kondisi itu mereka mengharapkan dapat memperoleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;landasan berfikir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk melakukan tindak lanjut dalam menghadapi penderitaanya, terutama dalam melakukan penghematan yang cermat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Guna memenuhi keperluan dan keinginan para penumpang kapalnya itu Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk meneliti keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Setelah beberapa lama burung itu terbang mengamati keadaan air, dan kian kemari mencari makanan, tetapi sia-sia belaka. Burung dara itu hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun (&lt;i&gt;olijf&lt;/i&gt;) yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun di patuknya dan dibawanya pulang ke kapal. Atas datangnya kembali burung itu dengan membawa ranting zaitun. Nabi Nuh mengambil kesimpulan bahwa air bah sudah mulai surut, namun seluruh permukaan bumi masih tertutup air, sehingga burung dara itu pun tidak menemukan tempat untuk istirahat demikianlah kabar dan berita itu disampaikan kepada seluruh anggota penumpangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Atas dasar fakta tersebut, para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai &lt;i&gt;seorang pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) yang pertama kali di dunia.&lt;/i&gt; Bahkan sejalan dengan teknik-teknik dan caranya mencari serta menyiarkan kabar (warta berita di zaman sekarang dengan lembaga kantor beritannya). Mereka menunjukan bahwa sesungguhnya &lt;i&gt;kantor berita yang pertama di dunia &lt;/i&gt;adalah Kapal Nabi Nuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Data selanjutnya diperolah para ahli sejarah negara Romawi pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi (Imam Agung) mencatat segala kejadian penting yang diketahuinya pada &lt;i&gt;annals &lt;/i&gt;(papan tulis yang digantungkan di serambi rumahnya). Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengumuman sejenis itu dilanjutkan oleh Julius Caesar pada zaman kejayaannya. Caesar mengumumkan hasil persidangan senat, berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya, dengan jalan menuliskannya pada papan pengumuman berupa papan tulis pada masa itu. (60 SM) dikenal dengan &lt;i&gt;acta diurna &lt;/i&gt;dan diletakkan di Forum Romanum (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum. Terhadap isi &lt;i&gt;acta diurna &lt;/i&gt;tersebut setiap orang boleh membacanya, bahkan juga boleh mengutipnya untuk kemudian disebarluaskan dan dikabarkan ke tempat lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Baik hikayat Nabi Nuh menurut keterangan Flavius Josephus maupun munculnya &lt;i&gt;acta diurna &lt;/i&gt;belum merupakan suatu penyiaran atau penerbitan sebagai harian, akan tetapi jelas terlihat merupakan gejala awal perkembangan jurnalistik. Dari kejadian tersenut dapat kita ketahui adanya suatu kegiatanyang mempunyai prinsip-prinsip komunikasi massa pada umumnya dan kejuruan jurnalistik pada khususnya. Karena itu tidak heran kalau Nabi Nuh dikenal sebagai &lt;i&gt;wartawan pertama &lt;/i&gt;di dunia. Demikian pula &lt;i&gt;acta diurna&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;sebagai &lt;i&gt;cikal bakal lahirnya surat kabar harian&lt;/i&gt;.&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seiring kemajuan teknologi informasi maka yang bermula dari laporan harian maka tercetak manjadi surat kabar harian. Dari media cetak berkembang ke media elektronik, dari kemajuan elektronik terciptalah media informasi berupa radio. Tidak cukup dengan radio yang hanya berupa suara muncul pula terobosan baru berupa media audio visual yaitu TV (televisi). Media informasi tidak puas hanya dengan televisi, lahirlah berupa internet, sebagai jaringan yang bebas dan tidak terbatas. Dan sekarang dengan perkembangan teknologi telah melahirkan banyak media (&lt;i&gt;multimedia&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;h1 style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Assegaff, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1982, &lt;i&gt;Jurnalistik Masa Kini: Pengantar Ke Praktek Kewartawanan, &lt;/i&gt;Jakarta, Ghalia Indonesia.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Muis, A.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;1999, &lt;i&gt;Jurnalistik Hukum Komunikasi &lt;st1:city st="on"&gt;Massa&lt;/st1:city&gt;, &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: PT. Dharu Annutama.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kasman, Suf.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;2004, &lt;i&gt;Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an, &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Penerbit Teraju&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Romli, Asep Syamsul M.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;2005, &lt;i&gt;Jurnalistik Terapan: Pedoman Kewartawanan dan Kepenulisan, &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Batic Press&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Suhandang, Kustadi.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2004, &lt;i&gt;Penngantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk, dan Kode Etik. &lt;/i&gt;Bandung, Penerbit Nuansa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sumadiria, AS Haris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;2005, &lt;i&gt;Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional, &lt;/i&gt;Bandung, Simbiosa Rekatama Media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoHeader" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Palapah dan Syamsudin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                 &lt;p class="MsoHeader" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;1994, &lt;i&gt;Diktat “Dasar-dasar Jurnalistik”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div style=""&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; Asep Syamsul M. Romli, &lt;i&gt;Jurnalistik Terapan: Pedoman Kewartawanan dan Kepenulisan&lt;/i&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Batic Press, 2005, hlm. 01.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:10;"&gt;Suf Kasman, &lt;i&gt;Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an&lt;/i&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Penerbit Teraju, 2004, hlm. 22-23&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span lang="SV"  style="font-size:10;"&gt;AS Haris Sumadiria, &lt;i&gt;Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional&lt;/i&gt;, Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2005, hlm. 02&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10;"&gt;Ibid hal&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:8;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10;"&gt;hlm. 03.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Op.cit, Suf Kasman,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hlm. 23-24.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="SV"&gt;AS Haris Sumadiria, &lt;i&gt;Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional&lt;/i&gt;, Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2005, hlm. 2-3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="line-height: 150%;font-size:10;" &gt;A. Muis, &lt;i&gt;Jurnalistik Hukum Komunikasi &lt;st1:city st="on"&gt;Massa&lt;/st1:city&gt;, &lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: PT. Dharu Annutama. 1999, hlm. 24-25&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="SV"&gt;AS Haris Sumadiria, &lt;i&gt;Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional&lt;/i&gt;, Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2005, hlm. 02.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ibid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;amp;postID=8357356853027444463#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Suf Kasman, &lt;i&gt;Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an&lt;/i&gt;, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;:Penerbit Teraju, 2004, hlm. 23.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10;"&gt;Assegaff, Jurnalistik Masa Kini: Pengantar Ke Praktek Kewartawanan, Jakarta:Ghalia Indonesia, 1982, 9-10.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=30327082&amp;amp;postID=8357356853027444463#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10;"&gt;Suhandang, Kustadi., &lt;i&gt;Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk, dan Kode Etik&lt;/i&gt;. Bandung:Penerbit Nuansa, 2004, hlm. 25-26.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-8357356853027444463?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/8357356853027444463/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=8357356853027444463' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8357356853027444463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8357356853027444463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/04/pengantar-ilmu-jurnalistik.html' title='Pengantar Ilmu Jurnalistik'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-8164163414805588428</id><published>2007-04-21T14:48:00.000+08:00</published><updated>2007-04-24T21:30:45.311+08:00</updated><title type='text'>Pertemuan Olmert-Abbas: Sekedaar Foto Bareng.</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;code&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;        Lagi, pertemuan itu diadakan dan lagi-lagi tiada hasil. &lt;i&gt;Paamrok jonkok&lt;/i&gt;nya Perdana Mentri Israel, Ehud Olmert dan Presiden Palestina yang digelar pada ahad {15/4} kemarin menyisakan sebuah tanya, apa gunanya pertemuan itu? Pertanyaan ini menjadi krusial ditengah polemik timur tengah yang berkepanjangan dan tanpa ujung. Seperti yang diramalkan oleh kebanyak pihak pertemuan yang di sponsori oleh Menteri Luar Negeri AS, Condoreza Rise itu memang tak akan menyeleseikan konflik yang telah mendarahdaging disetiap rakyat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Palestina dan Israel. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bukti dari kehampaan pertemuan itu adalah dilihat dari agenda pertemuan itu bisa jadi hanya untuk sekedar foro bareng belaka. Ini ditandai dengan keengganan Israel membahas sejumlah isu pokok yang menjadi permasalahan utama konflik Timur Tengah itu seperti batas negara, Yerusallem Timur sebagai ibu kota Palestina yang merdeka dan berdaulat serta status pengungsi Palestina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Kami tidak akan menyentuh isu-isu pokok tetapi kami akan mendiskusikan sejumlah isu yang substansial. Seperti badan keamanan dan administrasi pemerintahan Palestina” ujar Olmert kepada media {Republika 16/04}&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dari pernyataan diatas nyata sekali keegoisan yahudi, nyatanya yang menjadi masalah utama tidak disentuh sama sekali, Israel lebih mengutamakan badan keamanan yang akan mereka sponsori&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan mereka juga yang akan tidak membuat aman, sebab pada kenyataannya rakyat Palestina tidak pernah merasa aman menikmati hidupnya, anak-anak tidak menemuakan keceriaan dunai anak-anaknya yang digantikan dengan dentuman bom dan opreasi tank-tank militer Israel . Sebuah hal yang menggelikan sekali memang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ada tanda Tanya besar dalam masalah ini, kenapa Israel bersikap egois?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanya ini langsung oleh Allah SWT jawab dengan pastis: “&lt;i&gt;Dan Tidak akan pernah ridha Yahudi dan Nasrani, sehingga kamu {kaum muslimin} mengikuti apa yang mereka inginkan…&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Singkat, jelas dan padat perberitahuan Allah SWT kepada kaum muslimin tentang usaha Yahudi dan Nasrani kapanpun di mana pun. Hal ini mengindikasikan bahwa usaha Yahudi dan Nsharani untuk berkuasa atas Islam tidak akan pernah surut dan padam sampai hari kiamat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Maka seharusnya, kita{kaum muslimin} harus lebih cermat dengan segala pola sikap dan piker Israel, wajah mereka seakan bertopeng. Manis didepan masam dibelakang. Walaupun nyatanya mereka beritikad baik untuk mengadakan pertemuan untuk menyeleseikan masalah-masalah, pada dasarnya dibalik semua itu mempunyai tujuan tertentu yang tentu saja untuk usaha berkuasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kenapa saya menulis seperti itu? Pertama, indikasi nyata usaha tak akan pernah padam dan surut Israel memusuhi islam dengan firman Allah SWT pada surat. Dalam ayat itu kalimat dimulai dengan huruf &lt;i&gt;Lan&lt;/i&gt; yang berarti merupakan huruf nawasib yang bersifat menafikan dan mempunyai makna tidak akan pernah selama-lamanya. Ini indikasi yang diberitakan oleh Allah SWT terhadap permusuhan Israel {Yahudi} terhadap Palestina {Islam}sampai hari kiamat saatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kedua, Islam tidak akan pernah jaya atau berdiri tegak karena pemberian dari orang lain, tapi tegaknya Islam merupakan usaha sepenuhnya dari kaum muslimin. Bahkan Rosul pernah menyatakan tegaknya Islam bukan karena hasil rasa kasihan, empati atau pemberian dari orang lain, tapi tegaknya Islam murni oleh usaha umat Islam sendiri. Jadi jika Israel berhati luluh dan memberikan dengan mudah kemerdekaan Palestina untuk menegakan syariat islam mustahil adanya. Selama tidak berjuang dengan tangannya sendiri pemerintahan yang berdaulat merdekan dan berasaskan Islam tidak akan pernah tegak, sebaliknya negara ideal yang diimpikan olehg rakyat Palestina dapat terwujud dengan menangakat tangan dan melawan hegemoni Israel.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;code&gt;&lt;/code&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hendaknya saya menghimbau melalui tulisan ini, untuk selalu waspada terhadap segala usaha yahudi dan nasrani. Yang paling penting adalah usaha kita untuk senantisa mencek dan ricek {tabayun} segala informasi yang dibawa oleh orang munafik. Bisa jadi mereka bermuka manis, so iyeh didepan, tapi dibelakang semua itu mereka mempunyai tujuan yang justru bertolak belakang dan akan merugikan kita {kaum muslimin}.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tanggapan saya terhadap pertemuan itu Olmert dan Abbas hanya sekedar foto bareng { buat koper yasin, mungkin}. Islam akan tegak dengan usaha kita semua bukan dengan jalan karena dapat rasa kasihan dan kebaikan orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Allahu akbar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-8164163414805588428?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/8164163414805588428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=8164163414805588428' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8164163414805588428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/8164163414805588428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/04/pertemuan-olmert-abbas-sekedaar-foto.html' title='Pertemuan Olmert-Abbas: Sekedaar Foto Bareng.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-6695182697070880699</id><published>2007-04-21T14:42:00.000+08:00</published><updated>2007-04-21T14:47:42.537+08:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional, Apakah Sebuah Jawaban?</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dunia pendidikan kita saat ini sedang mempunyai hajat besar. Sebuah perhelatan yang membuat orang yang terlibat merasa tegang dan was-was, antara lulus dan tidak lulus, antara kejujuran dan gengsi. Hajat besar itu adalah UN atau Ujian Nasional.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurut jadwal yang dikeluarkan Departemen Pendidikan nasional {Dep-diknas), untuk tingkat SMA/MA/SMK diselenggarakan pada 17-19 April 2007, yang berarti telah dilaksanakan kemarin. Dan untuk tingkat SMP/MTs/SMPLB/SMALB pada 24-26 April 2007 mendatang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;UN yang telah diadakan dari tahun ke tahun termasuk tahun sekarang terus memunculkan polemic tentang perlu tidaknya UN, resistensi ini muncul atas endapan keprihatinan pada kondisi bangsa dan korelasinya dengan pendidikan yang memprhatinkan karena sebuah tuntutan keadaan bangsa yang tak kunjung membaik, maka munculah sebuah pertanyaan yang besar, sudahkan pendidikan menjawab segala permasalahan bangsa yang semakin banyak dan kompleks. Adalah sebuah keharusan bagi semua pihak untuk memberikan perhatian lebih, dalam hal ini terutama pada aspek pelaksanaannya UN, dengan muncul kecurangan–kecurangan adalah penodaan kepada dunia pendidikan kita dan ini mengindikasikan bahwa memang pendidikan saat ini belum relevan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun lebih dari itu, perhatian kita bukan semata pada aspek praktis semata, tapi juga memahami betul esensi dari UN itu sendiri. Memang membahas UN dari tahun ke tahun selalu saja kita dihadapkan pada topik yang usang, yang menjadi perdebatan masih tetap sama; perlu/tidak atau ada dan tidaknya UN. Hampir seluruh argumentas pro-kontra mencapai klimaks pada keharusan UN tetap diadakan. Buktinya sampai saat ini UN masih tetap diadakan.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebenarnya terlepas saat ini UN sudah dilaksanakan, sejatinya pemahaman akan pentingnya UN kembali kita buka. Kesimpulan tetap diadakanya UN adalah buah dari kesimpulan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tanpa dasar pedagogis, bahwa dengan tingkat kelulusan dari tahun ke tahun yang meningkat merupakan indikator bahwa mutu pendidikan kita meningkat. Coba cermati data ini, bahwa hasil UN tahun ajaran 2005-2006 lebih bagus dari tahun sebelumnya karena jumlah kelulusan lebih banyak {SMA:92,5 dari 80,76 persen; MA;90,82 dari 80,73 persen; SMK 91,00 dari 78,29 persen, walaupun angka standar kelulusan dari tahun ketahun ditingkatkan. Dengan alasan pencapaian inilah pemerintah &lt;i&gt;keukeuh sureukeuh&lt;/i&gt; mengadakan UN.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Selain itu yang menjadi alasan kuat pragmatisme terus diselenggarkannya UN adalah logikanya bahwa ketika siswa diberikan sebuah “ujian” dengan tuntutan sebuah kelulusan, pemikiran mereka bahwa otomatis setiap siswa akan belajar keras untuk mencapai nilai standar kelulusan tersebut. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Namun menurut penulis argumen ini sedikit&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kurang relevan. Berdasarkan pengalaman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penulis ketika masih duduk di bangku SMU, justru pada kenyataannya bukan belajar keras yang dilakukan, dengan menghapal dan memperdalam mata pelajaran yang akan diujikan, atau rajin try out soal-soal UN tahun lalu. Tetapi pada kenyataannya bagi siswa yang –maaf- kemampuannya dibawah standar jusru banting setir, memeras otak bagaimana caranya supaya UN bisa sukses walaupun dengan jalan &lt;i&gt;machavealisme&lt;/i&gt; sekalipun yaitu dengan menghalalkan segala cara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan pada akhirnya kecurangan-kecurangan pun UN tidak bisa dihindarkan; soal yang bocor&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahkan sampai jawabannya lalu dibeli oleh para siswa walaupun dengan harga yang cukup mahal, penjockeyan ketika UN berlangsung dan masih banyak modus operandi menyiasatinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ketika “nilai” dijadikan sebuah ukuran sebagai penyebab utama rendahnya mutu pendidikan atau baiknya mutu pendidikan adalah sebuah hal yang keliru, sebab hal itu merupakan penalaran&lt;i&gt; non cause pro cause&lt;/i&gt; (bukan sebab dikiran sebab). Sebab, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh pencapaian angka-angka kelulusan murni –walaupun itu satu indicator penting&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Seharusnya pemerintah dengan cermat mendiagnosis bagai seorang dokter kepada pasiennya: mengindentifikasi dan mengamati aspek masalah dasar, termasuk dimensi cultural dan sejarah bangsa ini, menganalisis dengan rinci guna mengetahui tanda dan gejalanya, lalu menguji di “laboratorium”, dan akhirnya sampai pada kesimpulan untuk membuat langkah-langkah guna mengatasinya. Selain itu reaksi masyarakat merupakan komponen yang jangan dianggap sebelah mata justru sebaliknya merupakan unsur yang harus diukur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bukankah gambaranan dari pemahaman logika bahwa UN dapat meningkatkan mutu dan melahirkan budaya kerja keras merupakan kenyataan kotradiktif, justru hal itu merupakan langkah mundur dunia pendidikan kita saat ini. Bagaimana mungkin angka dan jumlah kelulusan menjadi ukuran mutu pendidikan? Jika demikian mau dibawa kemana arah pendidikan kita? Berorientasi pada angka semata. Sebab seperti apa yang diwasiatkan dosen penulis disetiap menjelang UAS, bahwa nilai atau angka bukan ukuran dan segala-galanya; &lt;i&gt;nilai mah ki bisa dimanipulasii&lt;/i&gt;! Kata-kata itulah yang selalu terngiang di telinga penulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sejatinya pendidikan jauh melampui aspek kognisi (pengetahuan) ada dua ranah yang lain disamping aspek ognitive, yaitu sikap (&lt;i&gt;attitude&lt;/i&gt;) dan praktik (&lt;i&gt;skill&lt;/i&gt;). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Maka pengembangan pendidikan tidak boleh dan tidak seharusnya terjadi semata-mata mana-suka, tetapi harus dituntun oleh kerangka filosofi dan ideology bangsa serta ideology pendidikan. Sebab di saat keadaan yang carut-marut seperti inilah pendidikan adalah sebuah jalan keluar untuk menciptakan karakter yang tangguh, berbudaya tinggi dan memiliki multi-level intelegence yang saling melengkapi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dengan “dikatrolnya nilai” pendidikan di Indonesia saat ini telah kehilangan jati diri, seharusnya pendidikan menjadi tempat penanaman nilai-nilai yang akan diejawantahkan dalam kehidupan di masyarakat. Tapi saat in pendidikan telah melahirkan out pout yang premature dan tak jelas orientasinya. Maka sering ditemukan kontradiksi yang paling kurang ajar antara kemestian pendidikan dan realitas social yang terjadi. Lihat saja, realitas tak pernah hadir dalam wajah yang dusta. Berapa banyak, bisa kita hitung manusia-manusia “berpendidikan” dengan karakter dan wajah social yang (seolah) tak berpendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Oleh karenanya, mengembalikan semangat pendidikan kepada arah hasrat menyempurnakan bersama-proses berdasarkan realitas dan kompleksitas manusiawi tidak bisa ditawar lagi. Dalam usaha memajukan kualitas pendidikan, tujuan jarang disentuh dan dijadikan program dasar propesional. Padahal, tujuan pendidikan itulah yang harus diperjuangkan untuk diraih oleh siapa pun yang berkecimplung dalam dunia pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Fakta telah bicara tahun kemarin (2006), banyak siswa yang tidak lulus melakukan sikap yang menyimpang dan tidak terpuji contoh ada beberapa siswa yang nekat bunuh diri (Kompas, 22/6/2006), dan ada pula yang melampiaskan kekesalan dengan membakar sekoah sendiri, bahkan ada siswa berupaya melukai gurunya (Kompas, 25/2/2006).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Cobalah kita cermati mengapa seorang siswa dengan berani membakar sekolahnya sendiri? Bahkan sampai ada yang berani melukai seorang yang telah memberikan jasa dengan tanpa tanda jasa? Ini menjadi PR buat pendidikan di Indonesia, adakah pendidikan saat ini tidak saja menitkberatkan pada aspek IQ (&lt;i&gt;Intelektual Quotient&lt;/i&gt;) belaka, tapi jauh lebih dari itu aspek EQ (&lt;i&gt;Emotional Quotient&lt;/i&gt;) dan SQ (&lt;i&gt;Spiritual Quotient&lt;/i&gt;). Maka dengan tersentuhnya EQ dan SQ, buah hasil dari pendidikan tidak saja, kaya akan aspek ilmu pengetahuan, juga aspek emosional atau moral, penajaman hati nurani (&lt;i&gt;conscience&lt;/i&gt;), bahkan lebih dari itu akan tercapainya siswa yang religius atau taat beragama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bukan lagi rahasia bahwa saat ini kunci kesuksesan dalam hidup, tidak lagi bertitik berat pada aspek pengetahuan (&lt;i&gt;cognitive&lt;/i&gt;) atau IQ belaka, tapi aspek EQ dan SQ menjadi jauh lebih penting seperti yang di paparkan oleh Ary Ginanjar Agustian dalam buku &lt;i&gt;Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritiual Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam &lt;/i&gt;atau oleh Toto Tasmara dengan buah pikirnya &lt;i&gt;Kecerdasan Ruhaniyah &lt;/i&gt;atau karya Agus Nggermanto dengan bukunya &lt;i&gt;Kecerdasan Quantum Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ dan SQ Yang Harmonis&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Gejala ini (pentingnya aspek EQ dan SQ) menurut A.M Saepudin (1999:23) terjadi karena masyarakat dunia telah menemui kelelahan-intelektual dan kemarau-spiritual. Oleh karenanya pendidikan kita saat ini sudah saatnya banting setir untuk menyentuh aspek emosional dan spiritual, sebab bukan rahasia umum juga jika pendidikan kita hanya bertumu pada aspek cognitive (pengetahuan) belaka. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Silahkan saja jika tidak setuju tapi fakta dan &lt;i&gt;output&lt;/i&gt;lah yang bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Maka walaupun UN diselenggarakan tiap tahun dan standar ditinggikan, jika proses dan system pembelajaran tidak dibenahi terutama dari segi sarana atau prasarananya, dapat dipastikan peningkatan mutu dan etos kerja keras bangsa ini &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bagai mimpi di siang bolong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-6695182697070880699?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/6695182697070880699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=6695182697070880699' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/6695182697070880699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/6695182697070880699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/04/ujian-nasional-apakah-sebuah-jawaban.html' title='Ujian Nasional, Apakah Sebuah Jawaban?'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-1344313418501431398</id><published>2007-03-31T12:43:00.000+08:00</published><updated>2007-04-15T12:11:34.426+08:00</updated><title type='text'>Revolusi Paradigma Atas Lingkungan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Banjir, Longsor dan Bencana-bencana lain yang silih datang berganti di Indonesia, membawa segudang pertanyaan besar, sudahkan manusia kembali ke fitrahnya untuk bersahabat dengan lingkungan atau malah sebaliknya –justru- manusia tidak bersahabat dan menganggap alam sebagai "yang lain".&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia merupakan mahluk istimewa yang Allah Swt ciptakan. Dalam beberapa firmanNya banyak ditemukan keutamaan dan kelebihan manusia dibandingkan mahluk lain yang diciptakanNya, misalnya manusia merupakan “produk” terbaikNya dengan sebaik-baiknya bentuk (Q.S.95:4). Pada ayat yang lain -walaupun dengan sebutan yang berbeda-beda- manusia tetap menempati posisi yang utama "dimataNya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Djarot Sensa (2005) dalam bukunya Komunikasi Qur'aniyah, menganalisa bahwa penamaan manusia yang berbeda-beda itu memiliki kaitan dengan kondisi-kondisi manusia tertentu. Diantaranya seperti kata man yang berarti bahwa manusia diberi kebebasan memilih dan berkehendak (Q.S.18:29), bani adam yang menujukan status manusia yang memiliki kemuliaan dari Allah Swt (Q.S.17:70), al-barriyah bahwa manusia yang digambarkan dapat berbuat baik dan buruk (Q.S.98:6-7), mar’i adalah manusia yang berkaitan dengan hatinya (Q.S.8:24), basyar yaitu manusia yang memiliki kemampuan menerima wahyu (Q.S.18:110), nafs yakni manusia yang memperoleh peluang disambut Allah Swt secara penuh keridhaan (Q.S.89:27-30), abda menjelaskan posisi manusia yang senantiasa dihubungkan sebagai milik Allah Swt (Q.S.38: 45-47).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perspektif yang lebih luas, manusia merupakan mahkluk multi-dimensional. Secara sosial manusia merupakan mahluk social (homo sosius), artinya kehidupan manusia tidak akan pernah bisa berdiri sendiri dan akan membutuhkan pihak lain dalam keberlangsungan dan upaya mempertahankan hidupnya (survival life).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaca mata ekologis, manusia adalah mahluk lingkungan (homo ecologus). Maksudnya manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari suatu ekosistem, sehingga secara naluriah manusia memiliki kecenderungan untuk selalu memahami akan lingkungannya pada akhirnya bila dikaji lebih dalam, secara ekofilosofis hubungan manusia dengan lingkungan sangatlah erat.Hal ini "diamini" oleh ajaran Islam yang mengungkapkan bahwa dalam kehidupan manusia terdapat empat ruang gerak kehidupan. Pertama, hubungan manusia dengan Allah Swt (habluminnallah), kedua, manusia dengan sesama manusia (hablumninannas), ketiga, hubungan manusia dengan dirinya (hablumibinafsihi), dan keempat, hubungan manusia dengan lingkungan hidup –alam sekitar- (hablumminal alam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya dari uraian diatas dapat disimpulkan, hubungan manusia dengan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Keduanya (manusia dan lingkungan) merupakan ikatan keterjalinan sedemikian dekat satu dengan yang lainnya. Keterjalinan manusia dengan lingkungan merupakan keterjalinan dinamis. Artinya, keterjalinan ini bersifat sadar, yang dipahami, dihayati dan dijadikan sebagi akar serta kepribadian manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun walaupun secara filosofis, konsep keagamaan dan fitrah bahwa manusia memiliki potensi untuk peduli pada lingkungannya (ekologis), namun pada sisi aktualitas, kepedulian terhadap ekologis tersebut akan terbentur oleh akal dan hawa nafsu manusia itu sendiri. Yang pada akhirnya hal ini melahirkan pola sikap dan pikir terhadap lingkungan yang berbeda-beda sesuai dengan kecenderungan hawa nafsu setiap individu. Jika diklasifikasikan perilaku manusia kaitannya dengan lingkungan, terbagi menjadi dua bagian yaitu pro-ekologis dan kontra ekologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro-ekologis berarti manusia telah mencapai puncak kesadaran bahwa lingkungan merupakan sahabat sekaligus mitra sejatinya di muka bumi ini. Sebaliknya yang kontra-ekologi menganggap lingkungan merupakan “yang dan orang lain”, pada akhirnya lingkungan hanya dijadikan sebagai objek, instrumen dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan semata, bahkan pada sisi tertentu alam dianggap sebagai musuh yang harus ditaklukan dan dieksploitasi habis-habisan untuk kesejahteraan hidupnya.Jika kita analisa, realita saat ini orang yang pro-ekologis sangatlah sedikit, kalaupun ada mereka (yang pro-ekologis) tersadar saat alam telah menujukan "kekuatannya" yang merugikan dan membuat kehidupan manusia menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun berbeda dengan yang pro-ekologis, yang kontra-ekologis dapat kita temukan tidak saja baik itu dikalangan masyarakat yang belum maju, kalangan masyarakat sudah maju pun terkadang sering menyalahi aturan.Perilaku kontra-ekologis yang menjangkit kalangan orang yang tidak, belum dan sudah tahu, pada dasarnya merupakan penjelmaan dari pemahaman manusia terhadap faham antroposentris dan sebaliknya perilaku pro-ekologis adalah buah hasil dari pemahaman ekosentrisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mujoyono Abdilah, MA., variasi perlaku manusia ini –pro dan kontra ekologis- disebabkan oleh tiga factor. Pertama, factor supra stuktur yang mana meliputi nilai dan simbol. Nilai dan simbol pada supra stuktur biasanya didapatkan dari sebuah masyarakat baik yang bersumber dari sistem nilai, ideologi, agama dan lain-lain.Kedua, factor stuktur, berupa pranata dan perilaku social. Maksudnya bahwa masyarakat memiliki institusi sosial yang mendorong pada setiap tindakan ekologis. Struktur social bisa terdiri dari keluarga, kekerabatan, lembaga swadaya dan yang lainya.Ketiga, factor infra stuktur. Ilmu pengetahuan dan teknologi IPTEK adalah bagian yang mempunyai pengaruh besar sebagai factor infra stuktur terhadap sikap kontra-ekologi masyarakat. Kesenjangan dan perbedaan wawasan masyarakat terhadap IPTEK, berpengaruh terhadap perbedaan cara pandang dan perilaku ekologis suatu masyarakat.&lt;br /&gt;Baca Selengkapnya...&lt;code&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/code&gt; dan &lt;code&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akar permasalahan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengambil benang merah dari uraian diatas maka kita temukan bahwa yang menyebabkan terjadinya bencana-bencana seperti banjir dan longsor adalah karena perilaku manusia yang kontra-ekologis. Inilah yang menjadi akar permasalahan saat ini, -khususnya- di Indonesia dimana bencana datang silih berganti. Bagaimana tidak jika dihadapkan pada musim kemarau, maka kekeringan, kesulitan air terjadi dimana-mana. Sebaliknya jika “diberikan” musim hujan, maka Indonesia kelabakan menghadapi air yang berubah menjadi banjir dan longsor.Menjadi sangat penting ditegaskan bahwa bencana tersebut bukan sekedar musibah yang datang secara kebetulan dan bukan –maaf- kehendak sepihak Allah Swt semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri bahwa bencana-bencana tersebut disebabkan karena adanya kerusakan lingkungan yang pada akhirnya terjadi krisis lingkungan hidup (crisis ecologies).Krisis lingkungan tersebut ditenggarai oleh ulah tangan-tangan manusia rakus yang tidak bertanggungjawab dan tidak mau bersusah payah. Pembalakan liar (illegal Logging) menjadi jalan pintas, dengan menebang pohon-pohon secara membabi buta dan tidak memikirkan kepentingan hidup orang banyak yang hasilnya dinikmati oleh orang dan kelompok tertentu.Revolusi paradigma atas lingkungan.A, Sonny Keraf dalam bukunya, Etika Lingkungan 2002, menyatakan bahwa krisis lingkungan berakar dari kesalahan perilaku manusia dan kesalahan perilaku manusia terhadap cara pandang tentang dirinya, alam dan hubungan antara manusia dan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena revolusi paradigma –cara pandang- manusia terhadap alam yang antroposentris menjadi ekosentris menjadi harga mutlak yang tidak bisa ditawar lagi.Antroposesntris berarti prinsip etika terhadap lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Dalam faham ini menempatkan manusia dan kepentingannya sebagai yang hal yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam seluruh kebijakan yang diambil kaitannya dengan alam, baik secara langsung ataupun tidak. Pada akhirnya yang menjadi nilai tertinggi adalah manusia sekaligus kepentingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya alam termasuk didalamnya lingkungan, udara, hutan, pegunungan, air dan lain-lain dinilai dari sudut nilai ekonomis (economic value) semata. Selain itu, perkembangan IPTEK yang antroposentris melatarbelakangi keyakinan bahwa alam hanya dijadikan sebagai objek dan sarana yang harus ditaklukan dan dieksploitasi demi pemenuhan kebutuhan hidup serta kebahagiaan manusia. (Abdillah Mujiono:2002:36). Pada akhirnya perilaku ini menjadi ancaman yang serius bagi kelangsungan, kesejahteraan manusia.Hal ini berbeda dengan ekosentrisme yang merupakan etika lingkungan yang memusatkan diri pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghapus anggapan yang menjadikan manusia sebagai penguasa yang terus-menerus mengekspoitasi alam.Arne Naes, seorang filsuf Norwergia, pada tahun 1973 memperkenalkan versi ekosentrisme yang lain yang dikenal dengan deep ecology. Pada dasarnya deep ecology tidak berbeda dengan ekosentrisme yang berarti tidak mengubah sama sekali hubungan manusia dan manusia.Namun ada yang baru dari teori ini. Pertama, manusia dan kepentingannya bukan ukuran bagi segala sesuatu yang lain, sebab deep ecology memusatkan perhatian kepada seluruh spesies termasuk spesies bukan manusia. Kedua, deep ecology dirancang sebagai etika praksis, maksudnya prinsip-prinsip moral etika lingkungan yang harus diejawantahkan dalam aksi nyata. Deep ecology merupakan gerakan nyata yang didasarkan pada perubahan paradigma secara revolusioner baik cara pandang, nilai maupun perilaku atau gaya hidup manusia terhadap lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi Sonny Kerap menyebut bahwa filsafat pokok deef ecology yaitu ecosophie . Ecosophie adalah perpaduan eco yang berarti rumah tangga dan sophie yang berarti kearifan. Maka ecosophie berarti kearifan mengatur, menata hidup selaras dengan alam sebagaimana makna rumah tangga dalam arti yang luas. Lebih dari itu deep ecology meliputi suatu pergeseran dari sekedar ilmu (science) menjadi sebuah kearifan dan kebijaksanaan (wisdom).Pola pikir dan sikap yang arif dan bijaksana adalah memahami alam sebagai sebuah bagian dari dirinya yang memiliki nilai pada diri sendiri dan nilai itu jauh melampui nilai yang dimiliki oleh dan untuk manusia.Menuai bencana setelah Alpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis bencana-bencana yang terkadi di indoneisa terbagi dua macam bencana. Pertama, bencana yang murni merupakan fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami, angin ribut dan meletusnya gunung berapi. Inilah bencana yang soal waktu dan tempat yang menjadi misteri terjadinya.Kedua, bencana karena ulah tangan-tangan manusia. Inilah bencana yang timbul akibat kerakusan untuk mengekpolitasi alam sampai pada akhinyra alam rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Ar-Rumm ayat 41 Allah Swt menegaskan dengan pasti, bahwa kerusakan yang terjadi di daratan dan lautan disebabkan oleh ulah tangan-tangan manusia.Bagi kita kedua jenis bencana itu harus direnungkan lebih dalam. Dari sisi sunnatullah alam tidak sertamerta "mengamuk" dan menyakiti manusia kecuali atas izinNya bahkan tidak ada setetes air pun di dunia ini yang menetes kecuali atas kehendakNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya tiada bencana yang terjadi di muka bumi ini kecuali atas kehendaknya pula.Inilah yang menjadi kuncinya, apakah manusia taat dan bertakwa kepada yang Maha memilki alam dan isinya atau tidak. Apakah bencana itu diberikan olehNya sebagai sebuah hukuman dan adzab atas perbuatan-perbuatan yang melanggar ketentuaNya sehingga Dia marah, atau memang sebuah ujian untuk menguji kadar keimanan sesorang mu’min. inilah yang menjadi bahan intropeksi diri (muhasabah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bercermin pada realita di Indonesia saat ini, bencana yang menimpa Indonesia lebih condong berupa hukuman, ia (bencana) merupakan sentilan Allah Swt terhadap kealpaan orang Indonesia atas perbuatan yang melanggar syariatnya. Korupsi semakin merajalela, para pemimpin yang tidak lagi memegang amanahnya dengan baik, kemaksiatan yang menjadi hal yang diillegalkan dan dianggap pantas dan modern, dan sebagainya.Bersabar, bersyukur dan bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menuai bencana setelah alpa.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang itulah yang menjadi konsekuensi logis dari perilaku manusia yang menyalahi hukum Alam terlebih hukum Allah. Dan hal ini menguatkan selain mahluk yang istimewa manusia tidak lebih dari seonggok tulang berbalut daging yang lemah tak berdaya ketika dihadapkan terhadap kekuatan-kekuatan diluar kehendak dan kemampuan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada dasarnya sekali-kali Allah Swt tidak menimpakan sesuatu pada umatnya kecuali atas kemampuan manusia untuk menghadapinya (Q.S 2: 286)Maka yang harus kita lakukan adalah pertama, bersabar. Dengan sabar jiwa dan hati manusia akan selalu tenang, sebab shalat dan sabar merupakan sarana yang Allah sediakan bagi hambanya yang sedang mengahadapi kesulitan dan penderitaan (Q.S.2:45 dan 153). Selain itu juga Allah telah menjanjikan atas orang-orang yang sabar sebuah rahmat dan shalawat di hari akhir nanti (Q.S.2:157), selayaknya sebagai seorang muslim jika terkena musibah, bersabar menjadi jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, beryukur. bersyukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah Swt kepada kita semua (Q.S.2:152). Rakyat Indonesia sepatutnya untuk bersyukur atas segala karunia yang Allah Swt berikan terhadap bangsa ini, keindahan alamnya yang membuat mata berdecak kagum, tanahnya yang subur, kekayaan alam yang melimpah baik rempah-rempah ataupun hasil bumi lainnya. Sebaliknya jika tidak bersyukur (kuffur) maka sungguh adzab Allah sangatlah pedih.Beryukur artinya tidak semata kita “berterima kasih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lebih dari itu, dengan menjaga dan melestarikan alam merupakan perwujudan rasa syukur. Sebab sejatinya menjaga dan melestarikan alam merupakan tugas utama manusia sebagai wakil Allah Swt di muka bumi ini (khalifah fil ardi). Sebagaimana dalam firmannya: “..Dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya..."(Q.S.Hud:61).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bertaubat. Bertaubat atas segala kealpaan dan kehilafan dengan disertai kembali pada jalanNya. Setidaknya dengan mengubah revolusi cara padang manusia terhadap alamnya saja tidak cukup, diperlukan juga upaya manusia untuk mengakui atas segala kesalahan-kesalahannya dan tidak akan mengulangi kembali (taubatan nasuha) (Q.S. 66:8). Sudah saatnya hukum Allah Swt di aplikasikan dalam kehidupan manusia kapanpun dan dimanapun secara komferehensif (kaffah) (Q.S.2:207), jaminannya tentu kehidupan di dunia akan bahagia dan tenang begitu juga di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu A'lamu Bisawab.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-1344313418501431398?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/1344313418501431398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=1344313418501431398' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/1344313418501431398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/1344313418501431398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/03/revolusi-paradigma-atas-lingkungan.html' title='Revolusi Paradigma Atas Lingkungan'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-7169620695329018803</id><published>2007-03-22T21:20:00.000+08:00</published><updated>2007-03-22T21:24:09.228+08:00</updated><title type='text'>Nyiasati Pacaran Jarak Jauh.</title><content type='html'>“Duh apa enaknya sih pacaran jarak jauh, mending cari aja yang baru Nel, ngapain nunggu yang jauh-jauh? Cetus Dian kepada Nela yang punya pacar di negeri Paman Sam Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nela yang sedang duduk melamun memikirkan pacarnya hanya bisa menghela bisa napas saja, karena sudah dasar cinta walaupun teman-dekatnya banyak nyaranin untuk mencari pacar yang baru, Rida gak gampang &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk berpaling ke lain hati &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;akhirnya Rida pun harus rela menjalani Pacaran Jarak Jauh (PPJ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pacaran jarak jauh tuh ada gak enaknya, ada juga enaknya”cerita Rida dengan muka yang sedikit muram. “Gak enaknya kalau giliran mau pergi ke mana-mana, gw terpaksa batangan alias sendiri sedangkan teman-teman gw bareng cowonya masing-masing, tapi enaknya tu gw punya banyak waktu untuk ngapa-ngapain dan gak perlu izin ini itu tuk pergi ke manapun, ya seenak kita aja? Tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu mungkin pernah ngalamin apa yang di alami Rida, atau bahkan kamu sedang ngalamin. Ya, memang dilema banget pacaran &lt;i style=""&gt;Long Distance&lt;/i&gt; itu, disatu sisi kita sudah “tanggung” kepidut dan jatuh hati tapi disisi lain kita seperti gak pacaran, malam mingguan kita cuma manyun sendiri, pergi ke pesta pernikahan teman sendiri, pergi ke mana-mana sendiri. Ya, kalau digambarin kita bagai pacaran dengan mahluk halus saja, pacaran dengan yang tidak nampak didepan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang semuanya juga pasti ada resikonya, pacaran jarak dekat juga ada, kemana-mana kita harus izin ini itu kepada si do’i, gak boleh jalan dengan lawan jenis, ah pokoknya banyak pantangannya. Giliran pacaran jarak jauh kita bisa lebih banyak nentuin pilihan, setidaknya waktu kita bisa lebih banyak, buat belajar kita gak mesti terganggu dengan ajakan pacaran kita yang katanya sudah kangen pengin ketemu, atau kita harus ngadepin muka muram dan marah-marahnya pacara kita, ya pokokny banyak juga yang bisa bikin kita terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibilang untungnya pacaran jarak jauh tu, gesekan karena konflik bisa sedikit direndam atau dikurangi, beda dengan pacaran jarak dekat, biasanya frekuensi konflik bisa lebih sering terjadi. Ditambah juga pacaran jarak jauh yang membuat frekuensi pertemuan sedikit, membuat kita menghargai banget sebuah pertemuan sehingga waktu kita kangen-kangen bisa lebih berkualitas, beda mungkin kalo pacaran yang sering ketemu bisa saja rasa boring menghantui mereka. Filosofi “bukan kuantitas pertemuan tapi kualitasnya” mungkin menjadi pegangan bagi penganut pacaran jarak jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran jarak jauh tu memang gampang-gampang susah. Bagi yang mau atau yang sedang ngejalani pacaran jarak jauh kudu bin mesti punya strategi jitu gimana agar pacaran kita awet. Di bawah ini mungkin sedikit bisa memberi sedikit pegangan bagi kamu yang sedang pacaran tapi cinta kamu jauh di mata dekat di hati, ya pacaran jarak jauh. Atau bagi yang akan menjalani moga tips ini menjadi bahan referensi kamu.&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama&lt;/i&gt;, yang musti kamu perhatiin adalah bangun komitmen yang kuat. Ini pondasi bagi kamu. Kalo diibaratin rumah, kalo pondasinya gak kuat dan gak kokoh tentu rumah tersebut akan mudah hancur dan roboh, begitu juga dengan pacaran jika komitmen yang menjadi pondasi kuat, sehebat apapun angin dan badai menerpa (cieh..) akan terus bertahan, sebaliknya juga jika komitmen kita gak kuat, ya jangan harepin umur pacaran kita seumur tua, he.he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun dengan pacaran jarak jauh, mulailah bangun komitmen yang kuat, kamu dan pacar kamu harus satu suara, seiaya sekata tentang pacaran yang akan dijalani, apakah pacaran itu akan serius atau happy fun doang? Dalam komitmen juga kamu utarain segala kemauan dan keinginan serta unek-unek kamu, walaupun sedikit jaim tapi segala permasalahan akan timbul kalau gak dibicarain. Sebab dalam suatu hubungan yang akan dihadapi banyak permsalahan yang akan dihadapi dari mulai sekecil semut samapi segede gauajah. Makanya diharapin dengan saling curhat kita saling tahu segala keinginan masing-masing. Saking pentingnya komitmen pada akhirnya juga komitemen menjadi alasan dan tujuan kuat kita untuk tetap pacaran dengan si do’i. makanya kalau kita punya komitmen yang kuat, dalam ngejalani pacaran jenis ini kita akan selalu semangan dan bersabar.&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua&lt;/i&gt;, tanamkan sikap saling percaya dan sabar, ya berawal dari komitmen yang kuat kita juga harus membangun sikap saling percaya terhadap pasangan kita, coz kalau kamu misalnya punya sifat cemburuan yang tinggi, curigaan, gampang ngambek, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;penulis saranin kamu jangan berpacaran kaya gini (pacaran jarak jauh –pen) percuma kalau kamu punya sifat kaya gitu bakal nyiksa kamu sendiri, makan hati deh. So’ sikap saling percaya terhadap pasangan kita mulai kita bangun, dan yang terakhir adalah sifat sabar kita untuk selalu menunggu dan menunggu…&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, Bikin peraturan. Ini juga tak kalah penting buat kamu yang pacaran jarak jauh. Peraturan bagai rel yang akan di jalani, Misalnya, sehari minimal harus ngesms sekurang-kurangnya 10 kali, atau nelpon dua kali sehari hari. Dengan adanya peraturan diharapin satu sama lain berpegang para aturan yang telah disepakati, kalau sudah gitu gak ada alasan untuk saling curiga dan ngambek karena hal-hal kecil. Peraturan ini bisa dibuat secara tertulis atau yang tidak tertulis. Tapi untuk lebih mempunyai kekuatan hukum (kaya apa aja..) yang resmi kamu mungkin harus secara tertulis atau kalau pake materi juga boleh, he. Dengan tertulis kita mempunyai bukti konkret jika satu sama lain melanggar&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat&lt;/i&gt;, Komunikasi, ya iyalah ini penting, kalau ga ngapain pacaran juga. Semakin canggihnya teknologi rasanya komunikasi sekarang bukan masalah lagi, mau surat-suratan kaya tempo doeloe nyokap kite pacaran lewat pos dengan nunggu balesan ampe bulukan, atau dengan pesan singkat-singkat (SMS gitu), atau mau nelpon, chating, webcam, bahkan sekarang udah ada teknologi 3G. Rasanya kamu yang ngejalani pacaran jarak jauh bisa sangat terbantu, kamu juga harus beruntung karena kamu hidup jaman sekarang, coba kebayang ga gimana pacaran jarak jauhnya nenek moyang kita dulu, untuk komunikasi saja susahnya mungkin minta ampun. Makanya untuk saat ini dalam pacaran komunikasi merupakan hal yang vital agar hubungan tetap terjaga.&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So’ segitu aja tipsnya, Oia ini yang terakhir yang paling penting banget dalam pacaran jarak jauh yaitu kamu harus mematuhi tips-tips diatas, dijamin deh pacaran kamu langgeng ampe nanti (ampe kapan emang) he..he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: dari berbagai sumber, pengalaman dan obrolan.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-7169620695329018803?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/7169620695329018803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=7169620695329018803' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/7169620695329018803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/7169620695329018803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/03/nyiasati-pacaran-jarak-jauh.html' title='Nyiasati Pacaran Jarak Jauh.'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-1403075479266622540</id><published>2007-03-22T21:12:00.000+08:00</published><updated>2007-03-22T21:18:58.825+08:00</updated><title type='text'>Gaya Hidup Muslim Masa Kini</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Roda kehidupan menggelending begitu dasyat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah merubah “wajah” kehidupan manusia di muka bumi. Begitupun dengan pola hidup kehidupan muslim saat ini telah mengalami pergeseran menuju kehidupan yang lebih moden dan lebih maju&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Ada dua hal yang umumnya dicari oleh manusia dalam hidup ini. Yang pertama ialah kebaikan (&lt;i&gt;al-khair&lt;/i&gt;), dan yang kedua ialah kebahagiaan (&lt;i&gt;as-sa’adah&lt;/i&gt;). Hanya saja setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda ketika memahami hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang mendasari munculnya bermacam ragam gaya hidup manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Tentu bagi seorang muslim sudah menjadi kewajiban bahwa gaya hidup yang dilakukannya harus islami &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Gaya hidup islami berarti menjalani kehidupan dengan tata cara yang telah digariskan oleh islam yang tertuang dalam Al-Quran dan As-Sunnah. &lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;ergaya hidup Islami hukumnya wajib atas setiap Muslim, lawan dari gaya hidup islami adalah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;gaya hidup jahili dan hukumnya adalah haram. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Namun realita saat ini berkata lain, kita sering melihat kenyataan banyak dari orang-orang muslim yang bergaya hidup “kebarat-baratan”. Hal ini membuat kita sangat prihatin dan sangat menyesal, sebab justru gaya hidup jahili (yang diharamkan) itulah yang melingkupi sebagian besar umat Islam. Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir oleh Rasulullah Saw. Beliau bersabda yang a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: 0.1pt;"&gt;rtinya: &lt;i&gt;“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;(HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;z&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;, shahih).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Hadits tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian Islamnya karena jiwa mereka telah terisi oleh jenis kepribadian yang lain. Mereka kehilangan gaya hidup yang hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain. Kiranya tak ada kehilangan yang patut ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau gaya hidup tak lagi Islami malah persis seperti orang kafir? Inilah bencana kepribadian yang paling besar.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Larangan mengikuti / Menyerupai gaya hidup .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (&lt;/i&gt;HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu hasan). Menurut hadits tersebut orang yang gaya hidupnya menyerupai umat yang lain (&lt;i&gt;tasyabbuh&lt;/i&gt;) hakikatnya telah menjadi seperti mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;Al-Munawi menambahkan bahwa tasyabuh atau menyerupai suatu kaum artinya secara &lt;i&gt;lahir&lt;/i&gt; berpakaian seperti pakaian mereka, berlaku/ berbuat mengikuti gaya mereka dalam pakaian dan adat istiadat mereka”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Satu di antara berbagai bentuk &lt;i&gt;tasyabbuh&lt;/i&gt; yang sudah membudaya dan mengakar di masyarakat kita adalah pakaian Muslimah. Mungkin kita boleh bersenang hati bila melihat berbagai mode busana Muslimah telah mulai bersaing dengan mode-mode busana jahiliyah. Hanya saja masih sering kita menjumpai busana Muslimah yang tidak memenuhi standar seperti yang dikehendaki syari’at. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Busana-busana itu masih mengadopsi mode ekspose aurat sebagai ciri pakaian jahiliyah. Adapun yang lebih memprihatinkan lagi adalah busana wanita kita pada umumnya, yang mayoritas beragama Islam ini, nyaris tak kita jumpai mode pakaian umum tersebut yang tidak mengekspose aurat. Kalau tidak memper-tontonkan aurat karena terbuka, maka ekspose itu dengan menonjolkan keketatan pakaian. Bahkan malah ada yang lengkap dengan dua bentuk itu; mempertontonkan dan menonjolkan aurat. Belum lagi kejahilan ini secara otomatis dilengkapi dengan tingkah laku yang -kata mereka- selaras dengan mode pakaian itu. &lt;i&gt;Na’udzubillahi min dzalik&lt;/i&gt;.&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Tentu dengan melihat realita seperti ini maka tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam. Sebab di luar sana sudah nyaris seluruh aspek kehidupan umat bertasyabbuh kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas bergaya hidup jahili.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Krisis yang terjadi di Indonesia beberapa tahun yang lalu sampai saat ini, bukan saja krisis moneter tapi juga krisis kepercayaan terhadap agama Islam oleh penganutnya sendiri. Krisis kepercayaan terhadap kebenaran Islam sebagai agama universal dan paripurna tidak dapat dipungkiri telah melanda banyak orang yang mengaku dirinya beragama Islam. Ini terbukti dengan gaya hidup mereka yang dilihat secara lahiriyah masih ada saja kesamaan dengan gaya hidup orang-orang yang nonMuslim. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Boleh jadi semua itu akibat ketidaktahuan atau ketidak fahaman. Namun ketidak tahuan itu adalah akibat bahwa kebanyakan kaum muslimin telah kehilangan kepercayaan terhadap Islam, sehingga mereka cenderung mengabaikan ajaran-ajarannya. Mempelajari ilmu-ilmu Islam dianggap ketinggalan jaman.Banyak orang Islam, bahkan kalangan akademik yang beranggapan mempelajari ilmu-ilmu Islam tanpa dicampur dengan teori-teori ilmu barat, suatu kemunduran. Tidak sesuai dengan perkembangan jaman dan seterusnya. Bukankah itu krisis kepercayaan terhadap Islam?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: CenturionOld; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Maka sudah saatnya kita tersadar dengan fenomena-fenomena yang terjadi pada saat ini. &lt;i&gt;Back to Al-Quran and As-Sunnah &lt;/i&gt;adalah jawaban dari semua itu, sebab keduanya (Al-Quran dan As-Sunnah) adalah panduan gaya hidup seorang muslim kapanpun dan dimanapun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-1403075479266622540?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/1403075479266622540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=1403075479266622540' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/1403075479266622540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/1403075479266622540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/03/gaya-hidup-muslim-masa-kini.html' title='Gaya Hidup Muslim Masa Kini'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-1009913053233341195</id><published>2007-03-06T18:19:00.000+08:00</published><updated>2007-03-06T18:21:18.904+08:00</updated><title type='text'>Kebanggan Berbahasa Sunda, Adakah kini?</title><content type='html'>&lt;tt&gt;Oleh: Oki Sukirman*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Adagium lama mengatakan, bahasa menujukan jati diri atau indentitas suatu bangsa, maka sudah menjadi kelaziman setiap negara mempunyai bahasa tersendiri sebagai bahasa sehari-hari (bahasa nasional), bahasa adalah alat untuk manusia berkomunikasi, selain itu juga bahasa merupakan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, untuk menyatakan ekspresi diri, dan untuk mengadakan kontrol sosial. (Gorys Keraf.1997:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat pentingnya peranan bahasa dalam kahidupan manusia, pada akhirnya bahasa bisa menujukan kebudayaan suatu bangsa, semakin banyak dan ragam bahasa pada sebuah bangsa, maka semakin tinggi kebudayaan yang dimilikinya. Sebab melalui bahasa, kebudayaan suatu bangsa dapat dibentuk, dibina dan dikembangkan serta dapat diturunkan kepada generasi-generasi yang akan datang. (Gorys Keraf, 1997: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya sejatinya, bagi setiap masyarakat hendaknya bangga dan senantiasa melestarikan nilai luhur kebudayaannya, bangsa Indonesia merupakan negara yang multiculture, beraneka ragam suku-suku yang tersebar dari mulai sabang sampai merauke dengan kekayaan bahasa yang cukup banyak dan bahasa telah menjadi simbol sebuah kebudayaan suatu suku atau ras dan inilah yang menjadi kekhasan dan keunikan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Setiap suku di Indonesia mempunyai bahasa yang beraneka ragam dan berbeda-beda, hal ini adalah kekayaan bangsa Indonesia sebagai warisan leluhur yang harus senantiasa dilestarikan. Misalnya, suku Sunda dengan bahasa Sundanya, suku Jawa dengan bahasa jawa, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Sunda, sebagai kebanggaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan usaha pesuasif penulis untuk menumbuhkan rasa kesukuan diatas segalanya (chauvinisme), tetapi penulis mencoba menganalisis eksistensi bahasa sebagai kekayaan kebudayaan suku-suku di Indonesia dari “kontaminasi” globalisasi yang semakin merajalela, khususnya dalam hal ini suku Sunda dengan bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita saat ini ada kecenderungan para urang Sunda, dengan bahasa Sunda kian terpinggirkan, hal ini disebabkan semakin terkikisnya kesadaran masyarakat Sunda untuk mempertahankan kebudayaan leluhurnya yang menjadi kebanggaan dan identitas tatar pasundan itu, selain karena dipengaruhi oleh arus globalisasi yang semakin deras dengan salah satu prinsipnya yang menghancurkan batas-batas geografis, kultural dan sebagainya, juga tidak adanya usaha yang kuat dari berbagai pihak dan elemen masyarakat untuk mempertahankan jati diri masyarakat Sunda dari “gempuran” globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Sunda cenderung memahami kebudayaan sebatas hasil fisik berupa artefak atau jenis-jenis ekspresi seni berupa ritual-ritual. Sehingga bahasa tidaklah menjadi bagian dari kebudayaan yang harus terus dipertahankan dan dilestarikan.&lt;br /&gt;Urang Sunda seharusnya bangga dengan bahasa Sunda, sebab bahasa Sunda sebagai warisan dari leluhur yang mempunyai nilai-nilai luhur pula. Contoh nilai-nilai luhur tersebut dalam bahasa Sunda kita kenal ada istilah undak usuk yang berarti terdapat penyesuaian tingkatan–tingkatan etis dan tidak etis serta sopan dan tidak sopan ketika bahasa Sunda kita diucapkan kepada lawan bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kata makan yang dalam bahasa Sunda yang berarti tuang, neda, emam, dahar, nyatu,. Kata-kata tersebut berbeda-beda pemaknaan serta pemakaiannya, sebagai contoh kata tuang adalah untuk ditujukan kepada yang orang lain atau lebih tua, kata neda tujukan untuk kepada diri sendiri, emam kepada anak-anak atau yang lebih muda dan, nyatu ditujukan untuk yang lebih rendah derajatnya seperti binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja tidak etis dan menyalahi tata kesopanan, jika salah satu kata ditukarbalikan. Seperti kata nyatu ditujukan kepda orang tua kita atau sebaliknya kata tuang kepada hewan paiaran kita. Disinilah yang menjadi kelebihan bahasa Sunda dari yang lainnya. Bahasa Sunda mempunyai nilai-nilai tata sopan santun, penghormatan dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kebanggaan yang seharusnya ada pada masyarakat Sunda itu seperti telah menjadi barang langka yang sulit ditemukan, lihat saja sekarang para anak muda di daerah-daerah yang –justru- basis kesundaannya yang kuat, “kesundaannya” sudah mulai luntur, jika tidak merasa malu untuk menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pergaulan sehari-hari juga ada perasaan gengsi pada diri mereka dengan adanya embel-embel bahwa orang yang berbahasa Sunda adalah “orang kampung”, sehingga bahasa pergaulan sehari-hari mereka berubah dengan bahasa-bahasa yang –katanya- modern dan gaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena bahasa-bahasa gaul yang merebak atau fenomena bahasa “Loe-Gua” merupakan salah satu sebab terkikisnya kebanggaan masyarakat Sunda terhadap bahasa Sunda. Coba anda dengarkan bahasa pergaulan sehari-hari para kawula muda di sekolah-sekolah, mal-mal, jalan-jalan dan lainnya, sedikit sekali yang masih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa-bahasa sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mempunyai pengalaman yang lucu kaitannya dengan bahasa Sunda yang sudah jarang digunakan, ketika penulis hendak makan di sebuah rumah makan khas Sunda di salah satu pusat pembelajaan, justru pelayan yang menawarkan makanan kepada penulis tidak dengan bahasa Sunda, bukan kalimat: “bade mesen naon kang? Yang keluar dari mulut pelayan rumah makan khas Sunda tersebut adalah mau pesan apa mas?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keanomalian, contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari, sebuah rumah makan yang nyata-nyata berlabel rumah makan khas Sunda justru ternyata mereka hanya menjual makanan dan minuman khas Sunda saja, tanpa disertai dengan usaha untuk “menjual”, memperkenalkan dan melestarikan budaya Sunda itu sendiri kepada para pengunjungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Kekhawatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, ini merupakan sebuah kekhawatiran tersendiri bagi warga Sunda, bisa jadi duapuluh tahun kedepan bahasa Sunda menjadi bahasa yang asing bagi masyarakat Sunda sendiri.&lt;br /&gt;Untuk mencari akar permasalahan dari fenomena ini, menurut penulis diperlukan melalui dua pendekatan. Pertama, melalui pendekatan kultural (culture approach). Telah disinggung diawal dengan adanya arus globalisasi memaksa kultur Sunda berubah wajah, saat ini para orang tua tidak lagi intens dan giat mengajarkan kepada anak-anaknya untuk membimbing dan menanamkan kebanggan berbahasa Sunda sejak dini kepada anak-anaknya, buktinya dikota-kota besar di Jawa Barat hampir rata-rata bahasa disetiap keluarga Sunda sudah beralih menggunakan bahasa Indonesia, memang penulis tidak menafikan bahwa bahasa Indonesia adalah penting sebagai bahasa nasional, tapi disamping itu perlu juga kiranya masyarakat Sunda melestarikan bahasa Sunda sebagai identitas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, melalui pendekatan struktural (structural approach), Disinilah perlu adanya campur tangan dari pemerintah, dalam hal ini adalah pemerintah Jawa Barat. Pemerintah sebagai regulator dan pembuat kebijakan, perlu membuat sebuah peraturan atau kebijakan dalam rangka menjaga dan melestarikan budaya Sunda asli, misalnya dengan mengaktualisasi pola belajar mengajar di sekolah-sekolah dari mulai tingkat dasar sampai tingkat atas, agar pelaksanaan kurikulum pembelajaran mata pelajaran bahasa Sunda dibeberapa sekolah berjalan dengan efektif atau mewajibkan kalangan para pejabat dalam bahasa “kerja dinasnya” atau dalam rapat-rapat formal menggunakan bahasa Sunda. Memang terlihat sepele dan aneh tapi lebih baik terlambat dan dianggap aneh toh ini merupakan usaha untuk melestarikan yang menjadi budaya asli Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang lewat pendidikanlah salah satu jalan yang efektif untuk melestarikan bahasa Sunda, Sebab Sebagaimana yang dikatakan Bourdieu (1984) dalam Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste, bahwa kebutuhan budaya termasuk kebutuhan pada segala sesuatu yang berkaitan dengan “rasa” dan merupakan hasil pengondisian dan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga Ahmad Syafii Ma’arif (2001) menambahkan bahwa pendidikan merupakan sebuah wahana yang paling efektif untuk internalisasi nilai-nilai (values), karena dalam pendidikan terjadi proses transfer of knowledge (transfer pengetahuan), transfer of skill (trasnfer keterampilan) dan yang terpenting adalah terjadinya transfer of values (transfer niali-nilai normatif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ketika proses pendidikan hanya sebatas pengajaran dengan menitikberatkan transfer of knowledge dan transfer of skill, meminjam istilah Paulo Freire, siswa didik akan menjadi manusia yang hanya memiliki kesadaran magis, pada akhirnya para siswa hanya bergumul pada sekedar pemenuhan dan pengguguran kewajiban belaka tidak atas dasar melestarikan dan mempertahankan nilai-nilai normatif pada bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya pendidikan khsusunya pendidikan bahasa Sunda tergambar dari hasil Kongres Bahasa Sunda (KBS)VIII di Subang pada bulan Juli 2005, yang merekomendasikan bahasa Sunda harus menjadi pelajaran wajib mauatan lokal di sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah umum (SMU), selain itu juga ditetapkan adanya standar ketuntasan belajar minimal (SKBM) yang harus dicapai oleh seorang siswa, misalnya seorang siswa bisa dikatakan menguasai bahasa asli etnik Sunda jika mendapatkan nilai diatas 5. (Media Indonesia 03/03/07).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan dengan tingginya standar ketuntasan belajar minimal (SKBM), bahasa Sunda tidak lagi dimarginalkan, dianggap enteng dan tidak penting, hal inilah yang menyebabkan semakin rendahnya penguasaan bahasa Sunda dikalangan siswa. Konsekuensi dari tingginya nilai standar, para siswa dipacu untuk sungguh-sungguh mempelajari bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya usaha pendidikan dalam upaya menumbuhkembangkan kebanggaan berbahasa Sunda tidak akan berhasil jika tidak ada dukungan-dukungan sebagai upaya mensukseskan pendidikan itu sendiri misalnya dengan memperkaya literatur-literatur dan buku berbahasa Sunda sebagai bahan bacaan dan acuan, mengadakan seminar-seminar dan lokakarya tentang kesundaan, mengapresiasikan segala kebudayaan Sunda dengan menampilkan acara-acara kesundaan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis memberikan apresiasi yang positif terhadap perkembangan Tv lokal saat ini khususnya di Jawa Barat, diharapkan lewat Tv lokallah kebudayaan dan jati diri urang Sunda tetap terjaga dan dilestarikan. Sebagai contoh, upaya penggunaan bahasa Sunda sebagai bahasa utama pada Tv lokal merupakan upaya nyata media local itu dalam proses edukasi (pendidikan) untuk membumikan bahasa sunda di “bumi” Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan upaya dan usaha-usaha yang telah dan akan dijalankan tentu harapan setiap sirah orang Sunda, bahwa jangan sampai bahasa Sunda menjadi bahasa yang asing “di rumah sendiri”. Sebuah keironian jika kita merasa bangga dengan bahasa-bahasa yang –katanya- modern dan gaul tapi justru merasa malu dengan bahasa Sunda yang justru “baju” kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Sunda sebagai bentuk nilai luhur dari kekayaan kebudayaan suku Sunda, layaknya dilestarikan bukan karena semata-mata ia merupakan hasil karsa, cipta dan rasa masyarakat Sunda. Tetapi juga merupakan bagian dari pembentukan identitas masyarakat yang menghidupinya. Identitas individu atau kelompok selalu terkait dengan apa yang disebut Paul Ricoeur (1988) sebagai narrative identity. Individu maupun kelompok sosial membentuk identitas dengan menceritakan pelbagai kisah mengenai mereka yang akhirnya menjadi sebuah sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bahasa Sunda telah menjadi asing, kelak apa yang akan kita ceritakan kepada anak-cucu kita sebagai urang Sunda? bahwa kita urang Sunda tapi tidak bisa berbahasa Sunda? Itukah?...&lt;/tt&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-1009913053233341195?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/1009913053233341195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=1009913053233341195' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/1009913053233341195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/1009913053233341195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/03/kebanggan-berbahasa-sunda-adakah-kini.html' title='Kebanggan Berbahasa Sunda, Adakah kini?'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-593485170307243971</id><published>2007-03-01T16:03:00.000+08:00</published><updated>2007-03-01T16:06:40.355+08:00</updated><title type='text'>“Mahasiswa berpolitik, mengapa tidak?  -Quo vadis mahasiswa, antara peran dan fungsi-</title><content type='html'>SEKAPUR SIRIH; Sebuah Pengantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji serta syukur saya panjatkan kehadirat illahi rabbi, dengan hidayah dan inayahnya makalah ini dapat diseleseikan sesuai deadline. Sebenarnya saya merasa kebingungan untuk memilih judul yang akan saya angkat pada makalah ini, tema yang diberikan oleh bapak Drs, Cecep Suryana dalam tugas Sistem Politik Indonesia; Mahasiswa dan Politik, dan memang masalah sangat luas sekali. Tapi pada kesempatan pembahasan makalah ini saya mengambil tema:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mahasiswa berpolitik, mengapa tidak?  -Quo vadis mahasiswa, antara peran dan fungsi-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadari dalam penyeleseian makalah ini banyak pihak yang turut memberikan kontribusi baik dalam materi atau spirituil. Maka pada kesempatan ini izinkanlah saya menghaturkan banyak terim aksih khsusunya kepada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Orang Tua saya, yang lelah dan padam dalam do’a dan harapan; “Allahumagfirlii waaliwaalidayya warhamhumaa kama robbayaanii sogiiroi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Bapak Drs Cecep Suryana, selaku dosen mata kuliah Sistem politik Mahasiswa, yang telah memeberikan hal-hal (baca:ilmu) baru yang mencerahkan pola pikir dan sikap saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Neng tri Setiawaty, orang yang selalu saya khawatiri. Terima kasih atas semua perhatian, pengertian dan kasih sayangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Barudax Jurnalsitik 2005, yang senantiasa jadi temanku dalam meraih asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal: “jazakumulloh khoiron katsiro”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya, saya sajikan makalah ini sebagai realisasi tugas mata kuliah Sistem Ilmu Politik. Dan sadari makalah ini jauh dari kata semupurna, banyak sekali kekurangan-kekurangan disana-sini, oleh karena itu saya selalu terbuka atas saran dan kritik sebagai perbaikan di masa yang akan datang. Pembaca bisa berkunjung dan bersilaturahmi di http://oki-sukirman.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatinangor, 12 November 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok….”Q.S.Al-Hasr: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia mahasiswa dalam prespektif ideal, adalah dunia penjelajahan intelektual, dari kata mahasiswa saja telah tergambar bahwa sosok penuntut ilmu ini berbeda dari siswa-siwa lain –yang sebelumnya; SMU, SMP, SD dan TK- mahasiswa memang ditakdirkan untuk menjadi yang maha dari siswa-siswa. Sebab dalam dapat kita pahami dalam dunia mahasiswa dimana idealisme tumbuh subur menjadi elemen abstrak bernama gairah melakukan aktivitas, walaupun memang sebelum tahapan menjadi mahasiswa gairah melakukan aktivitas itu telah ada. Namun, dalam eksekutor aktivitas tersebut mahasiswa memiliki tanggung jawab yang lebih dari siswa sebelumnya dan masyarakat umum karena posisinya yang lebih intens menjamah sumber-sumber pencerahan (baca:intelektual). Karena posisi inilah banyak harapan dinisbatkan pada pundak mahasiswa di masa sekarang maupun masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak berlebihan jika banyak harapan dan cita dipikul oleh mahasiswa, sebab dalam kerangka social mahasiswa menempati peran dan fungsi yang sangat vital, mahasiswa disini berperan sebagai agen social tegasnya sebagai agen perubahan (agent of change) dan sebagi agen control (agent of control).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari analisis fungsi mahasiswa, mahasiswa mempunyai multi fungsi, dalam kerangka sempit mahasiswa berfungsi sebgai inteletual akademisi, dan lebih luas lagi mahasiswa berfungsi sebagi inteletual sosialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realita yang terjadi saat ini peran dan fungsi yang jalankan oleh mahasiswa saat ini sangat berbeda dengan apa yang kita citakan, sebab jika kita analisis peran dan fungsi mahasiswa seperti yang diuraikan diatas saat ini seakan –jika tidak mau dikatakan telah- sedang mengalami stagnasi, peran dan fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) dan sebagai agen control (agent of control) serta sebagai akademis dan sosialis menjadi blue print saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi ada mahasiswa yang hanya menjelajah akademik saja, (yang memang tugas utama dari seorang mahasiswa) sehingga aktivitas yang lakoni hanya berkisar pada lingkungan tempat kost, ruang kuliah, ruang dosen, wartel, warnet, atau warteg yang mendominasi aktivitasnya. Sedangkan sebagian yang lain lebih berkonsentrasi dan menjelajah pada tanggung jawab sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, mahasiswa tidak cukup menjadi praktisi intelektual akademisi yang hanya duduk dan mendengarkan dosen di ruang kelas, lebih dari itu mahasiswa juga dituntut untuk berperan dalam agen perubahan dan control social yang terjadi disekitarnya.&lt;br /&gt;Hal ini dianggap penting sebab ilmu-ilmu yang didapat di bangku perkuliahan terasa tidak cukup untuk menjawab segala tantangan zaman yang dinamis, banyak ilmu-ilmu yang masih bertebaran diluar bangku perkuliahzn walaupun tentu saja ilmu-ilmu tersebut tidak berbobot kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menempuh ilmu-ilmu tanpa syllabus itu, para mahasiswa sejati akan menempuhnya dengan menggunakan jalur apa pun, salah satunya –dan bukan satu-satunya- adalah jalur politik. Jangan dulu sinis ketika mendengar kata politik ini, walaupun sering kali politik di beri cap sebagai “ladang kotor” namun penulis berkeyakinan jalur politik adalah jalur yang tepat dalam mengaktualisasikan potensi-potensi mahasiswa dalam mengendalikan arah dan tujuan tranformasi social.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kita akui bahwa jalur politik telah dipakai dan terbukti ampuh dalam menghancurkan sebuah hegemoni dan rezim otoriter. Sejarah berkata, mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan perjalanan bangsa pasca kemerdekaan Indonesia. Tumbangnya Orde Lama tahun 1966, dan tumbangnya Orde baru tahun 1998 adalah tonggak sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Sepanjang itu pula, mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis membela kebenaran dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mahasiswa berpolitik, mengapa tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada ayat Al-Quran di atas Allah jauh-jauh hari telah menyuruh kita untuk senantiasa ber-intropeksi diri (muhasabah) terhadap apa yang kita cita-citakan atau apa yang diharapkan (da sein) dengan apa yang terjadi (das solen) -intandur nafsun maqodamat- lalu setelah itu merencanakan (kembali) usaha-usaha yang akan kita tempuh.&lt;br /&gt;Intandur nafsun nafsun lilgod sama maknanya dengan terminology poltik yang berarti mengatur, mengelola, merencanakan, mengevaluiasi sesuatu untukmencapai proses dan hasil yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan peran dan fungsi mahasiswa, pada bahasan makalah ini melingkupi muhasabah pada peran dan fungsi mahasiswa sebagai agen social. Serta apakah jalur politik buat mahasiswa saat ini sebagai jalur utama ataukah hanya alternaif bagi perjuangannya? Tanya kenapa?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Tujuan penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah ini di buat dalam rangka memenuhi salah satu tugas pengganti UTS (ujian Tengah Semester) pada mata kuliah System Politik Indonesia yang dibimbing oleh Bapak Drs. Cecep Suryana. Selain itu juga mudah-mudahan makalah ini bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi pembaca sekalian. Semoga makalah ini menjadi setetes embun bagi dipadang pasir bacaan-bacaan yang kering akan ilmu dan cakrawala pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Metode penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penulisan makalah ini penulis memakai metode penulisan sesuai dengan tata cara penyusunan karya tulis ilmiah dan dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah ini tersusun atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)Cover&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)Sekapur Sirih: sebuah pengantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)Daftar Isi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)Beberapa Bab Pembahasan.&lt;br /&gt;5)Pustaka Acuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARADIGMA TENTANG POLITIK DAN MAHASISWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Rubahlah paradigma bahwa Dunia politik ? “Dunia WC”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang jika membaca judul diatas sedikit aneh dan nyleneh, tidak salah memang seperti itu realitanya banyak orang yang berpandangan miring –kalau tidak mau dikatakan salah- terhadap terminology politik, stereotif yang buruk terhadap politik memang tidak datang begitu saja. Jawaban dari semua ini adalah hasil dari proses perjalanan panjang yang menghiasi sejarah peradaban manusia, jaman dahulu sudah muncul sikap mengahalalkan segala cara untuk mencapai segala tujuannya yaitu mencapai sebuah kekuasaan, bahkan yang lebih parah lagi dalam mencapai tujuan tersebut seseorang bisa bertindak terhadap orang lain tanpa pandang kawan, yang ada adalah lawan dan juga jiwa money politic menghiasi wajah perpolitikan dari masa lampau hingga saat ini. Kesemua itu adalah salah satu contoh yang disebutkan, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang menyebabkan sinyalemen politik kotor..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya reduksi kata politik menjadi hal-hal yang buruk memang sungguh kejam sekali, sebab mendasarkan pada dasarnya pengertian saja politik memang telah mengalami reduksi makna yang sangat jauh sekali. politik berasal dari bahasa yunani yaitu polis yang berarti negara atau kekuasaan. Yang kemudian berkembang menjadi kata dan pengertian dalam berbagai bahasa seperti; polity, politic, political, police, dan policy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka politik merupakan suatu cara untuk mengatur atau mengolah bagaimana memperoleh kekuasaan didalam negara, mempertahankan kedudukan kekuasaan di dalam negara, mengatur hubungan antara negara dengan negara, atau dengan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatur, memperoleh dan mempertahankan kedudukan kekuasaan tersebut kadangkala -bahkan banyak- orang menggunakan segala hal untuk mencapai semua itu. oleh sebab itulah politik dilabeli dengan kotor, sampai-sampei ada lelucon yang mengadakan bahwa untuk masuk ke dunia politik maka seseorang harus berdoa: “Allahuma inni a’udibika minal hubusi wal hobaisi”. Ya sah-sah saja doa itu diucapkan selama orang sudah sadar kekotorannya itu dan dia tak terjebak dan terpelosok pada “lubang kotor” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menurut hemat saya, sebagai pegangan dalam memasuki dunia politik adalah merubah paradigma kita tentang politik itu sendiri, mengganti pola pikir dan pandangan kita tentang politik yang penuh kekotoran dan menggantinya bahwa dunia politik adalah ladang ibadah.&lt;br /&gt;Paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap sesuatu, Sean Steven R Covey dalam bukunya The 7 Habits of highly Effective Teens mengilustrasikan paradigema seperti sebuah kacamata. Kalau seseorang mempunyai paradigma yang tidak lengkap atau salah pada dirinya atau kehidupan pada umumnya, itu sama seperti orang tersebut mengenakan kacamata yang keliru ukurannya. Lensa memepngaruhi bagaimana melihat segalanya. Akibatnya apa yang didapat adalah yang dia lihat. Contoh lain, kalau sesorang percaya bahwa dia pandai, keyakinan itu akan menjadikan dia pandai. Sebaliknya jika ia punya keyakinan tidak pandai, maka keyakinan itu akan menjadi kekuatan dan membuat dia tidak pandai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada kenyataanya, jika kita mempunyai paradigma atau keyakinan bahwa dunia politik itu kotor, berarti paradigma dan keyakinan kamu tak ubahnya seperti kacamata kotor. Inilah yang disebut dengan paradigma negative.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disinggung diatas keyakinan yang salah, dan paradigma yang miring turut mempengaruhi sikap kita. Oleh karenanya tiada jalan lain selain merubah paradigma negative tentang politik itu kotor menjadi paradigma yang positive bahwa dunia politik adalah ladang ibadah. Insya allah dalam memasuki dan berjamah dalam dunia politik jiwa dan diri kita mempunyai ruh, giroh untuk melakukan ibadah dan bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Tanggung jawab ganda; Akademis dan Social.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa merupakan sebuah terminology yang selalu hangat dan aktual untuk diduskusikan kapan saja dimana saja. Tentang peran dan fungsi mahasiswa merupakan bahan yang menarik sebab berbicara tentang peran dan fungsi berarti disana ada tiga unsur yang pertama: sejarah yang telah ditorehkan oleh mahasiswa-mahasiswa terdahulu, yang kedua: keadaan konkret atau relita saat ini peran dan fungsi mahasiswa dan yang terakhir: cita-cita atau pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini mahasiswa mempunyai tanggung jawab ganda, yang pertama tanggung jawab akademik dan yang kedua tanggung jawab social. Realitas yang terjadi, kedua peran tersebut sering dipandang sebagai dua buah tanggung jawab yang kontradiktif, di satu sisi ada mahasiswa yang hanya mengambil tanggung jawab akademik saja sehingga aktivitas yang dijalaninya hanya sekedar putaran ruangan kelas, kost, perpustakaan, warnet dan yang lainnya tak lebih, itulah yang mendominasi aktivitasnya. Sedangkan sebagian yang lain lebih berkonsetrasi pada tanggung jawab sosial dengan ekses yang menjadi sorotan pada masalah akademik yang see4ring terbengkalai, walaupun kedua hal tersebut hanya kasusistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada benang merah yang dapat kita tarik dari kasus tersebut yaitu perihal kesenjangan pemahaman antara kedua tanggung jawab akademik dan social tersebut, sehingga terjadi pendikhotonian antara tanggung jawab tersebut. Rekonstruksi pemahaman antara dua hal yang kontradiktif tersebut merupakan salah satu alternative solusi pemecahan masalah, baik rekontruksi pemahaman terhadap tanggung jawab akademik maupun rekontruksi pemahaman terhadap tanggung jawab social. Pada akhirnya diharapkan dapat meminimalkan dikhotomi kedua tanggung jawab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita analogikan kedua tanggung jawab itu seperti sayap burung. Sayap pada seekor burung tidak bisa berkerja sendiri-sendiri, untuk bisa terbang tidak cukup baginya mengepakan sayap kiri saja atau sayap kanan saja tanpa keduanya kerja sama. Sebab untuk bisa terbang keduanya (sayap kanan dan kiri) perlu sinergisitas peran agar terjadi maksimalisasi aktivitas yaitu terbang. Begitu pun dengan kedua tanggung jawab tersebut, bila salah satunya mengalami ketidakstabilan maka ada nilai dari sebuah aktivitas yang pincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab akademik pada kenyataannya telah mengalami degradasi makna yang seharusnya, makna aksdemik sering dibatasi sempit sehingga ketika berbicara masalah tersebut sering salah kaprah. Akibtanya berimbas pada penyikapan yang tidak tepat, berbicara akademik sering dihubungkan dengan pembicaraan penghargaan bergelar IPK, hal yang dipahami tersebut hanyalah salah satu ekses dari sebuah proses, sehingga ketika ekses tersebut menjadi tujuan, banyak yang terjebak pada pemahaman sempit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu adanya pemahamn sempit dalam paradigma proses pencerahan intelektual dalam sekat-sekat bernama ruang kuliah dan khotbah-khotbah dosen. Intinya tanggung jawab akademik tidak dibatasi permasalahn formalitas akademik saja, tetapi lebih kepada bagaimana seorang mahasiswa secara internsif mampu menjamah sumber-sumber intelektual dengan pemahaman holistik dan mengakar sehingga terjadi pencerahan intelektual dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencerahan seorang mahasiswa adalah pencerahan yang terakumulasi dalam eksekutor gerakan dan tindakan, lalu gerakan yang dilandasi pencerahan intelektual tersebut (tanggung jawab akademik) mampu menjadi alternative solusi bagi permasalahn yang terjadi di masyarakat (tanggung jawab social). Proses pencerahan dalam diri mahsiswa yang diperoleh dari pencerahan intelektual yang tujuan besarnya diarahkan mengasah empati, sensitivitas sehingga memicu mahasiswa untuk inisiatif bergerak atau bertindak mengambil tanggung jawab dibidang social, sehingga proses pencerahan tersebut tidak terkubur dalam ruang-ruang kognitif idelaisme, atau kotemplasi intelektual saja yang tak mampu diwujudkan dalam pencerahan tindakan atau gerakan. Karena seperti ungkapan M. Iqbal, “kotempalsi tanpa aksi adalah kematian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Init dari pembahasan mengenai tanggung jawab social sebelumnya, diharapkan mahasiswa mampu dengan pencerahan yang didapat dari kotemplasi intelektualnya tersebut mampu ditransferkan kepada orang-orang disekitarnya, masyarakat luas atau orang-orang disekitarnya menjadi tercerahkan dan mampu bersikap atas sesuatu yang terajdi disekitarnya secara tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian singkat di atas pokok tanggung jawab seorang mahasiswa terletak pada kemampuan menjadi pengelola (manajer) dirinya sendiri yang mengambil tanggung jawab akademik dengan menyerap pencerahan yang terdapat dalam ilmu dan mampu menjadi manajer bagi orang lain dengan menjadi motor dan inspirasi tindakan untuk nelakukan perbaikan social (tanggung jawab social) yang terjadi di masyarakat. Sehingga pembicaraan mahasiswa antara tanggung jawab social adalah bagaimana mahasiswa mampu menyinergikan tanggung jawab akademik dan tanggung jawab social tersbeut, seperti sinerginya kepakan sayap burung yang membawa tubuhnya terbang. Pada akhirnya secara tidak langsung mahasiswa telah mampu menjalankan fungsinya sebagai agent of control dan agent of change.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Kekuasaan lewat politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi mahasiswa sebagai kontrol sosial salah satunya dapat dijalankan lewat kekuasaan, dan kekuasaan sepeti disinggung diawal bahwa kekuasaan dapat diraih -salah satunya- melalui politik. Jalur inilah yang menjadi keyakinan Muhammad Abduh, bahwa untuk terjun dalam proses perubahan dan kontrol sosial maka jalur yang terbaik adalah jalur hirarkis kekuasaan (top-bottom), Jika hirarkis kekuasaan telah direngkuh maka untuk melakukan perubahan serta kontrol sosial mudah untuk dilakukan. Dan bukan tidak mungkin bagi mahasiswa untuk terjun menjadi pemimpin atau menjadi penguasa jika kondisinya benar-benar memungkinkan dan mahasiswa dapat memelihara dan mengawal reformasi melalui gerakan politik seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Fajroel Rachman memberikan komentar tentang pentingnya politik bagi mahsiswa bahwa gerakan mahasiswa seharusnya tidak berhenti sebagai gerakan moral dan gerakan menumbangkan rezim saja, tetapi juga harus merebut dan membangun kekuasaan. Tanpa kekuasaan, tidaklah mungkin bagi mahasiswa untuk mewujudkan cita-cita politiknya. Fajroel Rachman bahkan menyarankan sebagian pergerakan mahasiswa mendirikan partai politik dan menjadi bagian gerakan politik intraparlementer dengan terlibat dalam kancah politik formal sebagai elemen mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasangka negatif terhadap gerakan politik kekuasaan maupun terhadap gerakan politik lainnya harus kita singkirkan. Begitu pula sebaliknya. Semua gerakan mahasiswa adalah yang terbaik, sejauh mereka tetap berpegang kepada norma-norma yang berlaku dan tetap santun dalam menyampaikan aspirasinya. Justru, gerakan yang tidak baik adalah gerakan yang acuh tak acuh terhadap politik (apolitis) dan gerakan apatis terhadap realita sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arbi Sanit, ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka dengan permasalahan kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Peran dan fungsi mahasiswa; tinjauan historis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Kebangkitan nasional Indonesia diawali oleh Boedi Oetomo di tahun 1908, dengan dimotori oleh para mahasiswa kedokteran STOVIA dengan tokoh utama adalah dr Soetomo Setelah itu lahirlah organisasi lain semacam Sarikat Islam di Surabaya yang diketuai H.O.S Tjokroaminoto dan Indisce Partij di Bandung.oleh tiga serangkai (Douwes Dekker (Dr. Setiabudhi), R.M. Suwardi Suryaningrat dan Dr. Tjipto Mangunkusumo) dan masih banyak organisasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan bangsa Indonesia dimulai dari pergerakan mahasiswa. Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, mahasiswa dan pemuda telah memiliki idealisme kebangsaan yang sangat kental dengan tekad mempersatukan wilayah nusantara sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa melalui konsep Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober tahun 1928. Gerakan-gerakan perlawanan terhadap tindak penjajahan oleh Belanda dan Jepang telah diilhami oleh konsep Sumpah Pemuda yang merupakan salah satu karya terbaik anak bangsa. Akhirnya, upaya mahasiswa termanifestasikan dalam pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawah kepemimpinan Soekarno, Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaannya dari tangan-tangan asing yang ingin masuk lagi ke Negara kita dan Indonesia berhasil diakui oleh dunia luar sebagai sebuah negara baru, tetapi sayang gaya kepemimpinan Soekarno yang sebelumnya demokratis menjadi otoriter Akhirnya di tahun 1966 terjadi huru-hara pemberontakan G30S/PKI .dan ditahun itu pula Soekarno harus mundur dari kursi peresiden RI akibat tuntutan akan perubahan dari mahasiswa dan pemuda yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Soeharto naik menjadi Presiden baru dan tentu saja didukung penuh oleh militer. Hal ini menandakan berakhirnya Orde Lama dan diganti dengan Orde Baru. Tetapi sayang, penguasa Orde Baru mendepak para pemuda dan mahasiswa yang telah berperan dalam pergantian kepempinan dari Soekarno ke Soeharto, bahkan sejak akhir tahun 1970-an para mahasiswa dibatasi geraknya dalam berpolitik dan dikungkung ke dalam ruang-ruang kuliah di kampus. Sebaliknya tentara mempunyai peran yang lebih besar dalam masyarakat akibat dua perannya di Sipil ataupun di Militer (Dwifungsi ABRI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata gaya kepemimpinan Soeharto jauh lebih otoriter, sehingga hak-hak masyarakat banyak yang dibatasi. Sikap represif para penguasa Orde Baru menyebabkan banyak mahasiswa yang ditangkap, tindakan seperti ini seakan mengaborsi lahirnya pemikiran-pemikiran kritis mahasiswa ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keotoriteran ini bertahan sampai 32 tahun lamanya dan Akhirnya di tahun 1998 “borok” orde baru keluar semua akibat krisis moniter yang menimpa kawasan dunia termasuk Indonesia. Indonesia yang banyak hutang dan pemerintahan yang penuh KKN menyebabkan ahasiswa dan pemuda protes dan menuntut turunnya Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Soeharto turun 21 Mei 1998 dan menandakan berakhirnya orde baru di ganti dengan orde reformasi. Setelah Soeharto turun berturut-turut yan menjadi presiden adalah Baharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan sekarang adalah Susilo Bambang Yudhoyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi permaslahan saat ini adalah bahwa pergerakan-pergerakan mahasiswa yang menghiasi cakrawala kehidupan berbangsa dan bernegara sampai saat ini dari pergerakan mahasiswa setelah bergulirnya sejak reformasi pada tahun 1998 nampaknya dihadapkan pada pluralitas gerakan yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kita akui bahwa jalur politik telah dipakai dan terbukti ampuh dalam menghancurkan sebuah hegemoni dan rezim otoriter. Dalam sejarah perjalanan bangsa pasca kemerdekaan Indonesia, mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan. Sepanjang itu pula mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis membela kebenaran dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang perlu diingat dalam setiap dinamika kebangsaan, peran pemuda dan mahasiswa memang tidak pernah absen. Tetapi selama ini peran mereka hanya sebatas “menurunkan dan mengganti sopir”, kemudian mendorong mobil Indonesia hingga bisa jalan lagi, saat sopir baru perlu adaptasi mengemudi, karena sering tak pernah berpengalaman “nyopir” negara. Setelah mobil jalan, mereka ketinggalan dalam cucuran keringat, kehabisan tenaga bercampur dengan asap knalpot mobil yang sudah melesat jauh meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan Politik Mahasiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan mahasiswa. Sebuah istilah yang dari masa ke masa senantiasa disertai diskursus wacana yang tajam mengenai fungsi dan perannya. Diskursus ini menjadi urgen karena ia akan sangat berkaitan dengan jati diri dan karakter pergerakan mahasiswa itu sendiri. Perdebatan yang terjadi biasanya dalam mendefinisikan dan mendeskripsikan gerakan mahasiswa, terutama berkaitan dengan karakter pergerakannya. Yaitu, apakah pergerakan mahasiswa adalah gerakan moral atau gerakan politik? Atau kedua-duanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus dilakukan mahasiswa sekarang ini? tentu saja belajar dan yang tak kalah penting adalah kepekaan dan kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. Jangan sampai mahasiswa tak uabhnya seperti robot yang tidak mempunyai perasaan, tahunya hanya menjalankan perintah. Menjadi mahasiswa yang merakyat yang peduli akan kepentingan rakyat, Karena mau tidak mau pergantian pemegang tongkat estafet generasi pasti terjadi. Dan mahasiswa yang akan menerima pergantian estafet itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Gerakan politik nilai Vs gerakan politik kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ada titik temu di antara dua aliran pergerakan-pergerakan mahasiswa di atas (pergerakan moral dan pergerakan politik) karena kedua-duanya juga meyakini gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral yang universal. Perbedaan terjadi berkaitan dengan gerakan politik yang dilakukan mahasiswa. Apakah itu sesuai dengan jati diri dan karakter pergerakan mahasiswa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan pandangan di atas menyebabkan mahasiswa terpolarisasi dalam dua kutub yang berlawanan. Karena itu, kita perlu melakukan redefinisi, paradigma baru pergerakan mahasiswa dalam rangka rekonstruksi jati diri dan karakter pergerakan mahasiswa Indonesia. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya rekonsiliasi antarkubu sekaligus langkah awal konsolidasi pergerakan mahasiswa Indonesia yang hari ini terkotak-kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita menganalisis secara cerrmsat, aktivitas pergerakan mahasiswa seperti demonstrasi, orasi, seminar, kongres, pernyataan sikap, tuntutan dan lain-lain, sebenarnya merupakan aktivitas politik. Semua itu merupakan sarana komunikasi politik lisan dan tulisan. Jadi secara jujur tak bisa dipungkiri bahwa gerakan mahasiswa merupakan gerakan politik. Namun, gerakan politik seperti apakah yang layak dimainkan pergerakan mahasiswa? Apa yang membedakannya dengan partai politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada konsep menarik dan menjadi sebuah alternatif yang cerdas. Hal ini berkaitan dengan mencuatnya konsep 'gerakan politik nilai' (value political movement) dan 'gerakan politik kekuasaan' (power political movement).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan politik nilai adalah gerakan yang berorientasi terciptanya nilai-nilai ideal kebenaran, keadilan, humanisme (kemanusiaan), profesionalitas dan intelektualitas dalam seluruh aspek pengelolaan negara. Sedangkan gerakan politik kekuasaan merupakan gerakan politik untuk mencapai kekuasaan seperti yang dilakukan oleh partai-partai politik.&lt;br /&gt;Gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik nilai ini tidak mempedulikan siapa yang berkuasa, karena siapa pun yang berkuasa akan menjadi sasaran tembak ketika melakukan penyimpangan. Ia tidak berkepentingan mendukung seseorang untuk menjadi penguasa, tapi siapa pun penguasa yang otoriter akan berhadapan dengan gerakan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut jelas berbeda dengan ketika gerakan mahasiswa menjadi gerakan politik kekuasaan, karena ia sangat peduli siapa yang berkuasa dan senantiasa berusaha merebut kekuasaan itu, atau berusaha terus mempertahankan kekuasaan itu ketika ia menjadi penguasa atau membela organisasi/partai yang menjadi patronnya ketika menjadi penguasa. Gerakan politik nilai mahasiwa bersifat independen, tidak mendukung calon penguasa dan tidak masuk ke dalam sistem pemerintahan atas nama pergerakan mahasiswa. Karena, jika hal tersebut dilakukan, fungsi controlnya hilang dan tugas utama mahasiswa, yaitu belajar, menjadi terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik nilai, gerakan ini lebih memainkan fungsinya sebagai kontrol sosial dan tekanan sosial (social pressure) terhadap kekuasaan. Kalaupun gerakan menukik menjadi tuntutan mundur penguasa, itu didasari standar nilai yang jelas bahwa pemerintah sudah tak mampu dan bukan dalam rangka menaikkan seseorang menjadi penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan politik kekuasaan biasanya tidak independen karena kepentingannya sempit: kekuasaan. Jika gerakan mahasiswa menjadi gerakan politik kekuasaan, maka bukan merupakan hal yang tabu untuk mengatasnamakan aktivis gerakan mahasiswa dalam rangka mendukung calon penguasa atau masuk ke dalam sistem, atau membela penguasa/partai yang merupakan patronnya.&lt;br /&gt;Idealnya gerakan mahasiswa selain sebagai gerakan moral, juga merupakan gerakan politik nilai dan bukan gerakan politik kekuasaan. Gerakan politik kekuasaan merupakan area concern partai politik dan bukan untuk gerakan mahasiswa. Jika ada aktivis mahasiswa yang bermain dalam area tersebut, seharusnya tidak mengatasnamakan gerakan mahasiswa, tapi lebih baik bergabung dalam partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan politik nilai memang bersentuhan dengan aktivitas-aktivitas politik, menggunakan berbagai sarana komunikasi politik, dan memiliki target-target politik, tapi bukan berkaitan dengan perebutan kekuasaan. Memang dengan demikian, gerakan mahasiswa akan tampak seperti koboi pahlawan yang datang ke kota untuk memberantas bandit-bandit dan penjahat. Setelah bandit-bandit itu kalah, Sang koboi kembali pulang ke padang rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa akan turun ketika menyaksikan rakyat terzalimi oleh bandit-bandit penguasa dan kembali ke kampus untuk belajar setelah rezim itu 'dihajar' dan diberi pelajaran. Lalu, bagaimana sesudah itu? Siapa yang akan memimpin kota sepeninggal sang koboi? Siapa yang akan memimpin negeri setelah sang diktator turun? Di sinilah rumitnya. Yang pasti, itu bukan tugas koboi muda karena ia masih harus belajar sehingga suatu saat nanti sampai masanya dia memimpin kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bukan tugas gerakan mahasiswa, ia masih punya tugas akademis dan pembelajaran kaderisasi kepemimpinan di kampus yang menjadikannya siap sebagai para pemimpin masyarakat yang memiliki konsistensi idealisme seperti ketika masih di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kekuasaan lebih merupakan tugas partai politik. Gerakan mahasiswa hanya bertanggung jawab mengontrol dan mengawal transisi dan perkembangan demokrasi supaya tetap pada relnya, terlepas dari siapa yang berkuasa. Dalam pelaksanaannya, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk berkoordinasi dengan partai politik, LSM dll ketika lembaga-lembaga tersebut menjunjung nilai-nilai moral universal seperti gerakan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, ada pertanyaan yang muncul dan menggelitik. Mungkinkah terjadi suatu kondisi luar biasa memaksa keterlibatan mahasiswa untuk terjun menjadi para pemimpin negara? Menurut hemat penulis mungkin-mungkin saja. Hanya saja, mereka harus siap dengan konsekuensi seperti yang disampaikan Imam Syafi'i : Apabila orang muda terlalu cepat tampil menjadi pemimpin, maka ia akan kehilangan banyak waktu untuk ilmu!. Meskipun demikian, bukan hal yang mustahil pula seorang muda mengakselerasi kematangannya melalui tradisi ilmiah dan pergolakan social yang kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Gerakan mahsiswa diperismpangan jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(berdasarkan hasil jajak pendapat Litbang Kompas).&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kekuatan politik, gerakan organisasi kemahasiswaan masih memiliki legitimasi moral yang kuat. Sayangnya, meskipun harapan tinggi masih diletakkan ke pundak mahasiswa, ada kecenderungan gerakan politik mahasiswa kian melempem dalam menanggapi berbagai permasalahan riil bangsa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Ketua MPR Amien Rais yang pernah menjadi ikon gerakan Reformasi 1998, dalam seminar mahasiswa akhir 2005, menilai, gerakan mahasiswa pascakejatuhan Soeharto telah berubah. Gerakan mahasiswa yang dulu bersemangat, kini seperti ”mati suri”. Aksi demonstrasi yang dilakukan untuk kepentingan rakyat tak banyak digelar, dan mahasiswa lebih banyak dibelenggu kemewahan hidup akibat kapitalisme (Kompas, 19-12-2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari benar atau tidaknya stetment Amien, pandangan yang sama agaknya kini juga dirasakan publik. Separuh bagian (50 persen) responden jajak pendapat menilai peranan mahasiswa dalam menyikapi berbagai kondisi bangsa semakin turun, meski 45,4 persen responden berpendapat sebaliknya. Kiprah gerakan politik mahasiswa yang sebelumnya bersemangat menyuarakan reformasi semakin sayup terdengar. Setelah rezim Soeharto tumbang, praktis tidak tampak lagi kebersamaan kaum muda memelihara hasil reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi yang dilakukan dalam menyikapi kebijakan pemerintah tidak lagi memiliki kekuatan signifikan. Seandainya ada, relatif dilakukan terpecah-pecah dan tidak ada gerakan terpadu. Dalam pandangan sebagian responden (43 persen), kondisi demikian digambarkan sebagai gerakan politik yang terkotak dalam politik aliran tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, berbagai kebijakan publik yang semestinya mendapat kontrol ketat bisa lolos dengan relatif mulus. Kenaikan harga BBM, kenaikan tunjangan anggota DPR, gagalnya usulan hak angket dan interpelasi DPR merupakan contoh mandulnya kontrol kebijakan lewat jalur birokrasi dan parlemen. Jalur kontrol kebijakan publik melalui birokrasi dan parlemen sulit diandalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan terhadap revitalisasi peranan mahasiswa melalui organisasi kemahasiswaan tercermin dari ketidakpuasan publik yang membesar terhadap kiprah mahasiswa. Demikian juga sikap kritis gerakan politik mahasiswa dalam menyikapi kinerja pemerintah, DPR, maupun lembaga penegak hukum, digugat sekitar seperempat bagian responden (22-27 persen). Besarnya proporsi sikap kurang puas responden dalam menilai gerakan organisasi mahasiswa, meski tidak dominan, bermakna signifikan mengingat citra dan apresiasi gerakan mahasiswa selama ini mendapat nilai positif yang tinggi dari masyarakat. Sebanyak 71,2 persen responden masih menilai citra organisasi mahasiswa baik dan 21 persen menilai buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, organisasi mahasiswa yang pada masa lalu telah turut memainkan peranan penting dalam sejarah perubahan kondisi bangsa ini, juga semakin tidak terdengar. Penilaian kepuasan terhadap Himpunan Mahasiswa Islam, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi,. Relatif besarnya jumlah responden yang mengatakan tidak tahu mengenai gerakan mereka, menunjukkan kian tak terdengarnya kiprah mereka di panggung sosial politik.Boleh jadi, faktor pengenalan terhadap organisasi mahasiswa turut memengaruhi penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dimungkiri, harapan yang ditumpukan kepada mahasiswa sebagai kekuatan pengubah dan pembaru tak lepas dari peranan mahasiswa dalam setiap momen penting bangsa ini. Sejak masa kemerdekaan, Orde Lama hingga Reformasi, gerakan mahasiswa senantiasa memberi ide persatuan nasional, sikap kritis terhadap kekuasaan yang menindas, dan keberpihakan yang tegas kepada kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi internal mahasiswa, menurunnya persatuan gerakan mahasiswa (dan pemuda) setelah tumbangnya Orde Baru membuktikan sulitnya institusi kepemudaan dan mahasiswa bersatu dalam menghadapi persoalan masyarakat yang lebih riil. Penonjolan kepentingan dan visi kelompok senantiasa muncul bagaikan duri dalam daging dari sejarah pergerakan politik mahasiswa. Demikian juga potret saat ini, di tengah ”mati suri” aksi mahasiswa, sebagian responden (40,2 persen) menilai gerakan mahasiswa masih didominasi kepentingan dan visi kelompok.&lt;br /&gt;Persoalan berikutnya terkait kompetensi intelektual mahasiswa sebagai kelompok yang masih harus menekuni studi keilmuannya dan mengejar prestasi. Sejauh ini peranan organisasi mahasiswa dinilai kurang menyentuh dimensi intelektualitas ketimbang dimensi sosial dan politik. Hanya 52,8 persen responden yang memberi apresiasi terhadap peran organisasi mahasiswa mengembangkan intelektualitas dibandingkan peran dalam sosial kemasyarakatan (61,2 persen) dan peran dalam gerakan politik (64 persen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi menjadi berarti, karena pada gilirannya mahasiswa dituntut mampu bersaing dalam pasar kerja dan hidup mandiri. Opini dari jajak pendapat September 2003 memperlihatkan pesimisme publik memandang tingkat kompetensi dan kemandirian mahasiswa masa kini. Lebih banyak responden yang sependapat bahwa mahasiswa kurang mandiri (48 persen, dibanding 44 persen yang mengatakan sudah mandiri); tidak bisa bersaing dengan mahasiswa luar negeri (48 persen dibanding 48 persen yang berpendapat sebaliknya), dan akhirnya tidak bisa turut menciptakan lapangan kerja (50 persen dibanding 46 persen yang mengatakan sebaliknya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimnya kompetensi intelektual diperparah dengan sikap sebagian mahasiswa yang terlibat dalam tawuran di kampus, penyalahgunaan narkotika, maupun gaya hidup asosial dan hura-hura.&lt;br /&gt;Kemurnian gerakan mahasiswa sering menjadi pertanyaan, apakah aktivitas di dalam gerakan organisasi mahasiswa murni didasarkan keinginan melakukan perubahan kondisi yang lebih baik, ataukah sekadar sebagai batu loncatan meraih kekuasaan atau kedekatan politik dengan pusat kekuasaan. Fenomena aktivis mahasiswa ’98 yang menjadi caleg pada Pemilu 2004 menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi publik percaya mereka memiliki idealisme dan komitmen membela rakyat, sehingga mampu memperbaiki sistem dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di sisi lain, kondisi tersebut rawan godaan dan iming-iming materi yang mengaburkan komitmen awal mereka. Seperti sinyalemen Amien Rais, gerakan mahasiswa masa kini pasif, karena manusianya sedang dibelenggu kenyamanan hidup. (Litbang Kompas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GERAKAN POLITIK: sebuah pilihan alternative atau pilihan utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Salah satu jalan dan bukan satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, seperti ada penilaian lebih (high quality) kepada mahasiswa yang aktif pada kegiatan-kegiatan politik, baik di dalam (intra) maupun di luar (ekstra) kampus. Bahkan, gelar aktivis tereduksi dengan diidentikkan kepada mereka yang bersedia jatuh bangun dalam aktivitas politik. Dari beberapa segi, penilaian lebih itu wajar, terutama jika didasarkan adanya posisi atau jabatan strategis dan populis yang diberikan sebagai pahalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mahasiswa dituntut untuk mengekspresikan diri semaksimal mereka mampu dengan meninggalkan gaya ASB (“Asala Bapak senang”) atau mengekor di belakang orang lain. Sudah bukan masanya lagi mahasiswa hanya datang ke kampus, duduk mendengarkan dosen berbicara, mendatangi perpustakaan sekedar mencari bahan paper yang tiap hari harus dikumpul untuk kemudian pulang ke kos, berleha-leha, main games, nonton TV atau malah sekedar pacaran sana sini. Sungguh itu sudah tidak lagi pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan saat ini mahasiswa harus belajar secara komprehensif, mencoba menelaah dan menganalisa setiap kejadian yang mereka hadapi atau bahkan suatu kali mereka perlu untuk membuat terobosan isu demi menembut otoritas kaku yang bercokol seolah tak terkalahkan. Gerakan-gerakan yang dilakuakn oleh mahasiswa adalah ladang pembelajaran meski mata kuliahnya tidak terhitung sekian SKS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun tidak bisa dipungkiri mahasiswa harus belajar berpolitik karena kehidupannya pasca kampus adalah kehidupan penuh politik, meski mereka bermain di dunia bisnis sekalipun. Phobi terhadap dunia politik sungguh bukan merupakan satu hal yang menguntungkan karena hal itu hanya akan semakin menenggelamkan mahasiswa itu sendiri pada keterpurukan berkepanjangan. mahasiswa tersebut akan mendapati dirinya sebagai kelompok yang merugi di kemudian hari. Secara empiris bisa diambil bukti output atau hasil dari mahaisiswa yang aktif dalam pembelajaran politik dengan mahasiswa yang hanya study oriented selama masa kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, disisi lain ada alasan tersendiri untuk tidak terjun pada politik. Jangan sampai tugas utama mahasiswa sebagai akademisi dan memegang amanah orang tuanya terbengkalai karena aktivitas politik. Benar bahwa poitik merupakan proses yang memberikan dinamisasi karakter, kedewasaan, wacana, dan intelektualitas pada mahasiswa. Juga benar bahwa politik adalah wilyah yang serius, rumit, sekaligus panas, sehingga membutuhkan individu-individu yang berkualitas dan tahan banting. Namun, yang lebih benar, aktivitas politik bukanlah satu-satunya pilihan bagi mahasiswa untuk menempa diri dalam mendapatkan prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak aktivitas lain yang dapat dijadikan sarana berekspresi dan tetap memberikan nilai lebih kepada mahasiswa. Jika didasarkan pada beragamnya minat, bakat, dan latar belakang disiplin ilmu di perguruan tinggi, berpolitik tidak lebih merupakan satu pilihan saja. Mahasiswa juga dapat menjalani aktivitas-aktivitas lain sebagai pilihan untuk berekspresi sesuai minat, bakat, dan latar disiplin ilmu masing-masing. Bahkan, melihat kondisi objektif sekarang ini, aktivitas politik bisa jadi merupakan pilihan yang dapat dikesampingkan, kalau bukan malah harus ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa alasan bisa dikemukakan untuk mendasarinya. Pertama, aktivitas politik di tingkat mahasiswa umumnya hanya menjadi ajang mencari patron politik pada elite kekuasaan. Gerakan politik mahasiswa yang ideal didasari tanggung jawab moral dan independen, beradaptasi dengan kepentingan elite yang menjadi patronnya. Akibatnya, gerakan politik mahasiswa merapat dengan elite dan tidak lagi mengedepankan kepentingan dan aspirasi masyarakat.&lt;br /&gt;Kedua, aktivitas politik juga membutuhkan pengorbanan dan ongkos mahal (high cost). Pengorbanan dan ongkos yang mahal itu mutlak diperlukan untuk mobilitas politik. Hukum politik menuntut mahasiswa terjun total. Sebab, bertindak setengah-setengah dalam aktivitas politik hanya akan menempatkan seseorang sebagai -meminjam istilahnya Antonio Gramsci- cacing-cacing tanah yang tidak akan pernah tercatat dalam sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam dalam totalitas itulah mahasiswa harus rela berkorban dan sudi mengeluarkan ongkos yang mahal: kuliah acap terganggu sehingga studi menjadi lama dan tentu saja biayanya akan bertambah. Meskipun dengan aktivitas politik manfaat-manfaat pragmatis bisa diperoleh, itu baru didapat setelah mahasiswa lebih dulu berinvestasi dengan memberikan pengorbanannya. Suatu kondisi yang sulit dihadapi dan ditanggung mahasiswa, khususnya yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentang sebuah pilihan, semua pilihan mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Terserah akan menjadi mahasiswa akademis saja tanpa terjun pada politk, atau sebaliknya. Semuanya mempunyai resiko tersendiri. Tapi yang penulis tekankan kita harus tetap sadar pada tugas utama seorang mahasiswa yaitu belajar sebab itulah amanah yang pertama dipikul oleh seorang mahasiswa dari orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, modal dasar yang harus dipegang dalam dasar gerakan mahasiswa harus bertumpu pada yaitu: yang pertama, Vision, yakni membangun tradisi intelektual dan wacana pemikiran melalui intelectual enlightement (pencerahan intelektual) dan yang kedua, intelectual enrichment (pengkayaan intelektual). Strategi pendekatan yang digunakan untuk pemaksimalan potensi kesadaran dan penyadaran individu yang memungkinkan terciptanya komunitas ilmiah.&lt;br /&gt;Yang ketiga, Value hal yang sangat penting, value ialah usaha untuk mempertajam hati nurani melalui penanaman nilai-nilai moral agama sehingga terbangun pemikiran dan konseptual yang mendapatkan pembenaran dari Al Qur’an. Selain value juga yang tak kalah penting adalah Courage atau keberanian dalam melakukan aktualisasi program, misalnya dalam melakukan advokasi terhadap permasalahan masyarakat dan keberpihakan ikatan dalam pemberdayaan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jangan pernah dilupakan adalah tugas utama dan tugas imti seorang mahasiswa. Tugas utama adalah sebagai akademisi; belajar. Sedangkan tugas inti Mahasiswa, bagaimana mengoptimalkan keseluruhan peran dan fungsi sebagai mahasiswa. Fungsi yang dimaksud adalah, fungsi cadangan masa depan (iron stock), fungsi agen perubah (agent of change), fungsi agen pengontrol (agent of change). Kata kuncinya adalah menjadi pembelajar sejati, sehingga mahasiswa mampu memiliki kedewasaan yang jauh meninggalkan umurnya dan pandangan-pandangan yang jauh meninggalkan zamannya. Agar mahasiswa senantiasa siap memenuhi panggilan kehidupan untuk menoreh sejarah kepahlawanan sebagai pemimpin sejati! Semoga saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohu muwafiq ila aqwaami toriq. Allahu Akbar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUSTAKA ACUAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Al-Quran Nurkarim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Covey, Sean, “The 7 Habits of Highly Effective Teens”, Jakarta: Binarupa Aksara, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Hakim, Masykur,Ph.d. “Pergolakan Reformasi dan strategi HMI” Jakarta: Al-ghazaly, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Arbi Sanit, Pergolakan Melawan Kekuasaan Gerakan Mahasiswa Antara Aksi Moral dan Politik, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Djibran, Fahd. “Being Superstar”, Bandung : PT Mizan Bunaya Kreativa, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Anwar, Yozar. “Angkatan 66; Subuah Catatan Haraian Mahasiswa”, Jakarta PT Djaya Pirusa, 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Feith, Herbert &amp;amp; Lance Castle, 1996.“Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965”. Jakarta:LP3ES.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Cahyono,Imam.¬¬¬¬¬ “Melacak “Akar” Ideologi Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Harian Kompas. Edisi 10 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Harian Republika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.Harian Pikran Rakyat. Suplemen Kampus, Edisi 6 April 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.--------------------------------------------------, Edisi 18 Mei 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.--------------------------------------------------, Edisi 20 Juli 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.--------------------------------------------------, Edisi 10 Agustus 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.--------------------------------------------------, Edisi 14 September 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.http://www.republika.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.http://www.kammi.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.http://www.solid.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.http://oki-sukirman.blogpot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Oki Sukirman Created&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30327082-593485170307243971?l=oki-sukirman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/feeds/593485170307243971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30327082&amp;postID=593485170307243971' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/593485170307243971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30327082/posts/default/593485170307243971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oki-sukirman.blogspot.com/2007/03/mahasiswa-berpolitik-mengapa-tidak-quo.html' title='“Mahasiswa berpolitik, mengapa tidak?  -Quo vadis mahasiswa, antara peran dan fungsi-'/><author><name>Okie Shcatzie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wm0fOW2wgoI/TJpW5pWh14I/AAAAAAAAAFI/A0OXHBV4-es/S220/oki.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30327082.post-6089198638389300964</id><published>2007-02-27T15:47:00.001+08:00</published><updated>2007-02-27T15:50:58.601+08:00</updated><title type='text'>Rokok berbahaya? Antara realita dan fakta</title><content type='html'>&lt;strong&gt;1. Pendahuluan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat ini rokok telah menjadi fenomena yang sangat menarik, perang terhadap rokok pun telah ditabuh tidak saja di indonesia bahkan dunia pun telah menjadi isu utama “perang dingin” ini. Saat orang bisa merokok di mana saja dengan bebasnya, saat rokok bisa didapatkan rokok dengan mudah dan murah, saat itu pula mereka –perokok- sedang bergulat dalam sebuah aktifitas perusak / dzolim (disturber) bagi perokok yang aktif, secara tidak sadar berarti ia telah merusak dirinya sendiri (dholimun linafsih) dan juga merusak orang lain (dzolimun ligoirih).&lt;br /&gt;Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization –WHO) wabah tembakau atau rokok telah meracuni dan membunuh 4 juta penduduk dunia setiap tahunnya, selain itu merokok bertanggung jawab terhadap kematian satu dari lima orang. Oleh sebabnya rokok dinyatakan berbahaya bagi siapa pun, di manapun dan kapanpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya walaupun telah dinyatakan berbahaya namun kuantitas perokok tidak kunjung berkurang bahkan cenderung bertambah. Berdasarkan data Susenas 2001, Pravalensi perokok pada laki-laki se
